Jadilah Penulis yang Baik


penulis

Penulis

Dalam kehidupan ini, Tuhan selalu menciptakan setiap hal dengan berpasang-pasangan, begitu juga mengenai pemikiran, selalu ada pihak yang pro dan kontra. Bukan mengenai politik yang akan saya bahas kali ini, ataupun isu-isu yang sedang hangat diperbincangkan di tv belakangan ini. Tapi ini lebih ke umumnya, dimana segala sesuatunya dapat bernilai benar /pun salah sesuai dengan sudut pandang yang digunakan oleh sang subjek.

Tindakan seseorang bisa dianggap benar sekaligus salah oleh orang lain. Masing-masing punya argumen sendiri dalam mempertahankan pendapat dan keyakinannya atas suatu hal. Contoh mudahnya adalah seperti yang sering kita temui dalam acara debat di tv, tawuran antara 2 pihak, cekcok kecil disekitar kita, hingga yang mengakibatkan perselisihan serius. Semuanya tak lepas dari yang namanya pro dan kontra.

Apakah salah jika kita mempertahankan pendapat dan keyakinan kita? Bukankah menyampaikan fakta dan kebenaran adalah kewajiban kita? Bagaimanapun caranya, apapun medianya, kapanpun waktunya dan dimanapun keberadaannya, memang tidak salah, tapi bila mengungkapkan realita tanpa fakta (bukti konkrit), bisa berakibat sangat fatal. Itu bisa dianggap fitnah, pencemaran nama baik, dan dapat dijerat dengan hukum pidana.

Tapi, dengan berkembangnya teknologi saat ini, sangat memudahkan dalam memfasilitasi seseorang dalam berpartisipasi di dunia jurnalisme/tulis menulis. Siapapun bisa menulis tentang apapun, lalu di publish di internet, yang memungkinkan untuk diakses dan dilihat oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun, tidak perduli usia, jenis kelamin, status, jabatan dan pekerjaannya. Sebegitu cepatnya informasi menyebar, tidak perlu menunggu waktu lama agar tulisan kita direspon oleh orang lain (pembaca). Apalagi jika kita posting di situs/forum/social bookmark ternama, semacam wordpress, blogger, kaskus, facebook, twitter, dsb. Banyak orang dari berbagai kalangan masyarakat nongkrong di situs-situs tersebut, sama seperti kita, mereka juga memanfaatkan kecanggihan dunia informasi internet untuk mencari segala informasi yang dibutuhkan.

Nah, celakanya, kemudahan berbagi informasi tersebut dimanfaatkan beberapa kalangan untuk keperluan berbagi hal yang merugikan. Sebut saja mengumpat, menghina, menjelek-jelekkan, menyebar teror, konspirasi, penipuan, provokasi, transaksi ilegal, dan sebagainya. Hal ini sudah lumrah ditemukan dimana-mana, tapi yang paling sering adalah di jejaring sosial.

Beberapa tahun silam, kejahatan cyber memang sangat sulit untuk diungkap di negeri ini. Untuk mengetahui siapa dalang dibalik suatu peristiwa tertentu yang terjadi di dunia maya, pemerintah kita harus mendatangkan ahli dari luar untuk membantu mereka mengungkap kasus tersebut. Tapi kini, pemerintah sudah mulai mandiri dan melek teknologi untuk kejahatan semacam ini, yang dirasa rentan dan akan lebih sering lagi terjadi di waktu mendatang. Masih ingat kasus penyebaran video porno seorang musisi ternama di negeri ini, yang dalam waktu singkat, polisi berhasil menemukan si penggugah pertama, kedua dan seterusnya.

Kemajuan teknologi juga memudahkan kita untuk menungkan hasil pemikiran atau merangkum suatu peristiwa tertentu dalam bentuk tulisan. Tidak salah memang, jika mengacu kepada kebebasan berekspresi, tapi ingat, semua ada aturannya, etika dan hukumnya. Dan setiap dari kita yang menekuni dunia tulis menulis, tak ubahnya seperti seorang jurnalis, meskipun masih dilevel amatir. Dengan gaya bahasa kita sendiri, kita berusaha menuliskan dengan semenarik dan semendetil mungkin, seperti seorang detektif yang sedang menyelidiki sebuah kasus besar. Dan tebak, bukankah rasanya menyenangkan jika kita berhasil mengungkap sesuatu, sesuatu dari hasil buah pikir sendiri, dari melihat kenyataan, hasil ekspolrasi pengalaman pribadi, bahkan beberapa dilengkapi dengan foto/gambar, atau mungkin video, sebagai bukti kongkrit kebenaran cerita kita.

Berhati-hatilah dalam menulis. Kebenaran yang menurut kita patut untuk diungkap, untuk membuka wawasan, kesadaran dan mata hati orang-orang akan lingungan di sekitarnya, atau sebagai peringatan kepada orang lain agar lebih waspada dan hati-hati, itu bisa jadi bumerang untuk diri kita sendiri. Apalagi bagi penulis awam, yang sekedar update status di berbagai forum/jejaring sosial/blog, yang minim pengetahuannya akan hukum. Mengapa? Itu terjadi karena selalu ada saja pihak yang pro dan kontra terhadap kita. Mereka yang merasa tidak suka dan tersudut terhadap pemberitaan yang kita buat, bisa saja melakukan apapun untuk membungkam dan menyangkal berita tersebut, termasuk kepada penulisnya. Level seorang aktivis saja, yang tentunya tahu dengan baik sistem hukum di negeri ini, bisa tewas dalam sebuah konspirasi yang hingga kini tak terungkap kebenaran motif dan pelakunya, karena dia mengungkapkan suatu kebenaran.

Bukannya saya menakuti-nakuti anda dengan bobroknya sistem hukum di negeri ini yang tak mampu melindungi warga negaranya yang memberikan informasi/menyuarakan kebenaran. Tapi begitulah fakta dan kenyataannya yang kerap terjadi di negeri ini. Anda, saya, dan kita semua bisa menulis apapun, bebas berekspresi,  berekspolrasi, menggunakan gaya apapun, tapi ingat, segala sesuatunya pasti ada resikonya. Jika anda sudah siap dengan kebenaran yang akan diungkap dalam tulisan anda, sebisa mungkin siapkan dengan sebanyak mungkin bukti-bukti kongkrit yang ada, seperti gambar, video, suara, foto, dsb, jadi bukan hanya tulisan saja. Bentengi diri anda sekuat mungkin, baik dari segi hukum maupun persiapan mental, sebab mungkin kelak anda bisa saja akan menghadapi hukum yang tidak bersahabat beserta pihak-pihak yang akan merasa sangat dirugikan dan tersudut dengan statement yang anda buat tersebut. Dalam kasus ini, masa depan anda mungkin akan sangat dipertaruhkan, bahkan lebih buruk, kolega, teman dan keluarga anda bisa jadi sasaran dan terseret dalam pusaran ini.

Coba kita lihat, berapa banyak penjahat yang lolos dari jerat hukum, karena bukti-bukti yang ada tidak mempan. Dan berapa banyak justru orang-orang baik, penyuara kebenaran, yang harus mendekam dibalik jeruji besi, karena manipulatif bukti. Dan berapa banyak juga orang-orang penuntut kebenaran yang justru dituntut balik, karena kurangnya bukti-bukti yang kuat. Berapa banyak orang yang tewas dalam konspiratif tak terungkap ketika mereka menyuarakan kebenaran. Namun yang lebih parahnya, bila tidak ada suara kebenaran yang mengungkap kebusukan para penjahat, sehingga mereka tetap melenggang bebas dan merajalela menjejakkan kejahatannya dimanapun kaki mereka berpijak. Tidak ada yang tidak dapat diputar balikkan dalam fakta hukum negeri ini, jadi berhati-hatilah.

Tapi, naluri seorang yang sering melihat kedzoliman dan ketidak adilan yang kerap merajalela di sekitar kita, tentunya saya berharap bahwa suara kebenaran akan terus berlanjut dan menggema dimana-mana. Terus tuliskan suara kebenaran, kalau bukan kita, lantas siapa lagi? Tapi ingat, jangan lupakan soal bukti-bukti kongkritnya ya, agar kita tidak dicap pembual, perusak nama baik atau bahkan pemfitnah. Insyaallah, kebenaran akan selalu menang, meskipun menjadi yang terakhir. Tetap semangattt,,,😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: