Diagram Alur Korupsi Berjamaah Di Lingkungan Pemerintahan


Bismillah hirrohman nirrohiiim… Tarik nafas panjang dan dalam, hembuskan perlahan lalu mulai senam peregangannya membaca…😀

Melihat dari judulnya, postingan ini masih berhubungan erat dengan artikel sebelumnya yang berjudul Pemerintahan & Korupsi Berjamaah. Kalau saya baca lagi itu postingan, rasanya masih ada sesuatu yang kurang, yaitu penjelasan bagaimana awalnya korupsi itu dilakukan, mulai dari skenarionya hingga uang bisa berada di tangan.

Ini bukan sesuatu yang mengada-ada atau bersifat memfitnah, juga bukan berusaha untuk menjatuhkan pihak/golongan tertentu. Mungkin akan terkesan mengorek atau bahkan membeberkan suatu keburukan, mungkin juga akan ada yang menilai saya terlalu lebay dan agak “kolot” dengan hal semacam ini, tapi inilah apa adanya, fakta yang terjadi disekitar kita. Kemungkaran yang telah dilakukan bersama selama berpuluh-puluh tahun di depan mata kita, sudah saatnya masyarakat tahu, kemana uang yang mereka setorkan (pajak) dipergunakan oleh para pengelolanya alias pemerintah. Kemana uang itu bermuara, dan seberapa baik mereka mempergunakan jabatan dan kekuasaan yang diamanahkan kepada mereka.

Dulu, saya sering mendengar kabar miring seputar korupsi di lingkungan pemerintahan, karena waktu itu saya masih lugu (hiaaaaaa,, gubraaaaak,,, lugu dari hongkong ???), maka kabar burung itu cuman masuk ditelinga kanan dan keluar ditelinga kiri. Pikir saya, “Ah, masak iya mereka begitu? Kalaupun iya, pasti itu cuman kelakukan segelintir orang aja. Kan biasa, kalo yang buruk-buruk, walaupun sedikit, tapi cepat menyebar dan menjadi cap jelek untuk semuanya, alias dipukul rata. Pasti masih ada orang-orang baik yang masih bekerja dengan hati nurainya.” Atau dengan kata lain, tidak semua orang di pemerintahan adalah koruptor, masih ada orang baik di sana walaupun cuman sedikit. Alhasil, hingga akhirnya pengalaman membenturkan saya dengan kenyataan yang selama ini saya anggap sebagai kabar burung belaka.

Lagi-lagi, saya dapatkan informasi ini dari para pelakunya secara langsung. Para pelaku yang mengaku mendapati hati mereka bertentangan dengan pekerjaan yang mereka lakukan, tapi apa boleh dikata “sudah terlanjur basah”, begitulah alasan yang mereka timpakan. Ah, terlepas dari pengakuan tidak jelas mereka, saya dapatkan informasi disertai bukti-bukti yang ditunjukkan tepat di depan mata saya. Kalkulasi angka yang besarannya sudah diplot oleh masing-masih koruptor, ditambah lagi saya merasakan pengalaman langsung terlibat dengan mereka. Yaitu mengenai negoisasi nilai yang akan mereka dapatkan bila proyek saya telah cair. Ya, mereka ngomong langsung to the point, hebatkan?? Na’udzubillah mindzalik…

Berikut adalah diagram alir korupsi berjamaah yang mereka lakukan melalui jalur rekanan. Simak baik-baik…!!!

Ada satu yang menarik di sini, ada saja dalih mereka dalam merongrong uang proyek (korupsi). Yang paling umum adalah untuk mengamankan nilai proyek berikutnya yang akan diberikan kepada orang yang sama. Semakin besar nominal yang diberikan/diminta, maka akan semakin aman. Inilah pemikiran tamak yang merasuki “para pemain utama” korupsi tersebut, logika setan yang telah mengisi otak mereka dengan uang, uang dan uang (seperti mister crab dengan slogan favoritnya “uang.. uang.. uang..” sambil menggerak-gerakkan capitnya, haha…). Siapa yang bisa menjamin bahwa tahun depan mereka masih meng-handle dana proyek tersebut? Atau lebih simple, siapa yang bisa menjamin bahwa mereka masih bisa bernafas alias hidup esok? Apapun alasannya, siapapun orangnya, berapapun nominalnya mereka akan terus meminta dan memalak, bagaikan lintah. Kalau sudah kenyang, lintah akan jatuh sendiri, kalau nafas sudah terhenti, baru mereka akan berhenti pula.

Kalau dilihat dengan seksama, jatuhnya uang korupsi juga melibatkan langsung para rekanan. Para rekanan pulalah yang memberi mereka “uang panas” tersebut. Baik saat dipotong langsung, maupun diberikan setelah dana cair. Bagaikan makan buah simala kama, bila tidak diberi, maka dana tidak bisa cair, hasil kerja keras selama ini tidak akan terbayarkan alias kerja gotong royong bin gratis, nama baik perusahaan terancam buruk (karena memang dijelek-jelekkan) dan bila lain kali ada proyek maka tidak akan diberi kesempatan. Bila diberi, maka turut andil menyuburkan korupsi dan membuka pintu dosa selebar-lebarnya (agar bisa dimasuki banyak orang secara berjamaah), namun bila ada proyek lagi/yang serupa, kemungkinan besar bisa masuk lagi. Dan begitulah seterusnya. Memang jalan terbaik adalah menjauhinya selamanya, ya atau tidak sama sekali, tapi yang namanya orang cari nafkah, mereka telah memilih jalan hidupnya sediri, ya begitulah. Lalu kapan hal yang seperti ini akan berhenti berlangsung??? (Tanya kapan kenapa.. @_@).

Bagi mereka para senior (para pendahulu saya yang telah jauh lebih dulu terjun dalam dunia proyek di lingukngan pemerintahan), hal sepert ini adalah biasa, sudah lumrah ditemui bahkan wajib hukumnya. Ditambah lagi, mereka menyamakan hal ini dengan yang terjadi di perusahaan swasta, sama-sama korupsinya, cuman beda lingkungan (swasta vs pemerintahan). Di pemerintahan, uang yang dipakai untuk korupsi adalah uang rakyat, dimana mereka diharuskan membayar pajak, suka/pun tidak, kaya miskin, apapun sektor usahanya, dan uang ini diperuntukkan bagi pembangunan bangsa ini dalam segi apapun. Coba pikirkan, uang apa yang mereka korupsi? Itu adalah uang amanah rakyat, sebab di dalamnya terdapat pengharapan yang baik dan uang diambil kebanyakan dari orang-orang kecil. Dimana “orang-orang besar” lebih banyak “bermain” pajak, alias berlaku hukum rimba “dimana yang kuat akan menang dan menindas yang lemah”.

Bagaimana di swasta? Perusahaan ini memperoleh pendapatan dari keloyalan para konsumennya dalam membeli produk barang/jasa yang mereka jual. Konsumen membelinya berdasarkan azas suka sama suka, tidak ada unsur paksaan, jadi hanya mereka yang mampu dan mau membayar yang bisa mendapatkan produk yang ditawarkan, entah itu dari kalangan manapun, yang penting mereka “ikhlas” membeli. Hal ini juga dibarengi dengan kualitas barang/jasa yang dijual, dimana berlaku prinsip “ada uang ada barang”, “ada kualitas ada nilai”.

Inilah bedanya, uang yang dikorupsi pemerintah dengan swasta. Asal dan akhirnya, hulu dan hilirnya. Sama-sama dosanya sih, nggak tau juga kadarnya, kan saya bukan malaikat pencatat amalan, lagian Allah SWT sang maha penghitung pastilah punya perhitungan sendiri. Sungguh tak habis pikir, jangan sampai untuk mengetahui jalan pikiran mereka, kita harus juga menjadi “seperti mereka” terlebih dahulu. Semoga hidayahNya masih melindungi kita dari membedakan mana yang ma’ruf dan yang munkar, dan diberi kekuatan untuk mengamalkannya, Insyaallah, bismillah…

“Setiap yang dimakan, yang diminum dan harta yang dimiliki akan diminta pertanggungjawabannya. Di dapat dari mana, dengan cara bagaimana dan dipergunakan untuk apa, semua akan ditanya di akhirat kelak. Bila pekerjaan atau jabatan diperoleh dengan cara menggadaikan iman, bagaimana bisa dikatakan penghasilan yang didapatkan adalah harta yang halal. Keberkahan tak ubahnya mimpi belaka. Jangan berikan keluarga makanan dan minuman yang lezat, harta yang melimpah namun sesungguhnya bara neraka. Untuk apa karir cemerlang, pekerjaan mapan, jabatan tinggi bila diperoleh bukan karena kemampuan, kejujuran dan tanggung jawab, tetapi karena KORUPSI !!!”

Satu Tanggapan to “Diagram Alur Korupsi Berjamaah Di Lingkungan Pemerintahan”

  1. choirul Says:

    korupsi berjamaah… mantap

    Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: