Menyusuri Pantai Malang Selatan (Goa Cina & Bajul Mati)


jembatan pantai bajul mati

Jembatan Bajul Mati, Malang Selatan

Pantai, adalah salah satu tujuan wisata favorit banyak orang, termasuk saya. Tapi tidak banyak orang yang rela datang jauh-jauh, menempuh jarak ratusan kilometer, melelahkan dan berliku, hanya untuk melihat dengan mata kepala sendiri betapa luar biasa indahnya pantai-pantai tersebut. Memang, pengalaman & kesenangan butuh pengorbanan, termasuk untuk urusan berwisata, apapun itu,  dan apakah itu sepadan? Pengalaman saya berikut mungkin bisa sedikit menjawabnya.

Pantai Malang selatan, itu bukan nama pantai, tapi nama suatu kawasan, masih di wilayah Malang, pesisir. Di sana terdapat barisan pantai-pantai, ya iayalah, namanya juga kawasan pesisir. Dan karena pantai itu aksesnya langsung ke laut samudera Hindia, maka dapat dipastikan ombaknya ganas-ganas.

Sabtu, 23 Maret 2013, berbekal 1 tekad, 1 visi & misi, 1 niat & tujuan, bersama teman-teman, kami yang berdomisili di Surabaya kota, berangkatlah menuju Malang menggunakan mobil minibus. Berangkat jam 7 pagi (rencananya jam 5, habis subuhan, tapi dasar kupret, bangun telat gara-gara begadang, haha.. :D) dari Surabaya, sampai di sana jam 12 siang teng. Perjalanan 5 jam, sudah termasuk sarapan di jalan & tidur sampek puas di mobil.

Dari Surabaya kota menuju ke Malang kota, cuman butuh sekitar 2 jam saja. Selanjutnya lurus saja ke arah selatan, menuju pantai Sendang Biru (searah ke Pulau Sempu). Dari Malang kota ke daerah pesisir pantai, dibutuhkan waktu sekitar 3 jam. Lah, kok lebih jauh? Kan sudah sama-sama di Malangnya? Emangnya Malang selebar daun kelor? Jarak tempuhnya memang lebih jauh, karena kondisi jalan yang persis seperti lagunya Ninja Hatori (mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah…), yap, jalan yang sempit, berkelok, belokan tajam, naik-turun, jalan pelan-pelan supaya arah jalan bisa kebaca, belum lagi kalo nyasar, kadang macet juga (kalo pas lagi rame).

Tujuan pertama, pantai Bajul Mati. Masuknya bayar Rp3.000,- per orang + mobilnya (lupa berapa harga tiket buat mobilnya :D). Karena saking antusiasnya degan kondisi pantai yang terhampar di depan mata, sampai sekarangpun saya nggak tau, kenapa itu pantai dinamai Bajul Mati, gak sempat juga berinteraksi dengan penduduk sekitar, lebih asik muter sendiri sambil hunting (seger deh mata :D), sebab kondisi pantai yang masih sangat alami dan sepi orang.

Pantai Bajul Mati, pantainya luas, sepi, bersih, berpasir putih, butiran pasirnya sebesar merica, ombak yang besar, berkarang, tidak banyak pepohonan, tapi banyak padang rumput. Sudah ada beberapa pedagang asongan yang berjualan di sekitar pantai. Ada kamar mandi umum, tapi belum ada mushola. Dan penjual asongannya berjualan jajanan, bukan nasi & lauk pauk.

Sepi, terik, dan ada muara sungai, tenang & hening. Di pantai inilah akhirnya saya keturutan sholat menghadap laut. Agak aneh memang, namanya pantai selatan, jelasnya pasti menghadap selatan, tapi kompas menunjukkan arah barat memang menghadap ke laut lepas. Dan benar saja, mushola yang masih separuh jadi (masih pondasi tahap pembangunan), juga ternyata mengarah ke laut lepas, persis seperti yang ditunjukkan oleh kompas. Ajiiib, sholat di pinggir laut, di gubuk tua (setengah reot, tapi masih bisa berdiri), pas menghadap ke tengah lautnya, semilir angin, deruan ombak, hening & sepinya suasananya, Subhanallah deh, luar biasa..

Habis dhuhuran, makan mie, foto-foto (bagi yang narsis) serta hunting muter-muter gak jelas, & puas melotitin tuh pantai, saatnya kami beranjak ke tujuan berikutnya. Eeeeh, ternyata, pantai sebelah judulnya masih sama, pantai Bajul Mati juga. Owalah, ternyata saking panjangnya nih pantai, maka di split jadi 2. Memang masih nyambung pantainya dengan yang pertama, tapi karena jaraknya yang lumayan jauh juga + teriknya siang, siapa juga yang mau jalan panas-panas begitu. Tapi pantai kedua lebih oke dari yang pertama. Disana disediakan gazebo, itu tuh, payung besar & kursi yang mengelilinginya. Ini pantai, panjangnya 2x dari yang pertama, tapi dengan karakter yang sama persis dengan yang pertama.

Meskipun ini adalah pantai lanjutan dari sebelumnya, ternyata soal tiket masuk masih dikenakan. Dengan harga yang sama seperti sebelumnya. Amsyong dah…

Tapi ajiiib,,, karena tadi teman-teman sudah puas foto-foto narsisnya, kali ini mereka lebih memilih leyeh-leyeh di pinggir pantai. Rimbun, ada pepohonan & tebing karang besar yang meneduhkan dari sinar matahari. Ada yang ketiduran, ada yang curcol, ada yang lagi-lagi hunting gak jelas. Terakhir, kami makan di depot di pantai itu (menunya? ikan laut lah, masak pizza .. :P).

Habis ashar di mushola (di pantai Bajul Mati 2 sudah ada musholanya), kami meluncur ke tujuan selanjutnya, yaitu pantai Goa Cina. Jalannya, ampun deh, masih makadam, ± 800 m (tulisannya sih gitu). Beruntung pas kita kesana kondisi lagi nggak hujan sama sekali, jadi jalanan kering (alhamdlillah), sehingga lebih gampang, karena jalannya gak datar, ada belokan tajam juga, naik & turunan tajam dengan kondisi jalan berbatu. Selama kurang lebih 15 menit kita bergoyang di mobil, jalan pelan-pelan banget, tapi masih berasa offroad (pantat sampai berasa kotak-kotak), tibalah kita di pantainya, & hasilnya…

pantai bajul mati malang selatan

Pantai Bajul Mati, Malang Selatan

Yak, lagi-lagi kita harus bayar, tarifnya masih sama, Rp3.000,- per orang + mobilnya (lagi-lagi saya lupa berapa harga tiket masuk mobilnya :D).

Kalau tadi dari pantai Bajul Mati 1 ke yang ke-2 ada peningkatan (lebih keren maksudnya), yang ini dobel kerennya. Pantainya wow banget, lebih keren dari yang Bajul Mati. Mirip di Raja Ampat, tapi versi mini (aha, lebay :D), ada pulau-pulau karang menjulang di sekitar pantai. Masih tetap berombak, cuman nggak terlalu ganas, karena sudah diredam dengan pulau-pulau karang yang ada di sekitarnya. Pasirnya lebih halus, tapi banyak cangkang-cangkang keong & kerang yang tajam (jadi harus lebih berhati-hati).

Kenapa dinamakan pantai Goa Cina, karena disalah satu pulau karangnya (mepet persis dengan pinggir pantai), terdapat sebuah goa yang konon katanya digunakan sebagai tempat bersemedi seorang beretnis Cina. Saya sendiri tidak sempat melihat bagaimana bentuk goanya, karena hari keburu gelap (kita datangnya terlalu kesorean, di atas jam 4), & saya masih sibuk hunting pantainya. Alhasil, pantai inilah yang lain kali jika berkunjung menyusuri pantai Malang selatan, maka saya akan kesini lagi, Insyaallah, karena memang belum puas (belum puas batin, mata & hunting).

Habis hunting slow speed shutter sampai kehabisan baterai (padahal masih banyak yang ingin di capture, hiiks.. T_T), saatnya menikmati matahari terbenam, duduk di tepi pantai, ngemper di pasirnya, bersandar di karang, santai, dengerin musik alam (deburan ombak), dapet tuh moment twilight-nya, dimana ada cahaya ROL (return of lights), samar-samar, hingga matahari terbenam di ujung laut. Saat itu saya beneran cuman sendirian saja, pantainya ada 2 bagian, 1 sisi dimana terdapat pemandangan banyak pulau-pulau karang menjulang, 1 sisi lainnya hanya terdapat 1 atau 2 pulau karang menjulang dan tempatnya sunset, nah, disinilah saya berada. Hingga akhirnya langit merah mulai gelap, & teman-teman datang untuk mengajak pulang. Sungguh, masih kurang lama rasanya saya terpaku disana, benar-benar suasana yang bisa me-release pikiran menjadi rileks, membuang jauh-jauh segala hal tentang pekerjaan, hiruk pikuk kota & keruwetan hidup. Di sana, di ujung ufuk, bagaikan menyaksikan bagaimana Tuhan melukis langsung panorama spektakuler di depan mata ini (sayang, baterai kamera benar-benar tidak bersisa, jadi tidak bisa mengabadikan momen keren tersebut T_T”). Subhanallah, Allahhuakbar…

Sayangnya, kami di sana cuman selama 6 jam (dari jam 12 siang tiba di lokasi pertama, hingga jam 6 malam, balik ke Surabaya), jadi selama itu kami cuman bisa dapat 2 pantai saja, dari total 4 pantai yang ingin kami kunjungi (belum pernah ke sana sama sekali). Andaikan bisa 12 jam di sana, Insyaallah, semua pantai tujuan bisa dikunjungi, maka dari itu, akan ada perjalanan part 2 yang akan bercerita mengenai perjalanan kami di pantai yang lain, tapi masih di kawasan pesisir pantai Malang selatan.

Berangkat dari lokasi terakhir sekitar jam 6 malam (maghrib), dengan pertimbangan sepinya kawasan tersebut dari penduduk & fasum, bahkan tidak ada PJU, maka kami memutuskan untuk maghriban setelah keluar dari area sepi ini. Masih melalui jalan yang sama seperti berangkat tadi, hanya saja waktu tempuhnya lebih cepat. Sekitar jam setengah 11 malam kami sudah sampai di Surabaya kota, cuman 4,5 jam. Kenapa? Karena supirnya setengah edan, ngebut gak karuan, dalam kondisi jalan gelap gulita (tidak ada PJU, hanya lampu mobil saja), jalan yang berkelok tajam, tanjakan & turunan, kecepatan tidak kurang dari 60 km / jam, belum lagi ada adegan berpapasan dengan mobil lain, menyalip truck, mobil, motor, dsb (huftth.. -_-“). Penumpang yang tadinya udah pada ngantuk, ini malah melotot, pegangan rapat-rapat, pasang sabuk pengaman, ngomel-ngomel gak jelas, & ada yang nyebut-nyebut (but,, but,, but.. wwkwkwkwk).

Dan alhamdulillah, kami semua tiba dengan selamat, utuh tapi dengan perut lapar, soalnya tadi tidak berhenti untuk makan malam. Dan perjalanan inipun ditutup dengan kesan mendalam, kegembiraan, & rasa syukur yang keren, alhamdulillah.

Insyallah, akan segera menyusul postingan part 2 mengenai perjalanan saya menyusuri pantai Malang Selatan, coming soon (setelah berkunjung ke sana tentunya, hehe.. :D). Wassalam…

NB :

Rencananya, kita kesana memang hanya sehari saja (one day trip), berangkat pagi-pagi (habis subuh), pulang waktu maghrib, dan dikarenakan ini adalah 1x perjalanan yang cukup jauh & akan menghabiskan lebih banyak waktu di jalan daripada di tempat tujuan, maka perlu & wajib dilakukan beberapa persiapan sebagai berikut :

  1. Satu mobil, minimal ada 2 supir, untuk saling bergantian menyetir. Lebih bagus lagi kalau ada 3 supir, 1-nya lagi bisa buat cadangan. Kalikan jumlah sopir dengan berapa banyak mobil yang akan ikut serta.
  2. Cek kondisi kendaraan yang akan anda gunakan, standar sajalah, mulai dari lampu (depan belakang), pengereman, porsneling, kopling, wiper, aki, oli, air karburator, ban cadangan, dsb (silahkan tambahkan sendiri). Ingat, perjalanan anda nanti akan melewati area terjal & terpencil, tidak ada bengkel, bahkan jarang penduduk karena di tengah alas.
  3. Harus ada minimal 1 orang yang mengerti mengenai kondisi otomotif mobil, minimal paham mengenai hal standar yang disebut di nomor 2 di atas.
  4. Selalu sedia payung, senter (pastikan baterainya ada & bisa nyala) & charger mobil untuk gadget elektronik anda.
  5. Siapkan juga lagu / musik (CD / MP3) dengan beat tinggi + camilan yang banyak, supaya si sopir tidak ngantuk, dan penumpang tidak melulu tidur (jadi teman ngobrol supir, biar nggak ngantuk & tetap waspada).
  6. Jangan lupa bawa baju ganti, kresek untuk baju kotor & hood untuk tas anda. Meskipun anda tidak berencana untuk berenang / sekedar berbasah ria, tapi bisa jadi lain di niat, lain di kenyataan (hehe :D).

Yang terakhir dan yang paling penting, jangan lupa pamit sama orang tua, bilang yang jelas kita mau kemana, sama siapa saja / berapa orang yang ikut, berapa lama & kira-kira sampai di rumah jam berapa. Berdoalah sebelum memulai perjalanan, & ingat-ingat kembali tujuan & barang bawaan anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: