Kenapa Dilarang Berputus Asa


DesperateSering kita mendengar motivator yang memberikan kata-kata motivasi agar kita selalu senantiasa semangat dan berjuang dalam menghadapi hidup, apapun ujiannya, betapapun sulitnya dan jangan pernah menyerah / berputus asa, sebab Tuhan tidak diam, dan bla bla bla… (ini bisa lebih panjang dari tulisan saya kalau diteruskan).

Dalam Al-Qur’an, Tuhan juga menyebutkan, agar tidak berputus asa dari rahmatNya, apapun masalahnya dan betapapun beratnya itu, itu termasuk salah satu dari dosa besar (wew, dosa besar loh ini!!!). Dan banyak juga hadits serta kisah para arif mengenai hal ini. Pun demikian dengan saya, berfikir, mengapa sampai ada orang yang bisa berputus asa, padahal ada jutaan nikmat lainnya yang bisa dia nikmati tanpa satu hal yang dianggapnya akan mengakhiri hidupnya bila kehilangan hal tersebut.

Ya setidaknya begitulah pemikiran “normal” pada umumnya. Hingga suatu saat, suatu kejadian memberiku perspektif lain soal berputus asa tersebut. Kau tidak akan pernah benar-benar memahami sesuatu, hingga kau mengalaminya sendiri hal tersebut, dan itu melibatkan seluruh aspek dalam hidupmu, dari situlah kau akan banyak belajar (quote by me).

Putus asa dan pasrah, adalah 2 hal yang sangat berbeda namun tipis, dekat juga korelasi istilahnya dengan “masa bodoh” alias tak perduli.

Baca entri selengkapnya »

Setiap Makhluk Pasti Mempunyai Masalahnya Sendiri


Istilah populernya, “di atas langit masih ada langit” atau pepatah bilang, “rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”, jadi nggak usah iri sama yang lainnya. Ya, kita takkan pernah merasa puas dengan segala atribut dunia ini. Dunia seisinya takkan mampu memuaskan hasrat & keinginan kita. Maklum, karena kita mewarisi sifat Tuhan, khususnya sifat berkehendak. Bayangkan, dengan sifat itu, kita diberi dunia & segala isinya yang serba terbatas ini, jelas takkan pernah bisa terpuaskan.

Penyakit iri akan selalu menghinggapi manusia dengan model seperti ini. Belum lagi penyakit hati lainnya.

Masih ingatkah, ketika kita mengalami masa-masa yang sulit, ngeliat orang tertawa aja, rasanya perih. Dalam hati, kita menganggap seakan-akan mereka tak punya masalah apapun. Astaghfirullah, kalo sudah iri gitu, bawa’anya berfikiran buruk aja alias su’udzon. Tapi ingatlah, hati yang terluka nan pedih saja bisa menyunggingkan senyum di wajahnya. Berarti, orang yang bisa tertawa bukan berarti tak punya masalah dalam hidupnya (bukan hanya orang gila loh,,,). Saat itulah, kita tersadar, tenyata rumput tetangga memang lebih hijau.

Baca entri selengkapnya »

%d blogger menyukai ini: