Si Tangan Kiri, Pengganti Tangan Kanan yang Buntung


Tangan Palsu

Sudah lama tidak penah menuangkan isi pikiran ke dalam tulisan, kelu tangan ini rasanya, meskipun hampir setiap hari juga mengetik soal kerjaan di kantor.

Judulnya pun belum terfikirkan, tapi kontennya sudah sangat menyebar di otak, mengantri untuk dituangkan dalam ketukan tuts-tuts keyboard.

Masalah politik yang menyebar masif akhir-akhir ini menggelitik naluri dan logika saya untuk mengadunya dengan prinsip yang saya pegang dalam konteks hablumminannas & hablumminallah.

Entah dari mana saya harus memulainya, semua kata-kata berkerumun di benak saya minta untuk dikeluarkan satu per satu.

Saya Muslim, namun awam terhadap agama, awam dibandingkan dengan ulama-ulama di sana, ulama di dalam ponpes, ulama di medsos, ulama di pemerintahan, ulama di televisi dan semua sebutan ulama-ulama yang mahfum disematkan kepada siapapun yang pantas disebut oleh siapapun. Namun apa yang saya tahu tentang sejelas-jelasnya perintah Tuhan adalah mengenai rukun Iman & rukun Islam. Al-Qur’an bagi saya adalah kitab maha mewah yang sampai kapanpun mungkin takkan penah sanggup untuk saya pahami seluruhnya dengan golongan otak berkasta sudra ini, meskipun dengan membaca bermacam-macam tafsir dengan dibantu ratusan ribu hadits beserta sejarahnya, biarlah Dia saja yang mengetahui sesungguhnya tafsir dan maksud dari apa yang ditulis-Nya dalam kitab maha dahsyat tersebut.

Baca entri selengkapnya »

%d blogger menyukai ini: