Air Terjun Madakaripura


air terjun madakaripura

Air Terjun Madakaripura

Yah, lama tidak membuat postingan. Setelah menulis judul, saya agak lama terdiam, sambil garuk-garuk kepala (bukan lagi mikir, tapi emang pas lagi gatel), mikirin, prakata apa yang mesti saya tulis, setelah sekian lama vakum. Saya coba lihat temen-temen seperjuangan nge-blog, lah, sama juga, pada kagak ada yang baru, nggak update, mati suri juga, pada mangkrak semua, padahal niat hati pengen cari inspirasi alias nyontek prakatanya dikit (-_-!). BTW, emang saya kemana saja sampek gak buat postingan selama hampir setahun (padahal postingan terakhir bulan April 2012). Biasa coy, sibuk, sibuk gak jelas (hahaaayy… :D).

Back to the topic

Awalnya, saya pengen ngerjain laporan, lah kok malah belok nulis postingan, alhamdulillah, akhirnya si ilham datang juga, kasih inspirasi, niat & kemauan buat nulis, hehe.. (sesuatu banget yah.. :D).

Wahai kaum blogger, sudahkah anda sekalian pernah mendengar soal air terjun Madakaripura? Atau mungkin udah pernah ke sana? Atau malah baru denger ini? Saya juga baru denger soal adanya air terjun ini, nggak lama sebelum berangkat ke sana. Padahal lokasinya masih 1 provinsi dengan kota tempat tinggal saya. Air terjun Madakaripura terletak di kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, nggak begitu jauh dari gunung Bromo (± 2 jam naik motor).

Air terjunnya sih biasa aja, nggak keren-keren amat, jatohnya tetep air, bukan kerikil, apalagi emas (hehe.. becanda.. :D). Suwer, biasa aja, seperti tipikal sungai-sungai pegunungan di Jawa Timur, airnya agak keruh (bukan agak, tapi emang keruh, udah coklat gitu T_T). Beda dengan sungai dari luar pulau, yang deras dan masih jernih, (jadi iri).

Kalau nggak menarik, kenapa diceritain? Eits, jangan salah, ada yang unik dari air terjun ini. Bukan air terjunnya sih yang unik, tapi perjalanan ke sananya yang bikin seru, bikin rempong abis, haha.. (rempong apa’an ya?). Kalau di tempat wisata air terjun lain, jalan menuju lokasi persis ke titik air terjun sudah disediakan dengan cukup baik. Kita cukup mengikuti jalan setapak yang sudah dibuat oleh pengelola setempat. Jalan setapak yang sudah disemen, dibikin tangga, berulir, naik turun, pokoknya aman sejahtera dah, meskipun mesti jalan ± 2 km bolak balik dari parkiran ke lokasi dan sebaliknya. Meskipun naik dan turunnya jalan terasa banget dan mungkin dengan sudut kemiringan bahkan hampir 450, tapi yang penting kan arah jalannya udah jelas, enak buat kaki napak, nggak pake’ guide juga udah pasti nyampek, nggak pake’ nyasar, asalkan kuat jalan.

Lah kalau perjalanan ke titik air terjun Madakaripura? Inget lagu ninja Hattori,,, “… mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah..”, mirip dah, asli mirip. Perjalanan menuju titik lokasi air terjun relatif datar, naik turunnya jalan nggak begitu terasa. Karena dari gapura kabupaten hingga menuju parkiran, naik turunnya jalan lumayan ekstrim, dengan naik kendaraan, sudut kemiringan jalan bisa sampai 450. Terus, apanya yang spesial, kayaknya gak ada tantangannya sama sekali.

(ambil nafas,, hembuskan, ambil lagi,, hembuskan,, ngupil-ngupil bentar, sambil inget-inget perjalanan waktu itu… dan pikiranpun melayang,,, ngantuk.. (-_-“!) heaaah… )

Jadi gini, setelah kita parkir (parkiran motor maksudnya, kalau parkiran mobil masih di belakang motor, nggak jauh-jauh kok, paling juga 50 meteran), kita bisa langsung melihat sungainya (sampek sekarang juga saya gak tau, itu sungai apa namanya). Kalau sudah bisa lihat sungainya, berarti air terjunnya udah gak begitu jauh dong? Nggak juga, kita masih harus jalan kira-kira hampir 1 km menuju lokasi titik air terjun. Disinilah titik mulainya, simak baik-baik ya.. (ya buuuuuu… :D).

Pada suatu hari… Eh salah, jadi pada saat perjalanan dimulai, saat itu juga kita harus menyusuri kali. Benar-benar menyusuri kali, karena jalan setapak (yang sudah semenan) yang dibuat pengelola pemda setempat, sudah 75% hancur (hitungan ngawur, tapi begitulah perkiraan penulis). Kanan dan kiri sungai adalah tebing tanah yang rawan longsor. Ada sih tebing batu, tapi udah jadi rongsokan bebatuan di kali, meskipun masih ada beberapa yang nempel di tebing (nempel? Itu masih jadi tebing kaleee,, cape’ deeh..).

Nggak hanya menyusuri sungai, kita juga harus menyebranginya, dan nggak ada jembatan khusus. Bayangin, jalan zig zag hampir di sepanjang sungai, ngeloncatin batu-batu kecil, belom lagi yang harus ngelewatin batu-batu gede. Kaki jelas basah & celana harus digulung sebatas tertentu biar gak basah. Secara, sungainya keruh, jadi kita gak bisa lihat dasarnya, gak bisa tau seberapa dalam sebelom nyoba sendiri atau lihat orang yang pas lewat, sedalam apa. Juga nggak bisa tau, kita bakalan nginjek apa di dasar sungai. Setiap dari kita, bisa pilih jalannya sendiri-sendiri. Ada yang pasrah menceburkan diri, paling nggak selutut, karena gak bisa naik batu, takut jatuh, licin, dsb (biasanya cewek nih). Ada yang naik turun, naik turun di batu pinggir sungai, karena nggak nemu jalan (haha.. sotoy sih..). Ada yang loncat-loncat di batu-batu kecil. Ada yang nekat lewat batu gede, lalu terpeleset, nggak nyampek kakinya, dan jatuh ke sungai, byuuurrr (itulah saya T_T”).

Di sepanjang jalan pinggir sungai, bisa dilihat sisa-sisa jalan setapak yang hancur luluh lantak karena longsor. Bukan longsor tanah, tapi batu, dan gedenya nangudubillah, bisa segede bak truck.

Masih dapat dijumpai lapak penjual jajanan, minuman ringan & gorengan, tapi tidak terlalu banyak. Jadi jangan khawatir kalo di tengah jalan, perbekalan makanan / minuman anda habis atau mungkin hanyut di sungai, hehe…

Kebayang nggak, jalan menyusuri sungai, loncat-loncat gak jelas di batu, kaki berbasah-basahan, selama kurang lebih hampir 1 km, dan tantangan belum berhenti sampai disini. Di akhir perjalanan menyusuri sungai, ada tantangan lain yang tak kalah beratnya. Di situ, ada 2 kamar mandi, yang diperuntukkan buat toilet & kamar ganti, tapi tempatnya udah hancur berantakan, temboknya runtuh separo, dan atapnya udah gak ada sama sekali. Artinya, kita gak bisa ganti pakaian kalo basah kuyup, dan gak bisa “buang hajat” kalo lagi pengen, hiiiiih.. keren kan???😀

Di situ, juga ada penjual tas plastik ukuran gede (bahasa ngetrennya “tas kresek”) dan sewa payung gede. Kenapa judulnya “gede-gede”, dan buat apa itu kresek & payung? Ternyata oh ternyata, ketika kita sampai di komplek air terjun (hampir masuk ke lokasi utama air terjunnya), kita akan berjalan di bawah cerug air terjun, dimana air yang jatuh seperti hujan yang kadang-kadang deras, kadang gerimis. Alhasil, pastilah barang bawaan dan kita sendiri juga bakalan basah kuyup, kalo nggak di bungkus dengan kresek & pakai payung.

Tapi emang dasar tuh guide, temen saya yang jadi penunjuk jalan, dia satu-satunya yang udah pernah ke lokasi, tapi gak ngasih tau sedikitpun kalo medannya kayak gini, dia sendiri juga gak bawa persiapan perbekalan semacam kresek & payung. Ampun dah, 1 grup masuk jebakan betmen semua (selamat ya, anda berhasil & sukses menjebak kita-kita). Sampai-sampai ada seorang temen yang nyeletuk (setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang gaul tapi tetap baik :D), kira-kira begini bunyinya, “ada nggak, perjalanan ke air terjun lain yang medannya jauh lebih susah dari ini?? Yang lebih bikin sengsara dan lebih ekstrem lagi..!!”. Haha,, kacow balow dah..😀

Jadi, sebelum turun ke cerug air terjun, kita musti bungkusin tuh barang-barang, semacam tas, jaket, dll. Ya gimana caranya supaya semuanya bisa muat di kresek, kalo nggak cukup, ya tambah lagi kreseknya. Belom lagi bagi yang bawa kamera. Masih mending kalau kamera pocket / saku, gampang disimpen, gampang dibawa & gampang digunakan. Lah kamera gua?? SLR cooyy,, bukannya sombong, tapi niat emang mau hunting obyek landscape, lah kok medannya basah kuyup dari segala arah. Ribet lah, mau motret aja harus ada yang mayungin, belom lagi settingannya, dsb. Belom lagi motret harus buru-buru, karena lensa basah terkena embun air, lembut memang, tapi basahnya rata & membuat lensa lembab, jadi hasilnya buram, mesti sering diseka dengan lap kering dulu (untung jilbab gua kering, ternyata, bermanfaat juga selain buat nyeka iler, hihi.. :D). Wah,, malah curhat..

Kembali ke topik, ketika memasuki cerug, sungai sudah datar, suasana agak gelap, karena sinar matahari gak bisa tembus ke bawah (padahal itu siang bolong loh..), lebih banyak lagi batu-batu segede bak truck, airnya mengalir landai & cetek, dindingnya ditumbuhi tumbuhan merambat, hmm.. apa lagi ya..

Hingga akhirnya sampailah ke air terjun utama, cerugnya mirip mangkok. Dan sebagai tantangan terakhir (tapi bukan yang paling akhir, karena saat perjalanan pulang, kita pun harus melalui jalan yang sama seperti saat berangkat, persis deh, karena gak ada jalan lain, cuman 1 itu doang), kita harus melewati jalan setapak, bener-bener setapak. Itu jalan cuman bisa muat buat 1 tapak kaki, ada juga yang setengah telapak kaki doang, dan jalan itu terukir di atas batu, batu yang udah terkikis tetesan air, jadi semacam kayak karang gitu, bolong-bolong, semi hijau, licin, lumutan. Kalau mau lewat, harus gantian, karena cuman ada 1 jalan itu saja. Satu tangan megang dinding batu (yang basah, licin & lumutan), tangan satunya megang barang, kaki hati-hati melangkah, mata melihat ke segala arah (kecuali belakang), mulut sambil gerak-gerak gak jelas (gak tau berdoa, apa ngomong sama siapa, miris-miris takut jatoh, ato komat-kamit gak jelas).

Setelah melewati titian terakhir, barulah kita bisa benar-benar sampai di dekat air terjunnya. Benar-benar dekat, paling dekat berjarak sekitar 10 meteran dari jatuhnya air. Hawanya yang dingin, semburan airnya yang sampai bikin basah kuyup (sebelumnya juga sudah basah sih :D), dan melihat kokohnya dinding-dinding tebing yang mengelilinginya. Subhanallah dah..

Berdiri sebentar, merenung, menyaksikan lukisan Tuhan yang maha indah, kebesaran-Nya sungguh terasa, meskipun sambil menggigil kedinginan, sampek lupa mau poto-poto. Hanya sekitar 10 sampai 15 menit berdiri di sana, lalu kami pun kembali, menyusuri jalan yang sama, selangkah demi selangkah. Meninggalkan suara gemercik air, hijaunya pepohonan, dinginnya suasana, mengingat harus segera menuju kota tempat tinggal. Yap, untuk kembali bergumul dengan kesibukan. Kok malah jadi melow gini yak.. T_T”

madakaripura story line

Madakaripura Story Line

Jadi, pelajaran apa yang bisa diambil dari hasil berwisata ke air terjun Madakaripura itu?

  1. Pakailah sandal atau alas kaki yang anti air & anti selip. Jangan pakai sandal jepit biasa, karena bila jebol, bisa-bisa anda “nyeker”, padahal perjalanan masih jauh, dan sayangilah kaki anda (pesan sponsor :D). Kenapa harus anti selip, karena jalan di batu kali juga licin. Kalau anda terpeleset dan jatuh di air sih mending, tapi kalo jatuh di batu? Masak iya batunya yang pecah, enggak lah.. belum lagi kalau jatuh pas di air yang deras, bisa hanyut loh..
  2. Bawa tas yang anti air, atau yang ada hood-nya. Atau bisa juga bawa kresek super besar, dan amankan semua barang anda seaman-amannya dari air & kelembapan, terutama barang elektronik.
  3. Sekalian pakai jas hujan. Terserah mau yang pakai terusan / yang potongan. Pokoknya lindungi tubuh anda dari gemercik air terjun, jaga agar tetap kering. Kecuali anda memang ingin berbasah-basah ria, tapi ingat, gak ada kamar ganti loh..
  4. Bawa minuman yang cukup, snack dan makanan yang agak berat. Makanan & minuman tersebut mungkin tidak sebegitu terasa dibutuhkan ketika jalan menuju air terjun, tapi akan sangat terasa butuhnya ketika perjalanan balik / pulang. Karena tenaga telah banyak terkuras, pakaian basah & tubuh kedinginan, semuanya adalah faktor penting dalam membuat perut anda menjadi keroncongan (karena kehabisan energi & kedinginan). Makanan berat disini bukan makan batu, tapi cobalah bawa nasi beserta lauk pauknya, pasti lebih mantap. Karena meskipun banyak terdapat penjual makanan (yang buka lapak dagangan di sekitar lokasi), tetap tidak akan dapat memenuhi selera perut anda yang sudah kelaparan akut (contohnya saya, sudah habis gorengan 7 buah, minum air mineral sebotol, mie kuah sebungkus, tetep aja nggak kenyang, busung lapar dadakan kali.. :D).
  5. Untuk barang-barang elektronik, seperti HP dan kamera, benar-benar harus dijauhi dari yang namanya air. HP tidak berguna untuk telpon maupun sms, karena sinyal sama sekali gak bisa masuk, tapi kalau buat foto-foto (apalagi yang narsis), masih bisa lah. Bagi yang membawa kamera saku, tidak ada masalah, karena penggunaan & penyimpanan yang mudah. Tapi bagi anda yang membawa kamera SLR, harus lebih ekstra hati-hati, seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya. Dan ketika sampai di rumah, segera bongkar peralatan elektronik anda (bagi yang bisa bongkar pasang, seperti HP), lalu jemur di tempat panas, tapi tidak terkena sinar matahari langsung (dan nggak berarti di atas kompor juga). Kamera saya harus dijemur 2 hari, supaya lembabnya benar-benar hilang, bisa gawat kalo di dalamnya sampai tumbuh jamur (ntar bisa dimasak sama emak, haha..).
  6. Jangan ke sana bila sedang musim hujan, karena pasti rawan longsor, dan ingat, yang longsor bukan hanya tanahnya doang, tapi batu-batunya yang segede bak truck bisa sukses meluncur kapan saja. Lagian juga pastinya ditutup sama pengelola. Belum lagi bila debit air meningkat, kemungkinan besar kita nggak bisa menyebrangi sungai, karena batu-batuan yang biasanya jadi pijakan jadi tenggelam. Dan pastinya arus juga jadi lebih kencang. Jadi, perhatikan musim kalau mau pergi ke sana, dan nggak usah maksa masuk bila memang sedang ditutup karena suatu hal oleh pengelola (inget aja, sayang sama nyawa J).

Nah, kalau anda ingin pergi mengunjungi air terjun Madakaripura, setidaknya anda sudah punya gambaran tentang lokasinya dan persiapan apa saja yang harus dilakukan, supaya anda tidak terkena jebakan betmen seperti grup saya.

Soal road map, wah maap, saya tidak ingat jelas, silahkan cari referensi lain mengenai hal ini. Yang jelas saya ingat adalah betapa kerennya perjalanan menuju ke lokasi, hehe…

Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat, dan wassalam mua’alaikum warohmah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: