Jogja & Segala Pesonanya (Part 1 Of 2)


malioboro

Jalan Malioboro, Jogja

Jogja oh Jogja, pesonamu ternyata memang luar biasa. Kali ini edisi travelling akan diisi mengenai eksotisme kota Jogja, selamat membaca..

Jum’at, 12 Oktober 2012, hari yang dinantipun tiba (padahal gak usah dinanti, juga pasti bakalan nyampek tuh hari, cuman masalahnya yang menunggu masih hidup apa nggak,, jreng jreeenggg..  T_T”). Hari itu, bukan tanggal merah, juga bukan hari cuti bersama, alias masih hari kerja, jadwal keberangkatan ke sana pun, juga masih dalam jam kerja, (nah loh… mangkir kerja nih ceritanya??). Oke, masalah kantor cukup dibahas sampai disini saja (haha,, takut ketahuan ya konspirasinya.. ).

Kembali ke masa 1 minggu lalu. Kenapa? Karena hanya dalam 1 minggu kita membuat perencanaan untuk perjalanan “musafir” ini (musafir?? Iya, musafir backpacker maksudnya, hehe.. :D). 1 minggu adalah waktu yang sangat singkat bagi karyawan super sibuk seperti saya (belagu’ luh..!!!), eh iya, suwerrrr… bekerja di perusahaan swasta dengan waktu kerja 5-6 hari seminggu dengan jadwal yang super padet, masih harus sempat ngurusin soal tujuan wisata, cari & booking hotel, pesen tiket pergi, rencana pulang mau naik apa, menu makan, beli oleh-oleh dan sewa mobil, hingga biaya overhead & limitation cost (2 istilah terakhir gak usah dipikir, bahasanya terlalu marketing, saya aja nggak mudeng-mudeng kok..). Semuanya dilakukan disela-sela waktu kerja, yang ternyata sangat “diridhoi” oleh si bos, ya secara, dia yang paling punya niat besar buat pergi. Alhasil, rencana yang bagaikan 2 sisi mata uang itu (1 sisi gosong, 1 sisi setengah matang) pun harus juga dilaksanakan pada saat tanggal mainnya. We’ll see, what’s happen next

Ke Jogja, naik kereta api (tut tut tuuuttt.. siapa hendak turut??) Sancaka dari stasiun Gubeng Surabaya, berangkat jam 3 sore. Di stasiun yang rame orang gitu, masih sempet-sempetnya ada yang narsis (tebak siapa?? Yang jelas bukan saya, haha…). Menurut jadwal, kereta akan tiba di stasiun Jogja sekitar jam 8 malem. Naik kelas ekonomi, dengan AC alam & sempet “nongkrong” di pinggir pintu, supaya dapet jatah angin lebih banyak (kebayang panasnya.. T_T”), bener-bener jalan para sufi backpacker dah…

Dari sinilah, petualangan sebenarnya baru saja dimulai. Kebayang, disini “kasta” bos dan anak buah ditiadakan secara otomatis, duduk di gerbong yang sama, dengan fasilitas yang sama, tingkat kelembapan tinggi & suhu yang sama-sama “hot”, mulailah suasana “meleleh” secara perlahan. “Dilarang membicarakan soal pekerjaan, daaaaan,, silahkan hancurkaaaann…!!!”, itulah kata-kata saya ketika memulai “perang kasta psikologis” alias gurauan & gojlokan sudah mulai dilontarkan di sana sini, canda tawa menghiasi sepanjang perjalanan selama 5 jam tersebut. Meskipun akhirnya, ada yang “lowbat” dan ketiduran sejenak di tengah jalan, itu aja gak pake’ lama, karena “paparazzi” usil selalu mengintai (berkali-kali saya dipoto waktu molor di jalan, ckckckckc.. sungguh terlalu..).

Tiba di stasiun Jogja, kita langsung menuju hotel (eh, hotel apa hostel apa kontrakan ya, haha.. au ah gelap… :D). Harusnya, kalo mendengar kata hotel, dan setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh (eh, 5 jam naik kereta ekonomi tuh jauh gak sih??), idealnya ngebayangin tentang enaknya tidur di hotel, melepas lelah, mandi & makan terus leyeh-leyeh, besoknya baru meluncur ke obyek wisata. Anda salah besar soadara-sodara…!!! Kita berwisata, untuk me-refreshing-kan otak, bukan me-refreshing-kan tubuh, jadi, sesampainya di hotel (deket dari stasiun, jalan kaki 10 menit udah nyampek), kita cuman check in, meletakkan barang-barang, terus tancap gas lagi, gak pake’ kendaraan, jalan kaki men… luar biasa dah, jiwa muda yang bersemi lagi (bagi para bos yang udah pada “sepuh”, jiwa mudanya seakan muncul lagi, kalo kita-kita mah kan emang masih muda, hehe..).

Dengan berbekal persiapan singkat setibanya di hotel, tidak lupa bawa “senjata perang” (DSLR, tripod, ekstra baterai & flash), dompet juga jangan ditinggal (apalagi itu..), jam 9 malam, kita meluncur ke jalanan Jogja yang masih terhitung ramai kala itu. Tepatnya jalan menuju ke Malioboro. Wew, bener-bener kehidupan malam yang hingar bingar, persis seperti suasana di Bali (sotoy, emang pernah ke Bali?? Pernah lah, waktu SMP dulu terakhir, hahaaayyy…).

Hotel kami terletak di jalan Sosrowijayan, di sepanjang jalan itu, hampir setiap deret rumahnya dijadikan hotel, ada yang plus bar & karaoke. Bukan cuman orang lokal yang menginap disana, bule backpacker juga ada bejibun (mau pilih mana, ada kulit putih, merah, kuning sampek item.. itu bule apa krupuk upil ya, kok warna warni gitu ???). Sempat kepikiran, “Lah, ternyata kita nginep di gang maksiat nih, bisa jadi sasaran empuk pemboman tuh, huaduh…”, tepok jidat, tapi belum lama kepikiran soal itu, perut udah mulai “nge-band”, jadilah pikiran teralihkan, dari maksiat ke makanan😀. Dan bunyi perut kita ternyata kompak, alias udah pada kelaparan semua. Langkahpun semakin dipercepat, bukan karena lapar, tapi di belakang ada bis “ndusel”, jadi kita mesti jalan cepat kalo nggak mau jalan di belakang bis yang berasap knalpo tebal.

Sekitar 10 menit jalan, sampailah kita di Malioboro, subhanallah, baru kali ini saya lihat kehidupan malam yang 75% penuh dengan orang, pejalan kaki & pedagang, yang naik kendaraan bermotor mah sedikit (maklum, jarang ngelayap malam, jadi agak “ndeso” :D). Di trotoar, penuh orang & pedagang makanan kaki 5, di pinggir jalan raya, banyak andong “ngetem”, di tengah pembatas jalan juga banyak pejalan kaki, gak sedikit yang juga dalam rangka “hunting malam”. Jalaaan terus, cari-cari makanan yang pas (pas di kantong maksudnya, maklum, level staff :D), sambil hunting juga, dan benar saja, sesuai perkiraan, ada bejibun obyek yang menarik, jadi nggak berasa, jeprat jepret sana sini, sudah jalan sampai pasar Beringharjo (buset, sebenernya jauh loh, hampir 1 km, ckckckckck…). Lama yang dicari nggak ketemu, akhirnya kita memutuskan untuk naik andong menuju ke alun-alun utara, berharap menemukan “makanan khas rakyat” buat mengisi perut yang udah konser hampir 2 jam.

Asik juga naik andong malam-malam (soalnya dulu di desa kalo naik andong ya pagi-pagi pas mau ke pasar). Jam sudah menunjukkan hampir jam 10 malam, cuaca masih cerah, suasana masih meriah, dan semangat masih membara, lanjuuuutt… Di sepanjang jalan naik andong, banyak kita lihat bangunan tua khas Jogja yang masih sangat terlihat karakternya, masih asli, dengan dihiasi lampu yang temaram keelokannya pasti akan memikat mata fotografer manapun (termasuk yang amatiran macam saya), secara otomatis, hunting sambil jalanpun dilakukan (tantangan terbesarnya adalah, menemukan settingan yang pas ketika kamera berguncang & dalam kondisi low light, lumayan ribet dah…). Mulai dari jalan raya yang rame, hingga melintasi kampung-kampung yang sepi (teringat jalanan kampung di rumah, jam segini mah udah sepi, udah pada tidur, lah ini kok saya masih kelayapan, ckckckck,, apa kata emak sama bapak…), setengah jam perjalanan, sampailah kita di alun-alun yang dimaksud, dan jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam.

Dan luar biasa, alun-alun pun jauh lebih banyak orangnya dari yang ada di Malioboro (itu orang-orang pada pindah kali ya, pindah dari Maliboro ke alun-alun semua, haha…), padahal ini Jum’at malam loh, alias malam Sabtu, belum weekend, tapi orangnya udah sebanyak ini, kayak lihat konser. ini adalah alun-alun yang di tengahnya ada 2 pohon besar, yang kata mitos, kalo ada pasangan yang bisa jalan dan melewati di antara ke-2 pohon tersebut dari arah luar, maka hubungannya bakalan langgeng, dan sebaliknya kalo melenceng. “Owalah, ini toh pohonnya..”, gumamku, dan si bos-pun tersenyum, mungkin dia pikir, “nih anak ndeso banget toh, ckckckckck…”, (hahaaa,, bodo amat ah…).

alun2 & sepeda

Alun2 Jogja & Sepeda LED nya😀

Banyak mobil parkir di sisi dekat alun-alun, sementara seberangnya, trotoar lagi-lagi didominisai oleh para pedagang makanan. Ada 1 lagi yang beda, banyak persewaan sepeda onthel yang dihiasi lampu led dan sudah dimodifikasi agar bisa “di-onthel” lebih dari 1 orang (minimal diisi 4 orang) dan ada yang bertingkat pula. Model LED-nya juga macam-macam, mulai dari karakter kartun, hingga berbagai tulisan. Pengen sih naik, tapi ini perut diisi dulu ya… Setelah thowaf 1 putaran, akhirnya kita memutuskan berhenti buat makan di warung pinggir jalan, judulnya “nasi kucing” & wedang ronde.

Apa itu nasi kucing? Itu adalah makanan khas di pinggiran Jogja, yang berupa nasi sebanyak 3 sendok makan (menurut takaranku sih), dibungkus daun pisang, nasi doang loh. Lauknya bisa pilih, ada aneka jeroan, ikan, ayam, sate telur puyuh & tahu tempe, tergantung selera mau pilih yang mana. Karena porsi nasi yang seupil gitu, bisa jadi nambah sampai 3-5 bungkus (buset, laper apa doyan???), terus minumnya wedang ronde, hmmm.. anget-anget nikmat. Lumayan buat ngeganjel perut di sesi hunting selanjutnya. Hampir memasuki tengah malam, perut harus sudah terisi, buat melawan angin malam, melawan rasa kantuk & capek serta menjaga semangat tetap membara, merdekaaaaa… (laaah ?!?).

Next, kita thowaf lagi di alun-alun, kali ini untuk mencari spot yang tepat untuk sesi hunting, termasuk menyusuri pinggir alun-alun sambil nawar-nawar harga buat naik sepeda hias, hehe… Jam sudah menunjukkan setengah 12 malam, suasanapun makin ramai (heran, bukannya malah sepi, ckckckck..). Nggak banyak spot yang bisa kita dapat, karena saking banyaknya manusia yang memenuhi, akhirnya, dapat spot hunting alakadarnya, dan coba tebak, siapa yang minta di shoot duluan?? Yeaaah, para bos tentunya. Nggak apa-apa lah, toh dari tadi mereka juga sudah jadi sasaran empuk foto candid, hehe… Sesi hunting pun berjalan “panas”, karena memang gak bisa lama-lama, kan banyak orang, jadi harus cepet ambil gambarnya, supaya obyek utama nggak “kesurupan” obyek lain yang sedang asik melintas (kesurupan, maksudnya bukan oleh makhluk halus loh, tapi orang-orang yang lagi lalu lalang, kan gak bisa dicegah, namanya juga tempat umum). Jepret-jepret di pinggir trotoar, pose nempel di lampu taman, di bawah pohon, di tangga bangunan tua, di tembok pembatas rumah, yah, pokoknya apa saja yang punya background menarik, disitu obyek bakalan “nempel” (kayak cicak ya, hehe.. :D).

Malam pun semakin larut, sudah memasuki dini hari, masih asik hunting, tiba-tiba… hujan pun turun, dimulai dengan rintik-rintik yang semakin cepat, hingga akhirnya, deras coooy… dan orang-orangpun berlarian mencari tempat berteduh. Alun-alun yang tadi tengahnya penuh orang, mendadak lengang. Warung yang berjualan makananpun diserbu massa, apalagi kalo bukan numpang ngiyup, sampai-sampai gerobak si pedagang nggak kelihatan, karena ketutupan gerombolan massa, hehe..  Dilihat dari bentuk awan mendungnya, kayaknya nih hujan bakalan lama (huh, sok jadi peramal cuaca, sotoy.. T_T”), ditunggu hingga hampir setengah jam pun, tidak ada tanda-tanda hujan bakalan berhenti. Alhasil, si bos memutuskan bahwa kaum hawa harus segera kembali ke hotel, dari pada tengah malem, kehujanan, berjilbab pula, ngiyup bergerombol dengan puluhan orang tak dikenal di kota rantau yang jauh dari rumah, maka apa kata duniaaa??? (halah, lebaynya kumat T_T).

Telpon taksi, dan kita pun para kaum hawa, pulang ke hotel, sementara kaum adam masih sibuk cari taksi lain. O iya, taksi di Jogja beda dari taksi-taksi pada umumnya. Taksi di sana berupa mobil minibus (ya semacam Avanza / Xenia), tapi yang belakang tidak ada kursi, alias cuman buat barang, gak boleh diisi orang, walaupun penumpangnya rela jongkok. Lalu kita pun meluncur ke hotel dengan selamat. Sampai hotel, biasalah, kita membersihkan diri (bukan ruwat mandi kembang), mandi, sholat, bongkar packing tas, dan menentukan urutan tidur (penting ini, ingat, backpacker, 1 kamar bisa diisi beberapa orang, hehe.. :D). Jam sudah menunjukkan pukul setengah 1 pagi, mata masih belum mau nutup, oh ternyata masih laper (gubraaaak), mampirlah kita ke minimarket terdekat, beli banyak jajanan buat mengganjal perut malam. Mulailah satu per satu camilan “ditumpahkan” ke perut, tapi ini kok masih ada yang mengganjal. Bukan, bukan masih lapar ato makanannya nggak enak, tapi ini masalahnya si kaum adam belum pada balik ke hotel, padahal sudah hampir 1 jam berlalu sejak kita berpisah naik taksi tadi. Dimana, kemana, pada ngapain coba??? (dieeenggg,, kayak orang mikir pasangannya lagi selingkuh aja…).

Sudah jam 1 pagi, hujan sudah berhenti, makanan sudah habis, dan mata sudah mulai ngantuk, tapi si kaum adam belum balik juga. Maka meluncurlah sms, dari beberapa kali konfirmasi, ternyata oh ternyata, kaum adam hunting di bangunan tua di tengah kota. OMG,,, amazing, bayangkan, jam 1 malam lebih, dini hari, suasana sepi, jalanan yang basah (memberikan efek refleksi / bayangan dari air), bangunan tua dengan cahaya tamaram, suasana sepi, itulah waktu hunting yang paling pas. Dan tebak, yaaaks,, mereka mendapakannya, perfecto.. dan sialnya, saya sudah terjebak di hotel dan tidak bisa ngapa-ngapain (masak iya saya mau nyusul mereka, berangkat sendirian, sementara lainnya udah pada tepar, udah pada mimpi sampek Arab kali, sedihnya T_T, huaaaaaa…).

Dan yah, tak perlu disesali (meskipun memang agak emosi), balik ke kamar, merebahkan badan dan mulai memejamkan mata, tidak lupa baca doa dan sambil membawa perasaan “kurang ikhlas” karena disuruh pulang  ke hotel duluan. Malam itu saya bertekad, besok, saya bakalan nguntit kaum adam kemanapun perginya (kecuali ke toilet & kamar masing-masing), biar momen penting seperti malam ini tidak terulang lagi untuk dilewatkan. Amsyong dah..

Perjalanan masih menyisakan 2 hari lagi. Cukup sampai di sini untuk Jogja edisi hari pertama, cerita akan dilanjut untuk sesi hari ke-2, meluncur ke tempat wisata. To be continued

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: