Nerimo Ing Pandum, Bukan Berarti Pasrah & Menyerah Begitu Saja


nrimo ing pandum

Nrimo Ing Pandum

Tumben-tumbennya postingan saya kali ini berhubungan dengan falsafah Jawa. Padahal bahasa Jawa saya nggak begitu lancar-lancar amat, (apalagi bahasa jawa alus, beuh,,, serasa berada di planet lain kalo denger orang ngomong pake’ bahasa itu, hehe…) meskipun saya orang Jawa loh. Postingan ini masih berhubungan dengan postingan yang lalu, yang berjudul “Hidup Adalah …”. Tiba-tiba saja terfikirkan koneksi antara hidup, perjuangan dan kepasrahan. Kayaknya sih agak ngaco’, tapi saya coba uraikan deh, selamat membaca…

Dulu waktu kuliah, saya masih inget betul dosen mata kuliah kewarganegaraan saya berkata, yang kurang lebih bunyinya, “Kita tidak boleh menjadi orang yang “nerimo ing pandum”, sudah nggak jamannya lagi, kita tuh seharusnya berjuang, bla.. bla.. bla…” (selebihnya udah nggak inget lagi, hehe.. :D). Dimana artinya “nerimo ing pandum” adalah sama dengan pasrah, menerima apa adanya begitu saja. Ini merupakan salah satu falsafah orang Jawa yang cukup terkenal. Salah satu yang disindirnya mengenai falsafah ini adalah kehidupan orang-orang kecil / rakyat yang hidupnya susah, yang hidupnya selalu ditindas penguasa, yang hidupnya selalu terpinggirkan, tak pernah masuk “hitungan”, dan parahnya, tak pernah berusaha melawan, tak pernah berusaha memperjuangkan hak-haknya terhadap para penguasa yang lalim alias dzolim, dan mereka hanya diam menerima, pasrah saja pada keadaan. Karena itulah hidup mereka jadi susah seperti ini. Dulu saya pikir ada benarnya pendapat beliau (dulu sih masih o’on, mana pas jam kuliah  itu saya lagi ngantuk-ngantuknya, ongap angop mulu’, pantesan isinya ho’ah ho’oh aja kalo dikuliahin), tapi belakangan pikiran saya terhenyak dari tidur.

Saya rasa, sudah yang banyak salah kaprah mengartikan falsafah Jawa yang satu ini. “Nerimo ing pandum”, bukan berarti kita pasrah dan diam saja atas apa yang terjadi dalam hidup ini tanpa kita melakukan sesuatu (perjuangan) sebelumnya. Falsafah itu berlaku, hanya bila kita telah memaksimalkan segala usaha (ikhtiyar) dan doa, namun hasilnya belum seperti yang kita harapkan, itulah yang harus kita terima, yang kita pasrahkan, yang “nerima ing pandum” sesungguhnya. Ingat, manusia memang boleh berencana, berusaha dan berdoa, namun Tuhan jua yang menentukan segalanya.

Meskipun sudah pasrah dalam keinginan yang tidak tercapai, namun bukan berarti kita menyerah dan berputus asa. Kita terima dulu saja keadaan, ambil waktu untuk mengevaluasi diri dalam kegagalan. Coba bertanya pada diri sendiri, mengapa Tuhan belum mengijinkan keberhasilan bagi usaha kita? (jiaah, ini mah mirip kata-katanya pak Mario, “Super sekali…”). Mungkin Tuhan menginginkan kita belajar sesuatu dalam kegagalan tersebut, sebab pada setiap peristiwa, selalu ada hikmah yang terkandung di dalamnya.

Jadi, bagi saya, “nerima ing pandum” adalah pasrah dan menerima keputusan Tuhan atas segala usaha yang telah kita lakukan. Doapun adalah usaha, doa juga adalah perjuangan. Apa yang menurut kita baik untuk kita, belum tentu baik di mata Allah. Dan juga sebaliknya, apa yang buruk menurut kita, belum tentu juga buruk menurut Allah. Maka dari itu, sudah sepatutnya kita menerima dengan ikhlas dan pasrah segala keputusan-Nya, itulah makna “nerima ing pandum” yang sesungguhnya.

Tapi kebanyakan orang sekarang salah mengartikan falsafah tersebut. “Nerima ing pandum” dianggapnya sebagai sikap diam saja ketika ditindas oleh para penguasa yang lalim alias dzolim. Sekiranya, itulah anggapan dosen saya. Jadi menurutnya, kita harus bertindak, menumpas kejahatan menegakkan keadilan, dengan kekuatan bulan, akan menghukummu… (haduh, kenapa jadi sailormoon ya,, aneh.. T_T).

Masih menurut beliau, kenapa banyak rakyat miskin, rakyat dibodohi, dan mereka diam saja terhadap perlakuan semena-mena para penguasa. Saya rasa, dalam konteks ini, tidak akan ada seorangpun yang akan diam bila diperlakukan demikian. Mereka (rakyat) tentu saja sudah berusaha dan berjuang, hanya saja belum membuahkan hasil yang nyata dimata kita. Rakyat bisa saja berkata, “Yah, kita kan cuman orang kecil, ya beginilah hidup, mau gimana lagi, terima aja deh..”, tapi kenyataannya, bukan main, berbagai macam pekerjaan mereka lakoni, ada yang halal ada juga yang haram, yang pake’ tipu-tipu maupun yang terang-terangan jadi kriminal. Bahkan, kriminal-kriminal kecil macam begini juga ada korelasinya dengan pelaku kriminal yang lebih besar.

Oke deh, sekian dulu ulasan saya mengenai salah satu falsafah jawa yang paling tersohor, yaitu “nerimo ing pandum”. Mungkin lain kali kalo ada falsafah lain yang cocok dengan minat tulisan saya, Insyaallah, bisalah dimuat dalam postingan lagi, hehe… Makasih udah baca, semoga bermanfaat, wassalam…

NB :

O iya, mengenai kata-kata dosen saya tersebut sewaktu kuliah, kalo ditilik lagi, saya sudah nggak ingat sama siapa saja teman sekelas saya waktu itu. Nah, kalo ada yang sekelas sama saya waktu beliau bicara begitu, mungkin bisa dikoreksi/diingatkan, bener nggak beliau bicaranya begitu. Tapi yang seingat saya betul, memang inti kata-katanya sih begitu. Maap, takut salah, takut jadi fitnah. Tapi kan tadi saya sudah bilang “kurang lebih bunyinya…”, jadi itu hanya sesuai dengan ingatan saya, hehe.. Ya harap maklum deh, itu kejadian tahun 2007 alias sewaktu saya masih semester pertama. Nah sekarang nulis postingannya udah tahun berapa ini, 2011 coy, udah 4 taun. Bismillah, semoga benar, gak jadi fitnah, dan bisa bermanfaat, aamiiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: