Apa Sebenarnya yang Kita Butuhkan Dalam Hidup


life is

What Do We Really Need In Life ???

Yap, judulnya memang klise banget, tapi bukankah memang pertanyaan ini sering berseliweran di pikiran kita? Atau bahkan malah tidak kepikiran sama sekali?? Atau mungkin pertanyaan lainnya..

Karena apa yang kita butuhkan tidak kita miliki, jadilah masalah dalam hidup kita. Atau masalah justru ada, karena kita memiliki banyak kebutuhan, banyak keinginan alias banyak maunya. Masalah jadi teman karib dalam kehidupan kita.

Apa yang kita butuhkan memang sesuai dengan tingkat kesulitan hidup kita, identik dengan hajat bahkan. Bagi yang tidak punya rumah (alias masih ngontrak / numpang dimanapun itu), yang dibutuhkan memanglah rumah (rumah sendiri tentunya, dan permanen). Bagi yang sedang sakit, yang dibutuhkan adalah kesehatan. Dan bagi yang bermasalah, tentu saja jalan keluar / solusilah yang dibutuhkannya. Serta berbagai kebutuhan lainnya. Belum terwujud satu hal, sudah ada hal lain yang menunggu untuk diwujudkan (namanya juga manusia, gudangnya kebutuhan & keinginan). Dan semua kebutuhan serta keinginan itu, mayoritas pastilah bermuara kepada uang (uang memang bukan segalanya, tapi segalanya hampir pasti membutuhkan uang), klasik memang, tapi begitulah adanya.

Lebih parahnya lagi, kita sering terjebak dengan menjadikan keinginan bagaikan kebutuhan, padahal itu jelas-jelas berbeda. Tau kan bedanya antara keinginan dan kebutuhan? Antara kemauan dan kehendak? Kalo nggak tau, silahkan tanya om Google, males dah saya jelasin disini, bikin inspirasi hilang (hehe.. maap kalo agak sewot :D).

Ketika kita menginginkan / membutuhkan sesuatu, otak kita tak henti-hentinya mentransformasikan hal tersebut dalam berbagai kegiatan sehari-hari kita. Segala daya dan upaya, energi yang besar, waktu yang banyak,  hampir semuanya mengarah kesana, termasuk dilibatkan dalam urusan doa dan ibadah lainnya. Kita sibuk meminta a, b dan c kepada Tuhan. Kita sibuk bekerja demi mendapatkan a, b, c, dsb. Apapun kita lakukan supaya hal ini dan itu dapat segera terwujud, apapun itu (bahkan dengan cara yang paling halal, baik dan syar’i sekalipun).

Dianjurkan memang, kita bekerja dengan jujur dan halal. Diharuskan juga agar kita berdoa siang dan malam, sering menghadang waktu-waktu berdoa yang mustajab, menjaga sholat 5 waktu tepat waktu, mengerjakan sunah mu’akadah (dhuha, qobliyah – ba’diyah, witir, tahajud), sedekah, silaturahmi, mengajak kepada kebaikan, dan segambreng amalan lainnya. Dengan berbagai amalan tersebut, kayaknya kita seperti mengejar Allah, yang Rahman & Rahim, yang Maha Kaya dan Maha Kuasa, padahal sebenarnya tidak. Kita ibarat anak kecil yang merengek minta dibeliin permen sama ortu. Ya kan wajar, namanya juga kita lagi butuh, nempel pada sang pemilik segala-galanya, agar bisa mendapatkan apa yang lagi kita inginkan / butuhkan. Nggak salah memang, tapi hal ini sebenarnya dapat merusak akidah. Loh, kok bisa? Yap, kala kita sudah merasa berusaha sekuat tenaga melakukan dengan segala upaya terhadap cara-cara yang halal, namun apa yang kita inginkan tak kunjung membuahkan hasil, bagi yang tidak paham akan esensi ibadahnya, dia pasti akan kecewa luar biasa. Pengharapan besar kepada Tuhan berganti menjadi su’ul khotimah, mematahkan semangat beramal lalu berpaling kepada yang batil, na’udzubillah. Bagi anda, yang merasa bahwa usaha yang anda kerjakan selama ini belum membuahkan hasil / masih tidak sesuai dengan harapan maupun yang merasa bahwa doanya tak kunjung diijabah, silahkan tengok postingan saya yang sebelumnya mengenai “Mengapa Doa Kita Belum Diijabah”, semoga bisa memberi sedikit titik terang (supaya bisa menuntun ke titik terang berikutnya, Insyaallah).

Teori memang mudah diucapkan, tapi sulit diterapkan. Tapi ini bukan cuman teori, hal serupa pun pernah terjadi pada saya, berulang kali bahkan. “Man arofa nafsahu, faqodh’ arofa robbahu”, barang siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhannya. Gimana cara mengenali diri sendiri? Belajar  ilmu biologikah? Anatomi? Fiqih? Wew, terlalu berat menurut saya (asli nggak sanggup dah…).

Caranya simple saja, cobalah bertanya pada diri anda sendiri, bertanya jauh pada lubuk hati anda yang paling dalam, apakah yang sebenarnya anda butuhkan dalam hidup ini? Anda pasti menemukan banyak hal yang ingin anda capai dalam hidup, ingin ini, ingin itu (banyak sekali, semua-semua-semua, dapat dikabulkan, dapat dikabulkan dengan kantong ajaib.. eaaaa, malah nyanyi doraemon T_T”), ingin jadi ini, ingin jadi itu, hal-hal besar dan luar biasa yang anda harapkan terjadi dalam hidup anda. Benarkah itu menjadi hal yang paling anda butuhkan dalam hidup ini? Dalam menghadapi dinamika kehidupan yang kian edan ini? Dalam menghadapi kehidupan abadi sesudah kematian kelak? Mari kita kupas perlahan (sobek bungkusnya, ambil kacangnya, dikupas, dijilat, terus dicelupin.. lah, ini makan kacang apa Oreo?)

Saya teringat perkataan salah seorang teman, menjelang hari-hari terakhir perpisahan kami, dia bercerita mengenai pencerahan yang didapatkannya melalui sang kekasih (cieeeee.., suit suiiittt..), “Allah itu maha Arrohman, Arrohim, maha pengasih & penyayang. Arrohman, maha pengasih, siapapun bisa mendapatkan kasih-Nya, seluruh makhluknya, gak peduli siapapun dia & apapun agamanya, semuanya bisa dapet. Tapi Arrohim-Nya, maha penyayang-Nya, gak semuanya bisa mendapatkannya, salah satu cara untuk mendapatkanya adalah dengan beribadah kepada-Nya, sholat, …”. Ibarat kata pepatah, “tak kenal, maka tak sayang”. Ini kata-kata berasa kaki yang nendang muka saya, padahal biasanya saya yang cerewet ngingetin dia masalah agama (I’ll miss you mas bro, hiks.. T_T, semoga disana kau bisa tenang dan mendapatkan apa yang kau cari, Insyaalah). Ya Allah, kemana saja hamba selama ini, terlalu sibuk mengejar dan berharap akan “permen” ternyata.

Memang betul, disaat kita punya hajat / masalah, Allah-lah yang harus kita kejar, bukan yang lain, karena Dia yang maha kaya, maha solusi segala masalah, yang maha serba bisa (maha canggihlah kalo kata saya mah :D). Tapi bukan untuk mendapatkan “permen”-Nya. Kalo kita sibuk ngejar “permen”, gak akan pernah puas dan kenyang kita punya hajat & keinginan, sebab Allah maha kaya, dia punya banyak “permen”, tak terhingga malah. Malah bisa jadi syirik, karena yang dikejar “permen”, iman dan hati jadi condong kepada “permen”, mendewakan keinginan, Allah bisa jadi nomor kesekian, na’udzubillah.

Coba anda renungi, sebentar saja, duduk dengan tenang, ambil nafas panjang, pejamkan mata, kosongkan pikiran. Coba tanya pada diri anda sendiri, pada hati, pada pikiran, “benarkah yang kita perlukan adalah uang? (buat beli ini itu, bayar hutang, modal, investasi, dsb) Jabatan? Kehormatan? Prestisius? Prestasi? Dsb..”. Adakah jaminan, bila semua yang kita inginkan / hajatkan tersebut telah terpenuhi, maka kita tidak akan meminta lagi? Siapakah yang bisa menjamin, bahwa itu semua dapat menenangkan hati & pikiran? (yang mana kita pikir demikian) Apakah masalah akan selesai selamanya sampai disini? Bukaaaaann,, karena sesungguhnya yang kita butuhkan adalah Allah Azza Wajala. Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maulana wani’man nasir, cukup bagiku Allah.

imron 173-174

(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”.Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Imron 173-174).

Penggalan ayat terakhir dari ayat 173 tersebut merupakan pengamalan tauhid, bahwa hanya kepada Allah sajalah orang-orang beriman itu harus bertawakal. Maka, segala rasa takut terhadap manusia menjadi pudar ketika orang-orang beriman berserah diri sepenuhnya kepada Allah semata.

Kalo kita sudah merasa cukup dengan Allah, maka “permen”-Nya menjadi tak lagi begitu penting. Seperti analogi anak kecil yang merengek minta dibelikan permen kepada ortunya, kalo si anak benar-benar cinta kepada ortunya, maka dia akan rela menukarkan / bahkan memberikan segunung permen agar ia bisa tetap bersama dengan ortu yang dicintainya. Kalo kita sudah merasa cukup hanya dengan Allah, maka apa yang tadinya menjadi hajat & keinginan kita, tiba-tiba menjadi sudah tidak penting lagi. Karena Allah jauh lebih besar dari hajat & keinginan kita.

Kalo Allah sudah merajai singgasana di dalam hati, kita sudah tidak merasa butuh kepada selain-Nya, cukup dengan-Nya, hati sudah merasa tenang, semua masalah berasa ringan (masak sih??). Apalagi yang kita butuhkan kalo bukan ketenangan hati? Bagaimana mungkin kita bisa merasa tenang, sedangkan kita merasa bahwa masalah kita begitu besarnya, hingga mungkin beberapa orang berfikir, bahwa masalahnya tersebut tidak akan mungkin dapat diselesaikan. Bahkan parahna, ada yang berniat mengakhiri hidup (emang masalah bakalan selesai di dunia doang? Akhirat nungguin noh disono..).

Coba kita renungkan sejenak, berfikir… Dia mampu menyangga langit tanpa tiang, Dia mampu menghias langit dengan milyaran bintang & galaksi. Dia mudah menghidupkan yang sudah mati dan hancur luluh lantah. Dia mudah menghancurkan gunung yang menjulang tinggi nan kokoh. Masak iya Dia gak mampu menyelesaikan masalah kita? Padahal, seberapa besar sih kita ini? Kan kalo dibandingkan di antara galaksi, kita hanyalah bagaikan sebutir pasir di pantai, bahkan debu halus yang beterbangan di udara.

Dia mampu mengurusi segala makhluk-Nya di penjuru alam semesta, dunia & akhirat. Dia mampu membuat peraturan (sunnatullah) yang merupakan sistem yang paling sempurna di jagat raya ini. Dialah yang memberi makan dan rejeki kepada setiap makhluk-Nya di muka bumi. Masak iya Dia gak bisa memenuhi hajat kita? Padahal, apa sih hajat kita? (sebutin dah semuanya) Kan Allah yang punya gunung mengandung emas, bumi yang mengandung minyak, hujan yang menumbuhkan tanaman, lautan yang kaya akan ikan. Allah-lah yang memuliakan, Allah juga yang menghinakan.

imron 26-27

Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)“. (QS. Al-Imron 26-27).

Mata orang awam berkata, semuanya terjadi karena adanya hukum sebab akibat. Ya, tapi orang beriman akan bilang, semuanya memang terjadi asbab sunatullah (sebab & akibat karena hukum Allah), tetapi itu terjadi karena Allah mengijinkan, karena takdir, dan Allah memang maha berkehendak. Bukankah banyak hal terjadi yang tidak bisa dijelaskan dengan akal, logika & teknologi secanggih apapun? Begitulah Allah, “kun faya kuun”, kalo Allah sudah berkehendak, apapun itu, pastilah terjadi. Allahhuakbar, Subhanallah.

Kalo kita bisa cinta kepada Allah (sang maha segala-galanya), kenapa kita harus cinta pada ciptaan-Nya, yang bahkan hanya berupa“permen”? Kalo kita sudah merasa punya Allah, nggak ada tuh rasa khawatir, rasa was-was, rasa takut, sebab kita tau kalo Allah maha besar, maha kuasa, maha tahu, dan Dia pasti tau apa yang terbaik buat kita, apa yang paling kita butuhkan, bahkan tanpa kita minta, Allah sudah penuhi hajat dan kebutuhan kita. Masyaallah tuh…

Dan karena kita tau kalo Allah pasti tau yang terbaik buat hamba-Nya, maka apa yang sudah ada pada kita, apapun yang akan & telah terjadi pada kita, itulah yang Allah putuskan terbaik untuk kita. Disitulah timbul rasa syukur, bener-bener bersyukur, baru terasa nikmat-Nya. Rasa syukur itulah yang membuat hajat & keinginan kita seperti berasa tidak penting lagi, karena otomatis kita akan membandingkan dengan orang-orang yang kurang beruntung dari kita (alias benar-benar bisa melihat ke bawah). Dan kita juga bakalan yakin, pada waktunya nanti, kalo Allah berkehendak, kehendak-Nya-lah yang akan terjadi yang terbaik buat kita, dan pastilah keinginan itu akan terwujud, entah bagaimana, dengan cara apa, kapan & dimana.

Dan dengan modal rasa syukur inilah, ibadah kita terasa lebih plong, lebih berasa butuh kepada Allah, daripada butuh kepada “keinginan”,  karena kita merasa bersyukur atas segala nikmat-Nya, bukan malah merasa terbebani (seperti biasanya :D). Sebab kita merasa, bahwa segala apa yang Allah berikan, gak sepadan dengan nilai ibadah yang kita lakukan. Karena itu kita bisa merasa malu kalo sholat hanya ala kadarnya, malu kalo sholat telat-telat terus, malu kalo gak zakat & gak sedekah, malu kalo kita mencemari bumi-Nya (versi pecinta lingkungan :D). Dan karena merasa malu sebab ibadah kita jauh lebih sedikit dari nikmat yang Allah berikan, maka dalam beribadah kita akan bersungguh-sungguh, sungguh-sungguh mensyukuri nikmat-Nya, dari situlah kenikmatan dalam beribadah akan muncul secara otomatis. Dan karena sadar bahwa kita sedang menghadap pada-Nya dalam sholat, dalam ibadah yang sedikit, yang tidak ada artinya dibandingkan dengan nikmat-Nya, dengan pula rasa malu dan rasa syukur, timbulah yang namanya khusyu’. Subhanallah, jadi merembet kemana-mana nih efeknya.

Jadi, buat para pecinta masalah, pemuja keinginan dan sahabat syahwat, coba tanya pada diri anda sendiri sekali lagi, apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup? Apaaaa???!!!

Selamat merenung, selamat menyelami cinta kasih-Nya yang sering kita lupakan, yang sering terabaikan oleh mata hati kita, sebelum ajal menjemput tanpa diduga.

Semoga kita masih diberi-Nya kesempatan untuk mensyukuri nikmat-Nya, menikmati hidup dalam kasih-Nya dan mendapatkan hidayah & ampunan-Nya, aamiiin..

Jazakumullah khoiron katsiro, wassalam mu’alaikum warohmah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: