Balekambang yang Berdebur Ombak


pantai

Pantai Balaikambang, Malang Selatan

Kali ini saya posting dalam kategori baru, yaitu “Vacation”. Apalagi isinya kalau bukan membahas tentang berbagai tempat wisata yang pernah saya kunjungi, baik lokal maupun interlokal (hah?? Ini wisata apa telpon?). Sebenarnya sudah banyak tempat wisata yang pernah saya kunjungi, cuman baru kali ini saya menulis tentang ulasannya.

Okelah, langsung saja, sesuai dengan judulnya, saya ke pantai Balaikambang (atau Balekambang) yang terletak di Malang selatan. Memanfaatkan liburan natal (yang sebenarnya agak maksa, sebabnya liburnya pas hari minggu, nggak oke banget sih tahun ini, banyak tanggal merah yang jatuh pas hari minggu… ckckckckc.. malah curhat  -_-“), saya berangkat dari Surabaya menuju ke tengah kota Malang di hari Sabtu, menginap dulu 1 malam, baru besok paginya (Minggu, 25 Desember 2011) berangkat ke tujuan. Dari tengah kota Malang, melaju saja ke arah selatan, lurus aja deh. Waktu itu saya berangkat pagi, sekitar setengah 7, dengan matahari yang masih berada di timur, mudah saja menemukan arah selatan, pokoknya matahari tetap di sebelah kiri. Secara, kami semua belum pernah ada yang ke sana, dan satu-satunya petunjuk (sebelum menemukan arah petunjuk jalan yang jelas) adalah dengan terus mengarah ke selatan.

Ke selatan menuju ke Gondang Legi, dari sana baru terlihat jelas petunjuk arah ke pantai Balekambang, yaitu sekitar 33,5 km. Dari Malang kota ke Gondang Legi kurang lebih berjarak 25 km (menurut meteran di mobil sih gitu :D), jadi total dari Malang kota ke pantai Balekambang berjarak sekitar 60an km (kalau sama nyasarnya sih belum masuk hitungan, hehe…), dengan estimasi waktu sekitar hampir 1,5 jam (jalannya nyantai, sambil menikmati pemandangan).

Kata orang-orang yang udah pernah ke sana, jalannya jelek, belok-belok dan sempit. Memang benar, jalannya ada yang rusak, tapi sedikit. Berbelok-belok, tapi di kanan kirinya terhampar berbagai tanaman palawija yang ijo royo-royo dan sejuk dipandang mata. Jalannya memang sempit, tapi ini kesempatan untuk dapat memacu kendaraan secara perlahan dan agar lebih bisa memanjakan mata dengan pemandangan alam khas pegunungan yang tidak bisa ditemukan di kota-kota besar. Udaranya sejuk dan jalannya teduh, apalagi kalau yang kanan kirinya masih berupa alas, seger abeeesss dah…😀 Tapi itu emang komentar orang-orang yang gak punya jiwa petualang (jiah,, bolang kalee..), gak doyan sama suasana alam, biasanya pecinta mall sejati dan gak mau repot. Sebenarnya saya kesana juga bukan karena saya punya jiwa petualang, tapi karena sang supir udah rela dan pasrah mau nganterin, karena termakan bujuk rayu dan iming-iming bisa molor di pinggir pantai sambil dengerin musik alam alias deburan ombak yang terpecah karang (hehe… yang penting gak digendam / dihipnotis :D).

Ada beberapa hal menarik yang saya temui selama perjalanan menuju ke pantai. Yaitu jalannya yang malah menanjak, dan banyak tikungan tajam, lebih serasa ke pegunungan dimana biasanya membuat kuping agak buntu karena perbedaan ketinggian yang ekstrim. Jalannya juga berkelok-kelok dengan pohon-pohon besar dan tinggi khas hutan, yang menghalangi sinar matahari menyentuh tanah. Tapi alhamdulillah, akses jalan kebanyakan udah bagus, sudah pada diaspal disertai beberapa petunjuk arah yang jelas di setiap persimpangan.

Hampir masuk ke lokasi, kita harus bayar, mobil @Rp2.000,- dan Rp10.500,- per orang. Ada juga tarif untuk jenis kendaraan lain tapi saya tidak begitu memperhatikan, sibuk ngeliatin pohon-pohon besar tua yang menjulang tinggi dan tegak, banyak sulurnya dan berlumut, sambil bertanya-tanya, “nih pohon kira-kira umurnya berapa ya? Kayaknya kok udah ada dari jaman Mojopahit” (maklum, ngelantur :D). Tapi nanti ketika sampai di lokasi, ternyata masih ditarik karcis parkir sebesar Rp3.000,- per mobil. Tapi jangan mau kalau disuruh parkir di luar, sebab jauh dari lokasi utama, yaitu pulau Sempu tadi. Apapun alasan yang diungkapkan si tukang parkir, anda harus bisa masuk ke lokasi utama, sebab jaraknya lumayan jauh kalau harus jalan dulu dari tempat parkir luar.

Cukup sampai disini menceritakan tentang perjalanan, sekarang waktunya cerita tentang lokasi pantainya. Keluar dari mulut hutan (maksudnya jalan yang kana kirinya masih hutan), kita langsung disuguhi pemandangan buih putih dan pantulan cahaya dari laut yang ada di depan mata, padahal jaraknya masih sekitar 50-an meter dari akses jalan kendaraan menuju bibir pantai. Pasirnya lembut, ada banyak pepohonan yang tumbuh di sekitar bibir pantai, jadinya teduh. Di sana terdapat pulau kecil, yang dihubungkan dengan jembatan dari beton. Di sana terdapat sebuah bangunan pura, tapi sayangnya dikunci, tidak dibuka untuk umum, atau mungkin hanya dibuka bila ada upacara adat / keagamaan / acara tertentu saja, jadi kita hanya bisa jalan-jalan di sekitar pulau tersebut. Dari pulau tersebut, kita bisa melihat pemandangan ke arah pulau utama, atau ke arah laut lepas yang di bawahnya terdapat karang-karang besar berdebur ombak, dimana airnya jernih dan dasarnya masih bisa terlihat.

Di bawah jembatan pulau, banyak anak-anak yang berenang, karena ombah terpecah oleh pulau, jadi arus tidak terlalu kencang. Di sebelah kanan pulau, tepatnya sebelah kanan jembatan, terdapat muara sungai yang berarus tenang, dangkal, jernih, teduh dan cukup luas, disini adalah lokasi favorit para orang tua yang bemain air bersama anak-anak mereka. Lebih ke kanan lagi, dapat dijumpai hutan mangrove yang lumayan lebat, dimana air masih jernih dan berarus tenang, tapi tempatnya lumayan gelap, karena memang hutan mangrovenya lumayan lebat. Konon katanya disana ada buaya, buaya darat (haha…), karena jadi lokasi favorit bapak-bapak nelayan mencari kepiting laut.

Agak sulit digambarkan (lebih mudah menggambarkan perasaan yang lagi galau, wkwkwkwkwk.. lebay bin GJ mode on) lebih detil lokasinya. Pokoknya lumayan lah buat cuci mata dan menikmati lukisan Tuhan. Pengennya sih kesana supaya bisa sholat dhuhur menghadap laut, bayangan saya, bakalan mantep banget dah, serasa melihat Tuhan melukis dengan tangan-Nya sendiri. Eh, lah kok masih jam 10 saja udah rame banget, gak ada tempat yang sepi, semuanya penuh orang, banyak kendaraan  parkir, dan tak ketinggalan, banyak juga stand penjual makanan, mana kiblatnya bukan menghadap ke laut ternyata (haha.. ya iyalah, namanya juga laut pantai selatan… ).

Untuk fasilitas pemandian umum (bilas setelah berenang / main air di laut), cukup bersih memang tempatnya, tapi airnya keruh dan asin, mungkin ambil dari air laut juga kali, atau air sumur yang masih tercampur sama air laut. Bayarnya @Rp2.000,- sepuasnya, bisa bayar Rp1.000,- buat yang cuman buang air kecil, itu juga masih bisa nawar, tapi lihat-lihat dulu model orang penjaganya (galak apa nggak,, :D). Disana banyak penjual makanan keliling (nasi, gorengan, snack, es krim, dsb), toko souvenir, dan kios makanan. Disana tidak ada persewaan ban, karena memang dilarang keras berenang (ada tulisan dilarang berenang karena ombak ganas), sebab ombaknya cukup ganas dengan karang-karang besar yang warnanya mirip pasir.  Tapi kalau buat main air dan berendam di pinggiran pantai, boleh-boleh aja (ada aja akalnya :D). Tidak ada penjaga pantai resmi, yang ada hanya penduduk sekitar yang diberdayakan untuk mengamati kondisi sekitar pantai. Orang-orang yang basah kuyup juga bukan karena berenang, tapi karena main air, terkena ombak atau lempar-lemparan pasir. Kalau emang mau berenang, kebanyakan di muara sungai atau di bawah jembatan.

Menurut saya, overall, most is worthed (jiah, belagu.. :P), maksudnya, antara perjalanan, medannya dan hasil yang dicapai, secara keseluruhan cukup memuaskan, sepadan dengan perjuangan untuk menuju ke sana. Tapi sebaiknya sampai disana ketika masih pagi, sekitar jam 8-an kurang, sebab semakin siang, ternyata semakin banyak orang yang datang, apalagi saat musim liburan, menyebabkan dapat mengurangi kenyamanan anda dalam menikmati keindahan pantainya. Khususnya bagi yang suka hunting foto, banyak spot yang menarik, cocok juga buat lokasi prewed. Sayangnya, ketika kesana, saya tidak dapat pinjeman kamera DSLR (hiaah,, pinjem bangga), tapi dengan kamera HP, saya coba maksimalkan hasilnya, seperti yang saya pajang sebagai DP postingan.

Oke, cukup sekian dulu ulasan mengenai objek wisata kali ini. Insyaallah, kalau besok-besok saya bisa mengunjungi lokasi lain, akan ada postingan baru tentunya. Wassalam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: