Menyusuri Pantai Selatan Pacitan


pohon kelapa pacitan

Pohon Kelapa di Pesisir Pacitan

Saking lamanya saya tidak pernah menulis, jadi lupa harus mulai dari mana. Judulnya sih jelas, tapi ceritanya tak sejelas judulnya (alias GJ :D).

Dimulai dari planning yang sudah dirancang jauh-jauh hari, yaitu sebulan sebelumnya. Layaknya akan melakukan perjalanan agung, rencana yang dibuatpun menjadi berlapis-lapis (plan a, plan b, plan c, dst), dengan harapan; apapun yang terjadi, tetap harus bisa berangkat, bagaimanapun caranya (lebay bin PD mode on). Efek dari didikan di tempat kerja, harus bisa buat berbagai plan, supaya sistem bisa terus berjalan, no matter what happen, hehe…

Dari semua plan yang ada, tidak ada yang keluar dari aturan : “budget mini tapi hasil maksi, semuanya bisa menikmati, selamat, aman & nyaman”. Sudah cukup membahas tentang planing, sebeneranya sih acaranya simple. Yang bikin ribet adalah kisah yang mengawalinya.

Pertama. Pekerjaan kami dibidang jasa keamanan, menuntut setiap staf harus selalu standby 24 jam sehari, 7 hari seminggu, nonstop, dimanapun berada. Jadi ketika ada planing untuk rekreasi yang memakan waktu lebih dari 1 hari, maka itu menjadi tantangan dan kekhawatiran tersendiri. Untungnya, ada orang-orang yang mau, bersedia, rela dan ikhlas untuk standby mengawasi lapangan selama 24 penuh selama kami pergi (kejamnya, memang terlihat kejam, tapi mereka tidak ikut karena permintaan mereka sendiri, kenapa? Bokek katanya, haha…). Alhamdulillah, Allah selalu kasih jalan.

Kedua. Karena tuntutan pekerjaan pula, setiap mau ada proyek baru, hampir dapat dipastikan selalu dimulai di awal / akhir / tengah bulan. Sedangkan acara ini direncanakan diadakan pada akhir bulan, dimana diambil pas momen tanggal merah, supaya agak lama, karena banyaknya tempat wisata yang ingin kami kunjungi. Jadi, tidak ada yang bisa menjamin, bahwa di akhir bulan yang kami planning, tidak ada proyek baru yang akan mulai. Meskipun ada beberapa kendala lain yang mewarnai sepanjang sebulan itu. Tapi alhamdulillah, Allah kasih jalan lagi, tidak ada proyek baru yang akan mulai dijalankan di tanggal itu.

Ketiga. Masih seputar pekerjaan. Ada skenario khusus yang harus disusun, karena status rivalitas dari 2 orang petinggi di kantor. Si B gak mau ikut, kalau si A ikut. Padahal si A mau-mau saja ikut, terlepas dari si B mau ikut / tidak. Tapi saya dan kami semua (all staff) ingin agar keduanya bisa ikut, karena dalam sejarah mereka, belom pernah mereka ikut bersama dalam acara rekreasi yang diadakan kantor. Dan si A-pun merestui rencana ini. Alhasil, plot cerita ala sinetron pun saya susun, dengan alur bahwa si A seolah-olah tidak ikut dan si B tidak mengetahuinya hingga kami tiba di tujuan. Kan lumayan, Surabaya – Pacitan jauh loh, kan gak mungkin si B tiba-tiba langsung balik ke Surabaya ketika mengetahui bahwa si A selama ini sudah ikut. Awalnya rencana ini kacau balau, karena ada masalah di proyek yang harus ditangani segera. Tapi lagi-lagi, alhamdulillah, Allah kasih jalan. Meskipun banyak yang kaget dan mencurigai saya sebagai biang kerok alias sutradaranya (bodo amat, yang penting bisa berangkat semua, hehe…), tapi nasi sudah menjadi bubur, pilihannya cuman jadi bubur ayam berangkat / berangkat. Jadi, si A di mobil kantor, dan si B di mobil sewaan, akur kan?? (ya iyalah, kan beda mobil).

Oke, sudah cukup sekilas tentang rivalitas di kantor, kembali ke inti cerita. Peserta berjumlah 11 orang, semua orang kantor, tua muda, cowok cewek, staff dan manager, tanpa supir (alias harus ngejoki sendiri, tapi gantian). Transportasi kami menggunakan 2 unit mobil, 1 mobil kantor (harus ijin direksi dulu, ribet, tapi alhamdulillah diijinkan), 1 mobil nyewa (murmer, karena punya teman sendiri, hehe). Mobil kantor berisi 6 penumpang + berbagai camilan (saya di mobil ini). Mobil sewaan berisi 5 penumpang, dan bagian belakang penuh berisi barang bawaan semua peserta.

Berangkat hari Kamis malam tanggal 30 Januari 2014 sekitar pukul 22.00 malam, bertolak dari Surabaya, tepatnya dari kantor (karena ada incident urgent di proyek, jadi keberangkatan tertunda 3 jam dari rencana awal). Padahal rencana awalnya saya targetkan berangkat paling lambat jam 7 malam, dengan syarat semua sudah harus makan malam (atau dibontot), jadi tidak ada acara berhenti di jalan untuk makan malam, karena kami harus mengejar waktu sesuai schedule, sebab jarak yang cukup jauh serta banyaknya destinasi utama yang harus dikunjungi.

Tidak cukup dengan ujian di awal kisah, kali ini ujian berikutnya sudah menanti. Tak cukup dengan waktu keberangkatan yang sangat mundur,  keluar dari Tol SIER, memasuki wilayah kabupaten Mojokerto, kemacetan panjang sudah menanti. Padahal kami berangkat jam 10an malam, dan macetnya seperti baru saja dimulai. Sepanjang bypass Mojokerto, sepanjang itulah kondisinya macet padat merambat. Yah, di jalan, kami baru sadar, bahwa memang hari kecepit libur panjang (seperti tanggal keberangkatan ini), kemacetan panjang seperti ini hampir selalu dapat dipastikan terjadi, karena arus mudik musim liburan. Dan kemacetan ini pun harus ditempuh dalam waktu ± 2,5 jam, padahal waktu normalnya hanya 1 jam saja.

Kalau perjalanan panjang begini, navigator (yang duduk disebelah supir) harus wajib terus membuka mata dengan sadar untuk membantu sang supir melihat kondisi jalan dan situasi di sekeliling jalan. Meskipun penumpang lain dengan santainya bisa tidur sepuasnya, termasuk si sopir pengganti. Biasanya saya yang paling pelor (nempel molor, begitu mobil jalan, langsung deh merem). Tapi kali ini saya jadi navigatornya, jadi harus tahan melek menemani sang supir. Untungnya banyak camilan dan minuman yang menemani, kalau soal yang ini, si bos emang numero uno deh, hehe…

Selepas berjuang dari kemacetan di Mojokerto, masih ada kemacetan lain yang menunggu. Hampir memasuki wilayah Saradan, ada kecelakaan lalu lintas yang memaksa kendaraan harus melewati jalur itu 1 arah secara bergantian. Dan parahnya, lalu lintas harus dihentikan sama sekali, alias mobil tidak bisa berjalan sedikitpun, hingga area kecelakaan disterilkan oleh Polisi setempat. Dan posisi waktu itu hampir jam 2 malam. Bayangkan, dari jam 10 malam sampai jam 2 dini hari, masih sampai Saradan, seharusnya dengan waktu tempuh hanya 4 jam sudah bisa tembus ke Magetan. Padahal Saradan ke Magetan jarak tempuhnya masih sekitar 2 jam lagi, itupun kalau kondisi arus lalin normal alias lancar.

Beberapa kali berhenti, untuk ke toilet, isi bahan bakar, atau sekedar cuci muka, bahkan hingga singgah ke masjid besar di pinggir jalan untuk menunaikan sholat subuh (sekitar jam 4.00 – 4.30 wib).

Matahari sudah mulai menyingsing, jalanan begitu lengang dan si supir masih kekeuh gak mau diganti. Bukan karena dia pimpinan yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan semua kru alias anak buahnya, tetapi dia gak yakin dengan kemampuan menyetir si supir cadangan, karena itu berarti juga akan mencelakakan dirinya. Haha… nggak-nggak pak, bercanda kok, saya tau kok, situ sayang sama semua anak buahnya, hehe…

O iya, dari tadi saya hanya cerita dari sisi mobil yang saya tunggangi. Bagaimana dengan mobil sewaan? Mobil sewaan disupiri staf setengah gila, gila cara nyetirnya. Kami hampir selalu selisih lebih dari setengah jam. Bahkan mereka sempat menunggu di suatu titik selama hampir 1 jam, dan kamipun belum bisa mengejar, hingga akhirnya ditinggal lagi. Dari awal perjalanan kami sudah terpisah, dan baru bertemu sekitar pukul 6 pagi di perbatasan kabupaten Pacitan. Yah, pukul 6 pagi baru sampai Kabupaten Pacitan, padahal sudah menempuh waktu 8 jam lamanya. Parahnya lagi, rumah persinggahan masih jauh, masih beberapa jam lagi, dan harus melewati kelokan jalan pegunungan yang hingga hampir memasuki perbatasan akhir Pacitan. Sampai di sini, si supir utama mau diganti si supir cadangan, sayapun pindah ke belakang, digantikan navigator lainnya, saya berharap bisa tidur sejenak.

Pukul 8 pagi, mobil kami baru bisa berjalan beriringan, dan mulai memasuki kawasan pegunungan. Jalannya yang meliuk-liuk dengan warna hijau di kiri kanan, ada sungai mengalir, terasering, jurang dan tebing. Sejuk memang, tapi bikin agak pusing, bukan karena mabuk darat / masuk angin, bukan juga karena jalannya yang berkelok, tapi karena lapar mulai mendera. Lapar yang tak lagi bisa dibendung dengan camilan yang sudah tinggal sisa-sisa semalam alias harus segera diisi makanan berat.

Di sela-sela perjalanan di kawasan pegunungan ini, tak lupa kami menyempatkan diri untuk berhenti sejenak, apalagi kalau bukan untuk foto-foto. Pas di tengah jembatan penyebrangan penghubung antar desa, seberangnya persawahan, bawahnya sungai yang mengalir lengkap dengan bebatuan gunung yang besar-besar, kiri kanan pepohonan rindang, jauh mata memandang ada tampak gunung. Gunung apa itu? Saya juga gak paham, hehe… Setengah jam kami berhenti, saatnya melanjutkan perjalanan. Saya yang berharap duduk di belakang supaya bisa tidur, ini malah bikin mata melotot tajam, bukan karena lapar lagi, tapi karena supirnya nyupir model supir truk, hadeeeh… Terabas sana terabas sini, bikin tegang dan mual.

Pukul 10 pagi pas, hari Jum’at, 31 Januari 2014, kami tiba di rumah singgah setelah menempuh perjalanan super selama 12 jam, dimana normalnya jarak antara Surabaya Pacitan dapat ditempuh dalam waktu 6 – 7 jam saja. Sejuknya kawasan pedesaan, ternyata tak mengalihkan perhatian bunyi orkes di perut kami. Untung saja, santapan sudah tersedia di meja. 15 menit setelah bongkar muatan, kami semuapun makan bersama. Menunya soto ayam ala Pacitan. Entah karena memang benar-benar enak (karena rasanya yang beda dari soto biasanya), atau memang karena kami kelaparan, jadi semuanya makan dengan lahapnya + porsi jumbo (karena dirapel antara sarapan dan makan siang, haha). Disinilah, suasana tidak hanya mulai mencair tapi juga meleleh, kami membaur, meninggalkan jabatan masing-masing, melupakan beban pekerjaan dan jobdesc yang biasanya selalu mengikuti kami selama 24 jam sehari. Di tambah lagi sinyal seluler yang tidak terlalu bersahabat, semakin menambah rasa lupa kami akan penatnya soal pekerjaan. Meskipun gap antara atasan dan bawahan secara tak resmi dilepaskan, tapi rasa hormat dan unggah ungguh orang Jawa alias sopan santun, tetap dipertahankan. Makan bersama, dengan gayanya masing-masing, ada yang di kursi, di kasur, di depan pintu, klesetan di bawah, macam-macam lah, diselingi dengan candaan ringan, aah indahnya.

Selepas makan, sedikit bincang-bincangpun digelar. Sembari menunggu antrian kamar mandi, kami pun membicarakan rute keberangkatan selanjutnya. Bayangkan, hari itu juga kami akan langsung meluncur ke destinasi, harus dilakukan memang, untuk mengejar waktu yang semakin mepet. Ketika yang cowok pada berangkat jumatan, kami yang cewek mencoba merebahkan badan, tidur sejenak. Rasa-rasanya tidur beberapa menit tidak bisa membayar lelahnya mata yang begadang semalaman. Akhirnya, untuk mempertahankan stamina, plan dopping pun harus dilakukan. Minum multivitamin & supplemen maksudnya, bukan nge-drugs minum amfetamin. Setelah sekian menit bergulung-gulung ria di kasur, meluruskan punggung, akhirnya perjalanan pun dilanjutkan.

 

HARI PERTAMA

Tujuan pertama, pantai apa ya saya lupa namanya, saya jokinya (dan para penumpangpun mulai beristighfar sepanjang perjalanan, haha), berangkat sekitar pukul 13.30 wib. Jalanan yang yang ditempuh memang aduhai, bekelok-kelok naik turun, lumayan sempit meskipun masih bisa dilalui 2 mobil sekaligus, tapi harus super pelan-pelan kalau sisipan. Sebenarnya petunjuk arahnya cukup jelas, ada papan arah tertera di setiap persimpangan jalan besar. Cuman memang kalau orang baru pertama kali mengunjungi suatu tempat, bingung pasti melanda, ya wajar lah.

Bayangan pantai yang biru jernih kehijuan, deburan ombak, pasir pantai, pepohonan di tepinya, hembusan anginnya, serta serunya hunting soal pemandangan dan candid kelakuan orang-orang setres yang sedang melepas penat, menjadi suntikan semangat tersendiri. Belum lagi ramainya gurauan para penumpang, menambah menarik kisah perjalanan ini. Dan alhamdulillah gak jadi ndoping, hehe. Rasa senang dan exciting menjadi obat tersendiri, dengan sendirinya membuat kami merasa menjadi bersemangat. Kami?? Ya paling tidak itulah yang saya rasakan.

Setelah menempuh ± 2 jam perjalanan, akhirnya sampailah kami di pantai tersebut. Dengan cuaca yang cukup berawan, membuat main di pantai semakin seru, karena biasanya pantai di Indonesia identik dengan panas yang cukup menyengat. Pantai entah apa namanya ini, buliran pasirnya seperti butiran merica, putih kecoklatan, ombaknya lumayan besar, bersih, jernih, sedikit berbuih. Ada beberapa lempengan batuan pipih hitam besar berserakan di bibir pantai, jadi tidak semuanya murni pasir / serta merta karang. Anehnya, bayangan indahnya pantai yang eksotis mendadak hilang, berganti dengan pemandangan keceriaan teman-teman, yang ternyata jauh lebih indah dari pemandangan pantai itu sendiri, sampai saya sendiri lupa gimana bentuk pantainya kalau tidak melihat dari hasil jepretan foto yang ada.

Ini penampakan pantainya.

pacitan 3

Salah 1 Pantai di Pacitan, Lupa Namanya😀

Baru 2 jam disana, cuaca sudah menunjukkan tanda-tanda tidak bersahabat, mendungnya semakin parah, dan akhirnya gerimis mulai turun, alhasil, semua lari terbirit-birit menyelamatkan diri dan barangnya masing-masing. Yang tadinya lagi asik mainan air, langsung ngibrit ke tempat pembilasan. Kalau tidak segera, bisa basah kuyup lagi kena hujan, padahal baju kering tinggal satu-satunya. Konyolnya, ada yang tidak bawa pakaian ganti, tapi basah kuyup main air di pantai, ya karena tidak tahan godaan main air, atau memang sengaja dijebak teman-teman, haha. Akhirnya, dengan kondisi setengah basah kuyup (karena kehujanan & yang tidak bawa pakaian ganti), masuk ke mobil di tengah hujan yang mulai deras. Ada ide unik disini, si bos sudah menyediakan beberapa tumpukan koran bekas dari kantor, khusus untuk digunakan pada saat beginian. Yap, sebelum masuk mobil, jok mobil sudah dilapisi dengan koran, agar tidak basah dan tahan hingga sampai ke rumah. Bayangkan baunya mobil dimasuki orang setengah basah setengah bugil dengan kondisi dingin dan hujan deras.

Tak lupa di jalan, kami mampir di masjid untuk sholat ashar dan maghrib, lalu tiba di rumah sekitar hampir jatuh isya’. Dan mulailah, ritual antri mandi dilakukan. Didahulukan yang tadi basah tapi tidak bawa pakaian ganti. Karena keterbatasan kamar mandi (cuman ada 2), ada yang nekat mandi berdua, haha, ya daripada terlalu malam menunggu giliran, secara hujan juga masih belum reda, dan udara malam semakin dingin. Sembari menunggu giliran mandi, teh dan kopi hangat sudah tersedia, dan makan malam menyusul setelahnya, menunggu semua sudah pada mandi, cakep, wangi dan manis barulah kita makan malam bersama.

Acara malam itu ditutup dengan acara tidur kruntelan. Yang cowok pada ngopi + ngerokok + dengerin dangdut koplo + main domino + klesetan di ruang tamu. Yang cewek melungker kruntelan di kamar, saling menghangatkan badan satu sama lain. Semakin malam, semakin dingin, hujan tak kunjung berhenti, suara kodok dan mendengkurpun mulai mendominasi. Lelapnya tidur malam itu, berbalut kesuksesan trip hari pertama, menemani indahnya mimpi kami. Dan perlahan, hari esokpun menjelang.

 

HARI KEDUA

Pagi ini, setelah tidur lagi selepas sholat subuh, terbangun karena dilempar roti sobek dari ruang tamu ke jendela kecil di atas pintu. Mau lempar balik itu roti ke luar, tapi buru-buru ada suara si bos yang bilang itu buat sarapan sementara katanya. Dan jam masih menunjukkan sekitar pukul 6 pagi, masih pagi banget. Mana cuacanya mendukung buat narik selimut lagi, mendung, dingin dengan aroma khas alam pedesaan. Yap, bangun, makan rotinya, mandi, lalu sarapan bersama. Sekitar pukul 8 pagi, kami mulai perjalanan berikutnya di hari kedua ini.

Sesuai pembicaraan kemarin, dihari kedua ini, Sabtu 1 Februari 2014, rencana tujuan kami adalah ke-2 tempat sekaligus, yaitu Goa Gong dan pantai Srau. Dipilih 2 tujuan tersebut sekaligus karena letaknya searah. Berangkat dalam kondisi yang bugar, karena sudah kenyang sarapan dan semalam tidur nyenyak, semangatpun kembali terbaharukan. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 1 jam saja.

Tiba di lokasi pertama, Goa Gong. Antara tempat parkir dan pintu masuk, lumayan memakan tenaga, bukan karena tempatnya yang jauh, tapi karena jalannya mendaki cukup tajam, dengan kemiringan jalan sekitar 500 sepanjang 250an meter, ada jalan beraspal (tapi parkir mobil tetap di bawah) dan ada tangganya juga. Saya tidak ingat berapa biaya tiket masuknya, sudah ada bendahara yang mengurusi masalah pembiayaan, saya hanya costing dari awal saja, hehe.

Goa ini keren, bila tentang sejarah dan perbandingannya dengan goa lain yang ada di Jawa Timur, silahkan cari di wikipedia / browsing dari laman lain, disini saya hanya menceritakan sekilas tentang keadaan goa tersebut seperti yang saya lihat.

Sebelum masuk, banyak ditemui orang dari penduduk sekitar yang menyewakan senter (senter besar dengan isi 4 baterai, ada yang chargeran juga). Memangnya kondisi goa akan segelap apa, sampai ada persewaan senter segala. Karena yakin kondisi goa tidak segelap seperti yang harus membutuhkan senter untuk meneranginya, maka saya tidak menyewanya, tapi ada beberapa teman yang menyewa, entah karena kasihan atau memang dirasa butuh. Tidak seperti goa pada umumnya, disini jalannya cukup berliku dengan tanjakan dan turunan yang lumayan ekstrim, meskipun sudah dibangun jalan buatan, tapi tidak menghilangkan kesan ekstrim di dalamnya. Stalakmit & stalaktitnya keren, ditambah lagi dengan genangan air jernih di dalamnya, hanya saja suasana agak gelap, karena memang lampu yang disediakan tidak begitu terang, mungkin supaya bisa lebih menyelami susana goa yang seperti seharusnya (gelap, hangat, pengap & misterius tapi tetap indah memukau). Karena kondisi goa yang cukup remang-remang, tapi dihiasi lampu sorot warna warni, namun hasil foto disana tidak terlalu bagus meskipun sudah menggunakan lampu blits dan pengaturan optimal, tetap saja noise masih mendominasi (maklum, blitznya built in, bukan eksternal, hehe). Lalu, menyesalkah tidak menyewa senter? Tidak juga, karena saya lebih menyukai keadaan yang memang apa adanya, semakin alami, semakin baik. Lagipula kalau urusan senter, masih bisa pinjem sebentar punya teman-teman, itupun untuk menandai objek yang akan difoto, karena kamera tidak bisa mengunci gambar dalam kondisi terlalu gelap. Dan tidak semua tempat terlalu gelap, ada juga yang cukup terang, hingga bisa dibuat lokasi foto bersama, alias narsis berjamaah.

Ini dia penampakan sekilas goanya.

goa pacitan

Goa Gong, Pacitan

Keluar dari area goa, jam sudah menunjukkan waktunya sholat dhuhur. Setelah berfoto-foto ria disana sini di berbagai sudut area luar goa, dan setelah sholat dhuhur, saatnya melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya.

Ada beberapa papan nama yang dipasang di beberapa stalakmit dan stalaktit goa yang menggambarkan seperti ornamen tertentu. Tentu saja dibutuhkan waktu untuk mencerna dan memahami seperti apa ornamen yang dimaksud, sehingga tak pelak, saya sering ketinggalan rombongan teman-teman. Karena saya tidak mau hanya asal masuk, melihat lalu keluar. Harus ada nilai yang saya nikmati disini, yaitu menemukan sisi indahnya dengan segala kesunyian & kemisteriusannya, toh kan sudah jauh-jauh main kesana, mengambil sedikit waktu untuk memahaminya, sepadan lah dengan pengorbanan yang ditempuh.

Dan sempat beberapa kali saya merasa deg-degan disana, bukan karena adanya aura mistis atau ketemu jodoh disana, tapi karena sempat beberapa kali hampir jatuh terpeleset tangga yang licin. Maklum, karena disana sedikit gelap dan saya tidak pakai kacamata (bahkan tidak kepikiran sama sekali untuk memakai kacamata), alhasil buramnya mata saya menyebabkan saya tak dapat melihat jelas kondisi sekitar area saya berpijak. Tapi alhamdulillah masih selamat, tidak sampai jatuh. Kalau sampai jatuh, bukan sakitnya yang saya pikirkan, tapi kondisi kamera DSRL saya, ikutan jatuh juga gak ya, kalau iya, rusak gak ya, dan bla bla bla, haha..

Hanya dalam kesempatan seperti inilah, saya bisa protes keras ke bos, agar tidak membahas masalah kerjaan sama sekali jika tidak urgent. Yap, itu peraturan utama tidak tertulis yang harus dan wajib dipatuhi oleh semua peserta dalam setiap outing yang saya adakan. Lantas, apa hukumannya jika masih saja bandel membahas masalah pekerjaan? Mudah, karena saya sudah komitmen, maka apapun yang mengandung makna pekerjaan, secara otomatis otak saya akan mem-block informasi tersebut, sehingga efeknya, saya nggak nyambung sama sekali kalau diajak bicara masalah itu, haha. Ini serius, sampai bos saya angkat tangan dan angkat kaki hingga beliau benar-benar tidak pernah membahas masalah pekerjaan dengan saya selama trip ini berlangsung (kapoook :P).

Terekam indah dalam ingatan, bagaimana mereka bermain air di pinggir pantai, bergulung-gulung dengan ombak, mengubur diri di pasir, menyeret temannya untuk diceburkan ke air (padahal itu bos-bos loh, dasar anak buah durhaka, haha), lari-lari berkejaran kesana kemari, saling melempar pasir, ada yang sibuk berdiri menjaga barang-barang peninggalan temannya (sandal, tas, baju, HP, dompet, kamera, dll), ada yang juga sibuk hunting sendiri (itu saya :D). Perbincangan hangat saat makan bersama, suasana yang seperti anak dan orang tua, keusilan dan spontanitas yang terjadi, semuanya terasa sangat istimewa. Senda gurau, senyumannya, tawa cerianya, candaannya, teriakannya, wajah-wajah yang berbeda dari yang pernah saya lihat sebelumnya, semuanya terekam manis dalam ingatan disetiap benak kami dan juga dalam format digital.

pacitan 2

Pantai di Pacitan

pacitan 1

Pantai di Pacitan

Apa yang saya suka dari setiap perjalanan outing yang saya lakoni bersama teman-teman kantor selain dari benar-benar menikmati pemandangan alam, hunting dan melepas penat, adalah kita bisa mengetahui sisi lain dari rekan-rekan. Sisi yang tidak berbalut jabatan dan jobdesc yang tersembunyi rapi di balik kemeja kerja. Pribadi yang hanya bisa diketahui jika kita benar-benar bisa menikmati perjalanan tersebut dalam setiap momennya.

Tribute to Pak Jimmy (RIP in September 2014), mantan Marketing Manager, beliau adalah seorang atasan yang baik, sayang sama anak buahnya, sabar, cerdas & punya penilaian dari sudut pandang yang unik. Padahal saya ada rencana dengan almarhum untuk merancang next trip ke Karimun Jawa, bersama bos-bos dan teman-teman lainnya. Tapi apa daya, PKWT beliau di dunia ini tidak diperpanjang oleh-Nya.

2 Tanggapan to “Menyusuri Pantai Selatan Pacitan”

  1. Rachman Says:

    Menarik Bung….

    Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: