Andaikan Presidenku Adalah …


president

The President

Entah harus memulai dari mana untuk menulis postingan ini, pikiran saya penuh dengan hal-hal yang berbau politik serta anggapan skeptis mengenai segala permasalahan di negeri ini. Ini kesekian kalinya saya menulis mengenai keprihatinan saya akan tumbuh kembang negara saat ini. Saya bukan ahli politik, juga bukan mahasiswa jurusan ilmu sosial dan politik, tidak tertarik akan politik sama sekali bahkan bisa dibilang saya benci politik dan saya sebenarnya tidak suka membicarakan mengenai politik. Tapi entahlah, setiap kali saya menyalakan tv, berita politik beserta segudang anak turunannya selalu menghiasi layar kaca, dan saya selalu kebagian melihatnya, padahal tak ada niatan sama sekali untuk menyimak acara tersebut. Begitupun mengenai media massa dan internet, semuanya membahas hal yang sama. Terus menerus begitu selama beberapa hari, sampai-sampai di kepala saya berputar-putar kata-kata mengenai politik yang tiada habisnya, padahal saya sendiri punya masalah pribadi yang tak kalah bikin pusingnya.

Kenapa saya ikut pusing dengan masalah ini? Bukan karena sok-sok-an mau ikutan sebagai pemula dalam kancah politik (meskipun sebagai komentator amatir belaka). Toh juga tak banyak hal yang pernah saya lakukan untuk memajukan/menjadikan negeri ini lebih baik. Saya juga bukan warga negara yang terlalu taat hukum. Saya juga tak ikut andil dalam melestarikan kebudayaan negeri ini. Bahkan banyak hal yang masuk kategori “sikap patriotisme” yang tidak saya lakukan. Intinya, saya mungkin bukanlah seorang warga negara Indonesia yang baik. Lalu kenapa? Karena saya cinta negeri ini, saya hidup disini, dan saya berharap agar suatu saat nanti negeri ini bisa mencapai taraf kehidupan yang lebih baik dari segala sisi. Entah itu aturan hukumnya, para pejabat/penguasa negara, para penegak hukum, aparatur negara, pengusahanya, hingga rakyat biasa, dan semuanya bisa benar-benar hidup dalam kemakmuran dan kenyamanan, adil sentosa dalam kebersamaan. Bukankah hidup indah jika demikian ??? (bengong sampek ngiler, ckckckck…).

Namun apa mau dikata, semua permasalahan di negeri ini tak lepas dari yang namanya politik. Apa sih permasalahan di negeri ini yang tidak dipolitisasi? Coba saya sebutkan; mulai dari politisasi dan korupsi anggaran/dana pendidikan, kesehatan, pengadaan barang, bimbingan teknologi (bimtek), pemilu, konggres partai, sarana dan prasarana, kunjungan kerja, proyek pemerintah (yang kini lagi heboh banget), bantuan bencana, hmm… apa lagi ya? Ada yang mau menambahkan??

Belum lagi masalah korupsi yang sangat terstruktur dan sistematis mulai dari yang paling bawah, hingga yang paling atas. Mulai dari saling menyalahkan, saling tuding, saling memojokkan, saling fitnah, saling menjatuhkan hingga saling membunuh. Semuanya demi menyelamatkan diri masing-masing atas harta haram yang mereka dapatkan.

Ya Robbi, apa mereka sudah tidak punya malu? Apa mereka sudah sebegitu serakahnya? Apakah mereka telah menggadaikan jiwa mereka kepada berhala, kepada syetan? Apakah hati mereka sudah sedemikian kerasnya? Apakah mata hati mereka sudah sedemikian dibuat buta oleh harta? Apa mereka telah kehilangan nurani untuk menilai dan membedakan mana yang haq dan yang batil? Padahal mereka jelas-jelas tahu, disekeliling mereka masih banyak orang-orang miskin, yang terlantar, yang yatim dan piatu, yang cacat, yang kelaparan, yang menggelandang, yang kondisinya jauh lebih buruk dari mereka. Kenapa? Apa yang membuat mereka begitu keras hati lebih memilih harta daripada bertanggung jawab atas beban amanah yang mereka pikul? Naudzubillah, apa yang sudah mereka lakukan kepada negeri ini, kepada rakyatnya? Ingin sekali rasanya saya menemui mereka, dan menanyai langsung mengenai hal ini, apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Melihat dari dekat raut wajah dan pancaran sinar matanya, mendengar sendiri nada bicara mereka, melihat sendiri perilaku mereka.

Sebegitu peliknya segala permasalahan di negeri ini, bahkan dari hal yang terkecil dan termudahpun, dibuatnya menjadi sangat sulit dan berbelit-belit, sedangkan masalah yang besar dibiarkan menghilang begitu saja, atau bahkan sengaja dihilangkan. Karena itulah, setiap kali teringat akan nasib malang negeri ini, saya suka berandai-andai. Andaikan presidenku adalah si fulan, atau si fulan, mungkin negeri ini bisa benar-benar baik dan makmur. Inilah yang saya bayangkan :

1. Andaikan Presidenku Adalah Khulafaur Rasyidin.

Bagi para muslim di seluruh dunia, siapa yang tidak tahu mengenai Khulafaur Rasyidin, yaitu kekhalifahan pada zaman sahabat setelah sepeninggal Rasulullah SAW? Kalau nggak tau, maka sungguh terlalu, Islam KTP kali tuh (haha.. malah jadi sinetron, ckckckckck…). Tak ada satupun dari ke-4 khalifah tersebut yang dalam sejarahnya mengingkari yang namanya keadilan, kejujuran dan amanah. . Mereka pernah dizholimi, tapi mereka selalu bersikap adil. Mereka pernah dibohongi, tapi mereka selalu menjunjung tinggi kejujuran. Mereka pernah dikhianati, tapi mereka adalah orang yang benar-benar menjaga dapat menjaga amanah.

Mereka selalu mengutamakan kepentingan rakyat, daripada urusan pribadi. Tidak ada satupun dari mereka yang memilih hidup bergelimang harta, gila jabatan maupun suka bermusuhan. Hidupnya penuh dengan kesederhanaan, qona’ah dan tawadhu’.

Jika mereka harus berperang, maka itu dilakukan benar-benar karena Allah, karena agama, karena islam dan tauhid. Karena jasa merekalah, Islam pernah berjaya dengan menguasai 2/3 dunia (kalo nggak salah sih, kalo salah ya maaf, dan mohon dikoreksi :D), yaitu pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab ra. Dan banyak yang memeluk Islam karena mereka merasa nyaman dan aman, bukan karena merasa terjajah dan terdzolimi.

Islam dan segala kebaikan yang diajarkan di dalamnya benar-benar hidup dan bersinar pada masa itu, tidak seperti sekarang yang banyak pengikutnya, namun hanya tinggal nama, seperti sabda Rasulullah SAW berikut :

Mereka adalah manusia terbaik yang diciptakan setelah para nabi dan rosul, dan mereka hidup di jaman terbaik yang pernah ada.

2. Andaikan Presidenku Adalah dari Negara Persemakmuran.

Tidak ada yang salah dengan judul pengandaian ketiga di atas. Hal ini berdasarkan pengamatan saya terhadap para negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Brunei dan Australia. Mana dari ke-4 negara tersebut yang tidak makmur penduduknya? Mungkin memang tidak 100%, tapi yang jelas jauh lebih baik dari kondisi negeri kita selama ini.

Sempat terbesit dalam benak saya, andaikan dulu Indonesia jadi negara persemakmuran Inggris, mungkin sekarang sudah makmur, seperti halnya negara sebelah. Atau mungkin jadi negara persemakmurannya Perancis, mungkin sekarang Indonesia sudah jadi negara ketiga bagi Zidane (walah, kok arahnya kesitu toh?), ya maklum, namanya juga berangan-angan😀.

Apa yang kelihatannya baik (seperti angan-angan saya ini), belum tentu baik pula kenyataannya. Namanya juga hidup, selalu ada sisi positif dan negatifnya.

3. Andaikan Presidenku Bisa Menepati Janji-Janjinya.

Masih ingatkan ketika masa-masa pemilu mendekat, kita seakan panen janji-janji manis dari para calon punggawa negeri ini. Semua jurus mautnya dikeluarkan, hingga membuat rakyat klepek-klepek. Belu lagi bila dipusingkan dengan masalah anggaran yang digunakan untuk kampanye, yang mampu menyedot hingga triliunan rupiah untuk membiayai pemilu yang notabene sarat dengan manipulatif dan kecurangan, padahal banyak rakyat terlantar dan hidupnya mengenaskan.

Sebenarnya, janji-janji masa pemilu itu bagus-bagus semuanya, keren, hebat, spektakuler dan sangat mungkin untuk diwujudkan. Tapi sayangnya, pada kenyataannya, mungkin hanya 1%-5% saja yang terealisasi.

Menepati janji memang bukan perkara yang mudah, apabila menyangkut urusan mega super negara ini. Sebab harus melibatkan banyak unsur, seperti para mentrinya, departemen, MPR & DPR, partai, fraksi, satuan tugas, TNI & POLRI, dsb. Dimana kesemuanya itu memiliki struktur organisasi yang panjang (kali lebar sama dengan legaaa!!!), membuat perombakan ke arah yang lebih baik menjadi ruwet bin mbulet alias janji yang sulit ditepati (lebih mendekati ke arah mustahil(_ _ !)).

Apa sih sebenarnya janji-janji mereka? Setahu saya, ada x jenis janji, diantaranya yaitu :

  • Mengentaskan kemiskinan (dari di bawah garis kemiskinan, naik pas ke garis kemiskinan. Nah loh, nanggung amat naiknya, ckckckcckck… ).
  • Ketersediaan lapangan pekerjaan (jumlah lowongan dan pencari kerja yang tak seimbang, menyebabkan pendapatan perkapita menjadi rendah, belum lagi efek kapitalisme lainnya).
  • Kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan (sama-sama memperoleh pendidikan yang makin mahal tapi tidak berkualitas, selalu ramai kalo pas lagi mau UNAS, pungli, dsb).
  • Perbaikan ekonomi (maunya sih swasembada beras dan daging, nyatanya masih impor juga, harga sembako yang selalu naik tidak karuan pada saat-saat tertentu, nilai tukar $ yang nggak balik-balik lagi seperti dulu, petani yang makin tersungkur, dsb)
  • Penegakan hukum (mafia pajak, mafia peradilan, mafia kasus, semua mafia ada deh di sini. Yang berduit bisa lolos, yang miskin babak belur. Para personel hukumnya pada pandai bersilat lidah, memutar balikkan fakta dan menghilangkan barang bukti. Dsb).
  • Memberantas korupsi (ini yang paling bikin gemes, diganti aja judulnya “menyuburkan korupsi”, speechless deh kalo bicara soal yang 1 ini, udah pada tau semua gimana ceritanya, huffthh..).

Wahai para pemimpin negeri ini, renungilah wasiat Umar bin Khattab semasa hidupnya, yang saya kira cukup bagus untuk menampar wajah para penguasa negeri ini, agar mereka punya rasa malu (itupun kalau masih punya), agar mereka punya perasaan yang peka (udah sekeras batu hatinya), mengetuk hati nuraninya (udah pulang kampung si nurani, kagak bakalan balik lagi), agar mereka memperhatikan amanah dalam jabatan yang mereka pegang saat ini (amanah itu harta dan jabatan yang harus digunakan sebaik-baiknya untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dan menindas rakyat sekeji-kejinya).

Berikut adalah wasiat Umar bin Khattab semasa hidupnya:

  • Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu, karena celamu lebih banyak darinya.
  • Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
  • Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah ALLAH SWT. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain ALLAH SWT.
  • Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
  • Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan.
  • Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

Subhanallah, 6 hal inilah yang belum dimiliki para pejabat dan penguasa negeri ini. Mereka saling mencela, saling memusuhi satu sama lain. Dimana sebelumnya mereka saling memuji karena “ada kepentingan” di dalam “persahabatan” mereka. Yah, kita doakan saja semoga tidak selamanya demikian. Sembari kita terus membangun diri ini ke arah yang lebih positif. Semoga saja…

Jazakullah khoiron katsiro..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: