Si Tangan Kiri, Pengganti Tangan Kanan yang Buntung


Tangan Palsu

Sudah lama tidak penah menuangkan isi pikiran ke dalam tulisan, kelu tangan ini rasanya, meskipun hampir setiap hari juga mengetik soal kerjaan di kantor.

Judulnya pun belum terfikirkan, tapi kontennya sudah sangat menyebar di otak, mengantri untuk dituangkan dalam ketukan tuts-tuts keyboard.

Masalah politik yang menyebar masif akhir-akhir ini menggelitik naluri dan logika saya untuk mengadunya dengan prinsip yang saya pegang dalam konteks hablumminannas & hablumminallah.

Entah dari mana saya harus memulainya, semua kata-kata berkerumun di benak saya minta untuk dikeluarkan satu per satu.

Saya Muslim, namun awam terhadap agama, awam dibandingkan dengan ulama-ulama di sana, ulama di dalam ponpes, ulama di medsos, ulama di pemerintahan, ulama di televisi dan semua sebutan ulama-ulama yang mahfum disematkan kepada siapapun yang pantas disebut oleh siapapun. Namun apa yang saya tahu tentang sejelas-jelasnya perintah Tuhan adalah mengenai rukun Iman & rukun Islam. Al-Qur’an bagi saya adalah kitab maha mewah yang sampai kapanpun mungkin takkan penah sanggup untuk saya pahami seluruhnya dengan golongan otak berkasta sudra ini, meskipun dengan membaca bermacam-macam tafsir dengan dibantu ratusan ribu hadits beserta sejarahnya, biarlah Dia saja yang mengetahui sesungguhnya tafsir dan maksud dari apa yang ditulis-Nya dalam kitab maha dahsyat tersebut.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Andaikan Presidenku Adalah …


president

The President

Entah harus memulai dari mana untuk menulis postingan ini, pikiran saya penuh dengan hal-hal yang berbau politik serta anggapan skeptis mengenai segala permasalahan di negeri ini. Ini kesekian kalinya saya menulis mengenai keprihatinan saya akan tumbuh kembang negara saat ini. Saya bukan ahli politik, juga bukan mahasiswa jurusan ilmu sosial dan politik, tidak tertarik akan politik sama sekali bahkan bisa dibilang saya benci politik dan saya sebenarnya tidak suka membicarakan mengenai politik. Tapi entahlah, setiap kali saya menyalakan tv, berita politik beserta segudang anak turunannya selalu menghiasi layar kaca, dan saya selalu kebagian melihatnya, padahal tak ada niatan sama sekali untuk menyimak acara tersebut. Begitupun mengenai media massa dan internet, semuanya membahas hal yang sama. Terus menerus begitu selama beberapa hari, sampai-sampai di kepala saya berputar-putar kata-kata mengenai politik yang tiada habisnya, padahal saya sendiri punya masalah pribadi yang tak kalah bikin pusingnya.

Kenapa saya ikut pusing dengan masalah ini? Bukan karena sok-sok-an mau ikutan sebagai pemula dalam kancah politik (meskipun sebagai komentator amatir belaka). Toh juga tak banyak hal yang pernah saya lakukan untuk memajukan/menjadikan negeri ini lebih baik. Saya juga bukan warga negara yang terlalu taat hukum. Saya juga tak ikut andil dalam melestarikan kebudayaan negeri ini. Bahkan banyak hal yang masuk kategori “sikap patriotisme” yang tidak saya lakukan. Intinya, saya mungkin bukanlah seorang warga negara Indonesia yang baik. Lalu kenapa? Karena saya cinta negeri ini, saya hidup disini, dan saya berharap agar suatu saat nanti negeri ini bisa mencapai taraf kehidupan yang lebih baik dari segala sisi. Entah itu aturan hukumnya, para pejabat/penguasa negara, para penegak hukum, aparatur negara, pengusahanya, hingga rakyat biasa, dan semuanya bisa benar-benar hidup dalam kemakmuran dan kenyamanan, adil sentosa dalam kebersamaan. Bukankah hidup indah jika demikian ??? (bengong sampek ngiler, ckckckck…).

Baca entri selengkapnya »

%d blogger menyukai ini: