Budaya Pembajakan Software


Saya nggak tau harus mulai nulis dari mana, dari judulnya sih memang sudah jelas bakalan membahas apa. Tapi awal mulanya, saya terfikirkan dari laptop saya sendiri, gadget yang satu ini telah menemani keseharian hidup saya selama kurang lebih 4,5 tahun ini, termasuk menulis hampir semua postingan pada blog ini. Tidak ada yang spesial dari laptop saya, sama seperti punya orang kebanyakan, cuman agak jadul sih..πŸ˜€. Tapi, kalo laptop jaman sekarang, waktu belinya lebih banyak bundling dengan OS asli, entah itu edisi home atau starter, ya lumayanlah, masih ada komponen software ori yang terinstal. Sedangkan laptop jadul saya, 99% terinstal software bajakan, sedangkan hanya 1% saja yang ori, yaitu freeware, hehe…

Menurut sejarahnya, Hak Cipta Kekayaan Intelektual (HAKI) pertama kali disahkan pada tahun 1981 oleh Mahkamah Agung Amerika setelah kasus Diamond Vs Diehr bergulir. Sedangkan dalam undang-undang di Indonesia sendiri, terdapat aturan yang mengaturnya yaitu Undang-undang nomor 19 tahun 2002 Tentang Hak Cipta, namun dalam penegakannya hanya terbatas pada pemakaian komputer dilingkungan publik, tidak mengena pada pemakaian komputer dilingkungan pribadi (personal computer).

Hak paten atau hak cipta kekayaan intelektual sangat penting karena memberikan hak kepada perusahaan software tertentu untuk melindungi hasil karyanya dari pembajakan oleh perusahaan software lain sekaligus memberikan peluang bagi mereka untuk menjadikan software buatannya sebagai komoditas finansial yang dapat mendorong pertumbuhan industri. Ingat, software buatan sendiri, bukan hasil bajakan yang dijual lagi maupun disewakan… Dengan adanya hak cipta terhadap software, apabila terjadi pembajakan terhadap software tersebut maka pelakunya dapat dituntut secara hukum dan dikenakan sanksi yang berat (teorinya sih seperti itu). Maka, para perusahaan software pun berlomba-lomba mematenkan produknya tidak peduli betapa mahal dan sulitnya proses pengeluaran hak paten tersebut.

Dikarenakan masyarakat kita yang jauh lebih familiar dengan produk Microsoft, praktis, software inilah yang sering dijadikan sasaran pembajakan, otomatis seharusnya mereka membayar untuk dapat memiliki dan menggunakan fasilitas yang disediakan oleh software tersebut. Kalau kita taat dengan hukum di atas, bayangkan saja, untuk bisa sekedar mengetik di word menggunakan komputer, harus menyediakan berapa budget??? Belum beli perangkatnya (hardware berupa komputernya dan printer), Osnya (windows, tergantung versi berapa), office-nya (mircosoft office) dan sebagainya. Bisa-bisa masyarakat kita tidak bisa maju kalau harus menunggu menjadi β€œmampu” untuk dapat membeli berbagai peralatan teknologi tersebut (baik hardware maupun software), sedangkan peran pemerintah sendiri masih belum mampu menyokong kebutuhan masyarakat akan teknologi dan informasi.

Bukankan cukup dilematis, dimana UU tentang perlindungan hak cipta, khususnya mengenai software juga telah cukup lama dibuat dan diterapkan di berbagai negara di belahan dunia, tapi tetap tidak bisa membendung arus pembajakan software yang kian tahun kian marak dan membeludak. Apalagi di Indonesia yang katanya adalah negara peringkat ketiga dunia pembajak software terbesar di dunia (ckckckck… hebat kan :D). Sementara itu, bagaimana kami tidak membajak, bila kebutuhan dan penggunaan akan teknologi terus berkembang pesat sedangkan daya beli tidak mengikuti, karena lisensi produk software original cukup mahal juga (mending buat makan, bayar kos dan bayar sekolah/kuliah). Tidak memungkiri, saya juga adalah salah satu pelaku setia pengguna software bajakan. Mungkin masalah di atas bisa jadi faktor penentu terbesar, tapi masih ada faktor lain, yaitu budaya. Ya, dengan lemahnya penegakan hukum di negeri ini, membuat kita bebas melakukan aktivitas pembajakan yang akhirnya lama kelamaan malah menjadi budaya tersendiri.

Selain faktor hukum, ekonomi dan budaya, faktor teknis juga sangat mempengaruhi. Tak jarang saat membeli suatu software, misalnya saja ketika membeli laptop yang bundling dengan Microsoft, biasanya sudah langsung terinstal dan diberi stiker serial number (SN) asli tanpa disertai CD OS aslinya, begitu juga dengan beberapa antivirus yang tersedia di pasaran (kemungkinan besar juga ikut serta dalam paket bundling). Namun apa yang terjadi ketika komputer mulai mengalami masalah, biasanya opsi yang paling banyak diambil adalah instal ulang OS yang sudah ada dengan edisi yang sama ataupun berbeda. Begitu juga dengan berbagai aplikasi pendukung lainnya, misal saja perangkat office, antivirus maupun lainnya.

Bukannya saya mendukung aksi pembajakan ini, dikarenakan saya penggunanya juga. Tapi bagi saya, membajak tetap punya etika, paling tidak untuk tidak mengambil keuntungan pribadi dari hal ini. Saya salut sama hacker-hacker (hai kalian,, dimanapun berada.. datanglah,, hoho.. :D) yang mampu membuat crack berbagai software, lalu memberinya (share) secara gratis untuk umum di situs-situs mereka, sekaligus melayani konsultasi dan komplain dari para pe-request software bajakan tersebut. Secara langsung, mereka (para hacker) tidak mengambil keuntungan dari membagikan software bajakan tersebut, namun tidak bisa dipungkiri, itu adalah sebagian dari taktik dan strategi mereka untuk menghasilkan uang dari dunia internet. Sebab, setahu saya, selama ini, belum ada hacker yang meminta bayaran untuk meng-crack software-software umum ngetop yang sudah ada di pasaran. Bagi saya pribadi, hal ini tentu sangat menguntungkan bagi orang-orang berbudget rendah semacam saya, pelajar, dan mahasiswa.

Tapi, ada juga orang yang memanfaatkan kesempatan ini. Mereka dengan terang-terangan menjual software bajakan yang bahkan bukan hasil kerja keras mereka sendiri (hasil membajak/membuat crack sendiri). Bisa anda bayangkan, berapa banyak keuntungan yang bisa mereka raup, bila hanya bermodalkan DVD/CD burner, keping CD/DVD, kertas cover dan tempat CD/DVD-nya. Padahal mengoprek suatu aplikasi untuk membuat crack-nya adalah hal yang tidak mudah, demikian halnya dalam pembuatan software itu sendiri. Tapi mereka dengan mudah menggandakan lalu menjualnya di pasaran. Hukum hak cipta di Indonesia, memberlakukan UU tersebut untuk penggunaan publik/umum, bukan untuk penggunaan pribadi. Pribadi disini maksudnya adalah untuk penggunaan sendiri, tidak untuk disebarluaskan maupun dikomersilkan.

Beberapa peraturan tentang lisensi software yang saya ketahui adalah :

  1. Dalam lisensi ini biasanya mencakup ketentuan,
  2. Software tersebut boleh diinstal hanya pada satu mesin.
  3. Dilarang memperbanyak software tersebut untuk keperluan apapun (biasanya pengguna diberi kesempatan membuat satu buah backup copy).
  4. Dilarang meminjamkan software tersebut kepada orang lain untuk kepentingan apapun.

Sedangkan menurut Microsoft ada lima macam bentuk pembajakan software, diantaranya:

  1. Pemuatan ke Harddisk: Biasanya dilakukan seseorang saat membeli personal komputer generik di toko komputer, yang oleh penjual langsung di install satu sistem operasi yang hampir 100% adalah Windows.
  2. Softlifting: Jika sebuah lisensi dipakai melebihi kapasitas penggunaannya seperti ada lima lisensi tetapi dipakai di sepuluh mesin komputer.
  3. Pemalsuan: Penjualan CDROM ilegal dan penyewaan software.
  4. Downloading Ilegal: Men-download sebuah program komputer dari internet. Hukum copyright/Hak Cipta yang melindungi ekspresi fisik dari suatu ide misal tulisan, musik, siaran, software dan lain-lain tumbuh ketika proses penyalinan dapat dibatasi tetapi untuk saat ini sulit untuk mencegah dilakukan penyalinan tersebut sehingga usaha untuk menerapkan monopoli pada usaha kreatif menjadi tidak beralasan.

Saya memang suka membajak (software dan film), tapi tidak dengan cara membeli dari mereka para penjual barang bajakan, melainkan download sendiri langsung dari situs/website terkait. Lebih baik saya menyumbang sedikit page rank kepada para penyedia situs software bajakan dengan mengunjungi web-nya daripada harus membeli keping CD/DVD bajakan dari para penjual itu. Rasanya, seperti tidak ikhlas. Sebab saya juga pernah merasakan menjadi seorang programmer, dimana beberapa aplikasi yang saya buat lalu dicontek oleh teman-teman dengan alasan apapun, rasanya memang tidak mengenakkan, karena itu merupakan buah fikir hasil kerja keras, apalagi untuk sekelas software aplikasi yang telah mendunia. Bisa dibayangkan???

Keping CD/DVD installer saya juga sering dipinjam oleh teman-teman, dan sering juga tidak balik. Saya hanya punya i’tikad baik, yaitu untuk menolong, dan dengan asas kepercayaan kemudian saya pinjamkan, meskipun saya tidak tahu, apakah mereka juga akan menggandakannya atau tidak. Tapi setidaknya, saya tau bahwa teman-teman saya bukanlah salah satu dari pelaku penjual maupun penyedia jasa persewaan (rental) software bajakan.

Menjadi seorang pengguna software bajakan saja sudah cukup memalukan, apalagi menjadi salah satu oknum pelaku penjual/penyedia jasa persewaan (rental) software bajakan. Jadi, yang manakah anda???

Lalu, bagaimana solusinya? Ya gunakan OS open source seperti linux (dengan berbagai variasinya), serta perangkat office maupun pendukung lainnya yang juga berbasis open source. Tapi solusi inipun juga bermasalah, karena kebanyakan masyarakat tidak familiar dengan OS ini, dengan berbagai alasan, ternyata masih suit bahkan untuk sekedar mengoperasikannya. Ini juga termasuk saya, padahal saya dulu sering mengikuti seminar dan pelatihan mengenai linux, tapi sampai sekarang, nggak paham-paham juga (bodoh ya ternyata… @_@” ckckckck…).

Semoga kita bisa menjadi orang yang lebih baik, dengan semangat menuju umat yang lebih baik, insyaallah, miiinnn…

6 Tanggapan to “Budaya Pembajakan Software”

  1. terlantar Says:

    saya masih terperangkap OS bajakan, tapi sedikit2 sudah mengurangi itu, dan sudah mencoba software2 yg gratis. saya juga pernah membahasnya di forum Worpress, silahkan masuk untuk melihat jawaban2 para master :
    http://id.forums.wordpress.com/topic/mengapa-saya-suka-memakai-software-yg-bajakan?replies=22

    Suka

  2. andinoeg Says:

    makanya pakai FOSS donk

    Suka

  3. akzir Says:

    @terlantar : makasih saran link-nya, ana langsung meluncur kesana..πŸ˜€
    @andinoeg : makasih juga masukannya, jadi tau apa itu FOSS…πŸ™‚

    Suka

  4. Alasan Mengapa Kita Suka Memakai Software Bajakan « akziR's Blog Says:

    […] kali ini masih berhubungan erat dengan posting sebelumnya, yaitu Budaya Pembajakan Software. Cuman kali ini fokusnya adalah seperti judul di atas. Sumber yang saya pakai adalah dari link ini […]

    Suka

  5. beginner Says:

    kalo untuk ngetik doang sih pake Linux sama OpenOffice aja … dua2 nya gratis (dan halal)

    Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: