Sakit Adalah Anugerah


sakit

Sakit Adalah Anugerah

Tidak ada yang salah dengan judul di atas. Ini bukan pernyataan putus asa atas penyakit yang tak kunjung sembuh, atau sikap terhadap penyakit paling berbahaya dan mematikan yang belum ada obatnya. Tapi judul di atas adalah statement untuk mengungkap rahasia di balik sakit yang kita derita (kita??? lo aja kaliiii.. :P).

Tidak ada makhluk di dunia ini yang tidak pernah sakit, entah itu hewan, tanaman apalagi manusia, kecuali makhluk ghoib (entah itu iblis, malaikat maupun jin, lagian belom pernah tau gimana kalo jin lagi sakit, hehe…). Tapi setahu saya (merunut pada literatur sejarah), cuman firaun aja yang gak pernah sakit, tapi dilaknat hebat dalam kematiannya, naudzubillah.

Sakit adalah anugerah, justru akan sangat berbahaya jika kita tidak pernah sakit, kenapa? Bukankah suatu anugerah yang luar biasa bila kita selalu dikaruniai sehat? Dan bukankah dalam berdoa kita selalu minta agar diberi kesehatan selalu? Bukankah sakit itu tidak enak, dan selalu menyusahkan kita? Karena sakit, pekerjaan kita terbengkalai, banyak urusan tertunda, menyusahkan bukan hanya diri kita sendiri tapi juga orang-orang disekitar kita, membuat kita tak produktif. Ya, semua alasan, pertanyaan dan argumen di atas memang tidak sepenuhnya salah. Lalu kenapa sakit itu adalah anugerah? Mari kita simak bersama menurut kacamata agama, dimana insyaallah semuanya akan dijawab berdasarkan dalil yang ada berdasarkan Al-Qur’an dan hadits (haha,, bahasanya loh,, guaya pooolll :P).

Mengapa sakit adalah sebuah anugerah? Berikut adalah rahasia diblalik sebuah penyakit yang  kita derita dan menjadikannya sebuah anugerah tak terkira dari sang pencipta :

  1. Penggugur Dosa

Sakit, dengan segala kesusahan yang kita hadapi, rasa sakit yang kita rasakan, dan berbagai permasalahan yang timbul karenanya, adalah untuk mengurangi dosa-dosa kita. Ingatlah, setiap kesusahan yang kita rasakan, adalah media penghapus dosa-dosa, tak terkecuali sakit. Seperti riwayat hadits dari Imam al Bukhari yang meriwayatkan dari Abu Hurairah R.a. bahwa Nabi SAW bersabda: ”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melain-kan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” Dalam hadits lain beliau bersabda: “Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa”. Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit”. Jadi, karena dihapusnya dosa-dosa kita, maka akan membuat jiwa kembali jernih (ya meskipun setidaknya sedikit, hehe.. :D).

Melalui suatu kesusahan, kepayahan dan berbagai kesulitan lain ketika sakit, selain menghapuskan dosa, kita juga diberi pahala, sebab itu merupakan balasan dari sakit yang kita derita. At Tirmidzi meriwayatkan dari Jabir secara marfu’, bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dicabik-cabik ketika di dunia karena iri melihat pahala orang-orang yang tertimpa cobaan”.

  1. Lebih Menghargai Nikmat Allah

Dengan sakit, kita bisa lebih menghargai kesehatan, dan mensyukuri segala nikmat yang telah diberikanNya, baik itu semasa sehat, maupun ketika sakit. Tentu saja saat kita sakit, pasti, dan sangat pasti kita akan mengingat masa-masa sehat kita. Dan apa yang kita lakukan disaat kita diberi kesehatan itu? Untuk beribadahkah, untuk beramal kebaikan kah, ataukah bermaksiat? Untuk apa harta, jabatan dan ketenaran yang kita miliki, dikala sakit, semua itu tidak ada artinya, sebab kita tidak bisa menikmatinya.

Coba kita renungkan, ketika sakit, apapun terasa tidak enak, entah itu apa yang kita lakukan atau yang kita makan dan minum, semuanya terasa hambar. Kemana semua nikmat itu saat kita sakit? Mungkin kita sering mengingkari nikmatNya, kurang bersyukur, mungkin kita terlalu lama berpaling dariNya, lalai akan kewajiban kita sebagai hamba, mungkin kita sudah lupa akan jalan kebenaranNya, karena itulah dia mengambil sebagian nikmat yang telah diberikanNya, agar kita ingat dan kembali padaNya.

rahman 13

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. (QS. Ar-Rahman 13)

Maka senantiasalah bersyukurlah, sebab sedikit saja kenikmatan itu dicabut dari kita, serasa seisi dunia meninggalkan kita. Bersyukur bukan hanya dalam lisan, tapi juga perbuatan, yaitu dengan cara memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah. Banyak sekali kita temukan ayat tentang syukur dalam Al-Qur’an, ini menunjukkan bahwa begitu pentingnya aspek rasa syukur dalam diri kita, agar kita tidak termasuk ke dalam makhluk yang durhaka kepadaNya, naudzubillah…

  1. Lebih Mendekatkan Diri KepadaNya

Sakit, adalah momen yang dapat mendekatkan kita kepada-Nya (bukan berarti mau meninggal loh,,, ckckckckc.. pikirannya kok mati mulu’, nasi pecel masih enak cuy,, hehe.. :D). Saat sakit, kita akan selalu memohon kepada-Nya agar lekas diberi kesembuhan. Semakin sering kita memohon (berdoa), semakin khusyu’ kita ibadah, semakin dekatlah kita kepada-Nya. Sungguh terlalu orang yang sedang sakit masih saja bermaksiat, naudzubillah (mati aja deh yang tipe beginian, lumayan buat mengurangi populasi orang-orang jahat di dunia, hehe… :P).

Sakit memang mahal harganya, bukan hanya dinilai dari sisi material (habis duit banyak buat berobat), moral (menyusahkan orang-orang sekitar, nggak ikut sakit, tapi ikut repot, nah loh… @_@), tapi juga dari sisi spirtual. Nikmat mana, ketika Anda beribadah dalam kondisi sehat walafiat, ataukan dalam keadaan sakit? Ya meskipun dalam keadaan sakit level kekhusyu’an ibadah kita bisa meningkat pesat, tapi tetap saja, yang namanya sehat itu tiada duanya, rasanya bebas, menyenangkan, dan pokoknya enak deh. Kata pepatah, harta yang paling mahal harganya adalah kesehatan. Tidak salah memang, tapi tidak sepenuhnya benar, saya punya argumen dan sudut pandang tersendiri mengenai hal ini. Insyaallah akan dibahas di postingan selanjutnya (kalo nggak lupa, hehe.. :D).

Mungkin dengan sakit, Allah berkehendak agar hambanya mengingat lagi diriNya, dan kembali ke jalan yang benar, sesuai dengan ayat berikut :

sajadah 21

Dan Sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. As-Sajadah 21)

  1. Bukti Bahwa Manusia Makhluk yang Lemah

Sakit jugalah yang mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang serba terbatas, meskipun diciptakan sebagai yang paling sempurna. Tetap saja ia adalah makhluk yang rapuh, rentan, tak bisa selalu sehat, juga tak selamanya kuat, akan sakit, akan tua dan pasti akan meninggal. Ingatlah, bahwa kita ini diciptakan dari tanah, berawal dari setetes air yang hina, makannya jangan sombong dan takabur. Dengan kekuasanNya, Allah bisa melakukan apapun terhadap makhluknya yang hina dan lemah ini (tentunya dengan aturan sunnahtullah yang telah ditetapkanNya), dan seketika itu juga, kita menjadi tidak berdaya dan tiada artinya.

Selain dari 4 hal di atas, sakit bisa jadi karena memang ujian keimanan, ujian hidup, maupun hisab dunia untuk mengurangi dosa-dosa kita dan menambah pahala. Allah memang berkuasa atas segala kehendakNya, namun Ia tidak serta merta menurunkan penyakit kepada makhlukNya tanpa perantara aturan sunnahtullahNya. Dengan berbagai macam bentuk sebab, sakit bisa menghampiri kita sewaktu-waktu, baik itu yang bisa dijelaskan dengan logika, maupun yang berbentuk ghoib (santet, vodoo, dan berbagai ilmu hitam lainnya). Namun sebenarnya, meskipun dengan berbagai asbab, sakit itu turun akibat perbuatan kita sendiri (yaitu hasil koleksi berbagai kesalahan, dosa dan maksiat kita yang telah terkumpul sekian lamanya), seperti pada firman berikut :

syuro 30

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS. As-Syura 30)

Tapi dengan rasa kasih sayangNya yang begitu besar terhadap hamba-hambaNya, maka Allah memberikan maaf kepada sebagian besar kita. Salah satunya adalah dengan cara sakit itu, maka dikurangilah dosa-dosa kita, dimaafkan kesalahan kita, dan diberi pahala pula (kurang apa coba?? Ckckckckckc,,,), subhanallah…

O iya, hampir lupa, sakit disini bukan berarti sakit yang parah loh, yang sudah stadium 4, maupun yang tidak bisa disembuhkan alias belum ada obatnya. Tapi bisa apa saja, mulai yang ringan (seperti flu, batuk, meriang), hingga yang berat-berat (mendekati ajal).

Yang namanya sakit, pastilah tidak enak, setidaknya begitulah pandangan orang awam. Namun ada sebagian orang yang sangat menikmati sakitnya, tetap bersyukur dengan keadaan dan segala kesulitannya, bersabar, serta tetap istiqomah dalam beribadah. Merekalah orang-orang yang mengerti betul makna sakit, tentang ujian keimanan, dan memegang teguh akidah dan tauhidnya. Tapi meskipun sebagian dari kita telah mengetahui rahasia dibalik sakit, tapi tetap saja ada keluhan dan tidak menjadi sabaran. Tidak mudah memang meniru sikap dan ketaatan dalam kehidupan orang-orang yang wara’, ya sesuai dengan tingkat keimanan masing-masing.

Meskipun sakit adalah anugerah, namun ia tidak menggugurkan kewajiban mencari obat untuk kesembuhannya. Artinya, meskipun sakit adalah pemberian Allah (entah itu ujian atau hisab), bukan berarti kita pasrah saja dengan tidak melakukan apa-apa, dan menunggu Allah jualah yang mengangkat penyakit itu. Kita tetap harus berusaha mencari obatnya. Berusaha adalah wajib, seperti pada petikan ayat berikut :

raad 11

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS. Ar-Ra’ad 11)

Tapi bukan berarti kita mengharap kesembuhan dari obat (syirik itu namanya), tetapi dengan berikhtiyar terlebih dahulu (memenuhi sunnahtullah) barulah bertawakkal mengharap kesembuhan dariNya. Jadi, melalui obat tersebut, kita berharap Allah berkenan memberikan kesembuhan. Obat bukan hanya sebatas definisi atas sesuatu yang dapat kita makan dan minum, tapi juga dzikir, do’a, sholat, sabar, membaca qur’an dan amalan-amalan ibadah lain juga adalah termasuk obat. Disebutkan di dalam Qur’an :

isra' 82

Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (QS. Al-Isra’ 82)

yunus 57

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Yunus 57)

Pada ayat di atas, jelas disinggung bahwa Al-Qur’an adalah obat yang mujarab bagi segala macam jenis penyakit (kecuali mati tentunya). Tapi di sini saya tidak akan menjelaskan cara kerjanya dan bagaimana, out of topic, mungkin lain kali, Insyaallah, hehe… Lagipula Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidaklah suatu penyakit diturunkan melainkan Allah juga menyertakan obat-obatnya“. Apalagi ketika seseorang dalam keadaan kritis, ketika puluhan jenis obat sudah ditebus, dan ratusan pil sudah ditenggak, dan ketika para dokter serta ahli medis lainnya sudah angkat tangan, namun dengan permohonan yang sungguh-sungguh kepada Allah ia dapat sembuh dan sehat kembali. Jadi, jangan mencari kesembuhan selain daripadaNya, itu termasuk syirik dan dosa besar yang tak terampuni. Media (sakit) yang seharusnya dapat mengantarkan kita lebih dekat kepadaNya,  dapat menghapuskan dosa-dosa kita, lalu lantaran kita tidak bisa memaknai dan memahaminya dengan baik, dan mencari kesembuhan selain daripadaNya, lantas berubah menjadi kemurtadan terhadapNya, adalah suatu kerugian yang luar biasa.

Lalu, bagaimana bila sakit tak kujung sembuh? Berdasar atas tauhid, bahwa tawakkal artinya adalah menerima takdir Allah dengan ridho’, bahwa sakit adalah datangnya dari Allah. Dia tidak meminta sembuh, tetapi tetap lita’dimi amrillah wa rasulillah, maka kalau Allah tidak membuat sembuh tetaplah dia dalam jalur tawakal, kalau Allah menetapkan sembuh, maka memang sembuh dari Allah dan saat itu, menurut Allah lebih baik sembuh daripada sakit. Seperti pada ayat berikut  :

baqarah 216

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah 216)

Marilah kita senantiasa memohon, agar diberikan kesabaran dan kekuatan lebih untuk dapat menghadapi segala ujian yang diberikanNya, aaamiiiin… huallah hu’alam bishowab…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: