Mudahnya Rakyat Bangsa Ini Diprovokasi


provokasi

Provokasi ft. Provokator

Bismillah,,, padahal tidak ada maksud buat postingan, tapi apa yang terjadi pagi buta dini hari tadi, memberikan saya ide (ahaaaa,, ting ;)). Temanya kali ini tentang kebangsaan, nggak jauh-jauh dari tanggal 1 Juni kemarin, yang bertepatan dengan hari kesaktian Pancasila (yang katanya kini udah agak nggak sakti lagi L).

Jadi begini, alkisah di suatu pagi buta, saat enak-enaknya mimpi, serasa saya dibawa paksa keluar dari jamban mimpi, lantaran mendengar suara gaduh orang lagi berantem. Rasanya tuh orang teriak-teriak pas di kuping saya (kenapa nggak di kupingnya pak RT aja?? Soalnya rumah pak RT jauh dari TKP :P). Alhasil, mata ini langsung membelalak, kirain udah jam 6-an, dan saya kaget bukan lantaran karena suaranya yang lantang, tapi saya takut kelewat subuhan (ow, aku terkejuuuttt,,!!! nggak ekspresif sama sekali, ckckckck…), karena biasanya bapak bangunin saya sebelum adzan subuh. Apa iya seisi rumah pada kesiangan? Pada kagak denger adzan? Pada kesumpel kaki setan semua kupingnya? Soalnya kalo kesiangan, biasanya udah nggak denger apa-apa lagi (maksudnya nggak denger pengajian subuh di mushola, ato puji-pujian, ato suara wiritan sehabis sholat jamaah). Wah-wah, gaswat nih (pikir saya), sungguh terlalu (-_-“). Tapi setelah 5 menit terbangun, tuh orang-orangnya yang sebelumnya pada rame sendiri, tiba-tiba diem, dan sesaat setelahnya, terdengarlah bunyi qiro’ah subuh dari mushola sebelah. Alhamdulillah, ternyata nggak kelewat subuh, untungnya nggak buru-buru nyiram bokap sama air segayung (kayak berani aja, ckckckckc…), gara-gara  dia kesiangan jadinya seisi rumah pada kesiangan juga semuanya.

Jadi, apa sebenarnya masalah penyebab kegaduhan tadi? Siapa saja mereka? Kenapa tiba-tiba suasana jadi hening mendadak? Dan apa hubungannya sama tema kebangsaan dan pancasila? Berikut hasil penelusuran saya (haha,, belaga reporter aja, nggak pantes tau !!!). Yuuuk mariiiii,, cekidot gan…😀

Menjelang matahari terbit, sekitar setengah 6, saya keluar rumah, dengan menyandang misi mencari informasi, saya belaga olah raga mulet-mulet di depan pager rumah. Busyeeettttttt,, belum juga satu gerakan, udah keburu salting, kenapa? Apa saya nginjek kotoran anjing yang tiap hari rajin lewat depan rumah. Enggak, bukan, tapi karena di samping kiri rumah, kira-kira 20 meter-lah, disitu banyak nongkrong warga asing yang mukanya lagi pada tegang (ngapain, ngeden? Aduuuh, bukan, tebakan lo nggak mbois banget sih, hush,, hush,, pergi-pergi!! Ngotor-ngororin narasi gua aja!!!). Mereka lagi tegang karena salah satu warga sukunya yang tadi barusan terlibat adu mulut dengan warga asing sebelah.

Sebentar-sebentar, warga asing? Ekspatriat? Bule? Lagi di Bali? Ato bertempat tinggal di luar negeri? Hm, maaf membuat anda mengira terlalu tinggi, hehe.. sebenarnya warga asing disini maksutnya adalah para imigran dari kawasan timur Indonesia, sebut saja dari wilayah Ambon, Maluku, Flores, NTT, NTB dan kawanannya. Ya maklum saja, kampung tempat saya tinggal, terdapat banyak kontrakan dan kos-kosan yang dihuni warga imigran ini. Jadi tiap hari serasa denger bahasa namec, eh planet, hehe..

Begitu juga ketika cekcok terjadi, mereka menggunakan bahasa asli daerah mereka (plis deh, tolong gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta sesuai EYD!!). Dari hasil penelurusan sementara, imigran di kampung saya lagi berantem dengan imigran kampung sebelah (ckckckckc,, padahal se-suku,  senasib dan sepenanggungan di tanah rantau, sungguh tega…). Masalahnya apa? Sebenernya sih sepele (tapi tetep aja nggak tau apa biang masalahnya, ya maap :D), tapi kerena kedua belah pihak berada dalam pengaruh alkohol, jadinya seperti api kecil di korek api yang disiram minyak gas se-jirigen, dan whuuusss… terbakarlah mulutnya, sampai nguber-nguber ke kampung sebelah sambil ngomel-ngomel gak jelas (gak jelas, karena nggak ngerti bahasanya, hehe..). Padahal, masalah seberat apapun, kalo kepala kita dingin (meskipun hati panas) dan tidak dipengaruhi hal-hal yang buruk (seperti alkohol, provokasi, fitnah, dsb), Insyaallah masih bisa kok terjaga suasana yang damai.

Hal ini tidak saja terjadi sekali/2x, tapi berkali-kali, ya meskipun tidak terlalu sering, dan pelajaran yang dapat saya ambil dari peristiwa tersebut adalah, jangan tidur di kamar depan, supaya tidak merasa terlalu berisik kalo ada orang lagi cekcok di depan rumah. Yaaaksss,, ngawuuuurrrrrr… !!!!

Jadi begini, bukankah dari dulu kala, daerah di kawasan timur Indonesia adalah tempat yang paling rentan terhadap pertikaian-pertikaian antar suku. Sebut saja, mulai dari Ambon, Maluku, hingga Papua, layaknya suku barbarian yang gemar bertarung. Padahal negeri ini punya ancaman serius dari serangan luar, eh, yang dalam malah asik saling membantai. Bukan hanya pertikaian antar suku saja yang sering terjadi, tapi kerusuhan di mana-mana juga acap kali meramaikan berita di media. Mengapa hal ini sering terjadi? Menurut analisis saya (jiaaahh,, guayaaaa,, hush-hush,, serius nih..), dari beberapa informasi yang saya dapat, baik dari media cetak, maupun elektronik, maka dapat saya simpulkan sebagai berikut :

1. Politik.

Politik memang tak bisa lepas dari semua masalah kalangan di negeri ini, selalu saja terdapat pihak-pihak dengan kepentingan yang lebih besar berada di balik sebuah layar raksasa, dan selalu mengorbankan rakyat kecil. Hal ini tidak saya bahas lebih detil, karena saya paling males membahas masalah politik, ruwet, nggak jelas, membingungkan dan memuakkan. Jadi intinya, politik selalu bermain dalam hampir setiap masalah pelik negeri ini, tak perduli siapapun korbannya, apapun motifnya dan dimanapun berada. Politik bagaikan punya mata dan telinga di mana-mana, sehingga ia hampir pasti selalu hadir dalam setiap momen penting di seluruh pelosok negeri tercinta ini. Nggak percaya? Apa sih yang tidak bisa dipolitisasi di dunia ini? Anda mungkin tau jawabannya lebih baik dari saya.

Demi politik, kegiatan sikut menyikut sudah menjadi hal yang lumrah. Apapun dilakukan agar bisa menang dalam kancah politik, tak perduli siapapun yang menghalangi. Teror siap disebar, siapapun akan diprovokasi, ancaman tak terelakkan, ya begitulah bila politik sudah bermain.

2. Tingkat Intelektual.

Kita memang bukan bangsa yang bodoh, buktinya, kita mampu merebut kemerdekaan sendiri, sementara negara lain status kemerdekaanya adalah hadiah dari sang penjajah (no offence :D). Tapi di saat yang sama, kita juga termasuk negara yang bodoh, buktinya, kita terjajah lebih dari 4 abad lamanya, baru bisa merdeka. Apa saja yang negara ini lakukan selama itu?

Dari 2 kontradiksi tersebut,  mengindikasikan bahwa tingkat intelegensi masyarakat di negara ini sangatlah berpengaruh. Setiap orang memang ditakdirkan menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, tapi tidak semua orang ditakdirkan menjadi pemimpin bagi kaumnya. Yang namanya pemimpin, pastilah ia lebih pandai dari pada pengikutnya, dan kepandaian tidak diperloleh secara instan, melainkan melalui beberapa proses dan tahapan. Dan kemerdekaan yang kita peroleh adalah hasil peningkatan intelegensi (dan kearifan) para pemimpinnya. Ingat, cerdas itu adalah anugerah, sedangkan pintar bisa diperoleh dengan belajar.

Lalu apa hubungannya dengan masalah tema saya tadi? Coba kita tengok, orang-orang suku tadi, ketidak tahuan membuat mereka mudah terbakar amarah dan emosi, mudah diprovokasi, mudah diadu domba. Padahal dengan sedikit kecerdikan (dan kearifan), peperangan antar suku tak perlu terjadi, sebab mediasi hampir selalu dapat dilakukan dalam segala kondisi. Bukankah beberapa mentri dan pejabat negara kita adalah orang-orang yang berasal dari suku tersebut? Itu bukti bahwa sebenarnya mereka mampu secara intelektual, tapi karena tidak terasah, jadinya bukan peningkatan intelektual, tapi peningkatan emosi.

Logikanya, mahasiswa saja masih mudah ditunggani dan diprovokasi, apalagi orang-orang daerah yang notabene tingkat pendidikannya rendah, jadilah pertumpahan darah.

Tapi bukan berarti orang yang pandai mampu menciptakan perdamaian, justru tren saat ini, orang pandai menciptakan kerusuhan. Istilahnya pinter keblinger, karena kepandaian yang dimilikinya tidak digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan umat manusia, tapi untuk mencari profit/keuntungan diri sendiri, naudzubillah…

3. Kebudayaan.

Ini bukan berarti saya menyinggung mengenai suku/ras, tapi yang akan dibahas adalah fenomena yang sudah meluas dalam masyarakat kita, sehingga sudah menjadi kebudayaan masa kini. Sudah berapa banyak budaya istiadat asli kita yang luntur tergerus oleh jaman dan efek globalisasi? Dimana budaya kita yang dulu gemar tolong menolong, toleransi, saling menghormati, dan beberapa budaya lain yang pancasila banget. Kita tak lagi mengenal dengan dekat orang-orang disekitar kita, ketakutan dalam pikiran merajai hati, rasa curiga acap kali timbul dan terbesit, hingga akhirnya kita menganggapnya sebagai musuh potensial yang siap menyerang kita kapan saja. Masyaallah, mereka itu tetangga kita sendiri, sanak saudara, teman, saudara seagama, sesuku, sebangsa dan senegara. Ditambah lagi doktrin-doktrin menyesatkan yang secara langsung maupun tidak langsung yang menyusupi sedikit demi sedikit kehidupan kita, yang utamanya bersumber dari media elektronik (sebut saja tv dan internet). Kalau kita tidak saling mengenal, mudah saling curiga, mudah pula terprovakasi dan tentu saja mudah untuk diadu domba, yang akhirnya membawa kita kepada perang saudara (pertikaian antar suku, kerusahan, tawuran, pemutusan tali silaturahmi, dsb).

4. Pemahaman Tentang Agama.

Inilah masalah yang paling ngetren dan krusial saat ini, dimana berbagai isu mengenai keagamaan menyebar luas dan meresahkan masyarakat umum. Yang saya dengar dari berbagai pendapat para pengamat negeri, isu agama adalah yang paling rentan dan mudah tersulut emosi. Soal yang 1 ini, saya speechless deh, hebat, berani banget tuh orang mengatas namakan agama dan tuhan untuk mengajak bertikai, naudzubillah… Jaman nabi dulu memang musimnya perang, tapi itu adalah perang terbuka yang telah dipersiapkan dengan baik oleh kedua belah pihak, ada kesepakatan bersama, aturan dan tujuannya pun jelas. Lah kalo pertikaian antar agama sekarang, menikam dari belakang, saling menjelek-jelekkan, tujuan dan aturannya sangat-sangat tidak jelas. Heran, bisa-bisanya kita mudah terprovokasi, padahal jelas-jelas setiap agama mengajarkan tentang perdamaian, saling memaafkan, menghormati dan menghargai. Apapun masalahnya, saya rasa semua masih bisa dibicarakan, selalu ada jalur diplomasi terlebih dahulu, sebelum benar-benar terjun dalam pertempuran.

Jadi, mengapa rakyat bangsa ini sangat mudah diprovokasi? Jawabannya adalah karena masalah politik, tingkat intelektual, kebudayaan dan pemahaman tentang agama. Memang tidak se-simple itu dalam memandang suatu masalah, namun sekiranya inilah garis besarnya. Teori memang tak selalu sama dengan prakteknya, tapi setidaknya ada landasan, pedoman dan prinsip dalam setiap tindakan kita. Saya, dan kita semua mungkin, menginginkan dan mengharapkan kehidupan berpolitik di bangsa ini yang lebih sehat, tingkat intelektual masyarakatnya yang tinggi (anak bangsa yang cerdas dan berprestasi), kebudayaan yang tetap dilestarikan (menggambarkan identitas bangsa) serta pemahaman yang benar mengenai agama yang kita anut (tri kerukunan hidup beragama), sehingga itu semua dapat menciptakan masyarakat yang damai, adil, makmur dan sentosa, sesuai dengan cita-cita bangsa, khususnya pancasila.

Haha,, omongan saya seperti negarawan saja, tapi benar kan, kita semua memang berharap demikian, meskipun itu semua tampaknya masih mustahil terwujud saat ini/dalam waktu dekat, bagaikan menggapai bintang di langit. Tapi yang namanya harapan, apa sih yang tidak mungkin di muka bumi ini, kesempatan akan selalu ada, meskipun sangat kecil. Semoga,, ya semoga saja terwujud,,, huaaaahhh,,  masih ngantuk, tidur lagi ah, melanjutkan mimpi yang tertunda,, hehe…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: