Oh Negeriku, Negeri Cintaku (Indonesia…)


Postingan ini mungkin lebih tepat bila diterbitkan ketika bulan Agustus atau pas hari peringatan 10 November lalu. Tapi saya baru dapet inspirasi kemaren setelah nggak sengaja blog walking. Ya, semoga saja bisa tetap bermanfaat, bismillah…

Indonesia… Masih segar dalam ingatan, setiap kali melihat film-film perjuangan jaman dulu (yang biasanya cuman diputar pas bulan Agustus, tapi sekarang udah nggak lagi deh…), tersirat jelas, bagaimana semangatnya para pejuang dalam bertempur memperebutkan kemerdekaan. Sungguh luar biasa, sepertinya nyawa adalah harga yang mudah diperjual belikan dengan kemerdekaan / kebebasan (identik). Itulah saat terbaik dimana negeri ini dikenal harum dan sangat disegani di seluruh dunia, saat dimana masa kejayaan dan “roda” kehidupan sedang berada di atas.

Tapi, apa yang dilihat sekarang ini, sangatlah jauh berbeda. Orang-orangnya banyak yang sudah tak bangga lagi menjadi anak negeri ini. Mereka bahkan secara terang-terangan merasa malu. Ya, tidak salah memang, karena bangsa ini sendiri sudah mulai kehilangan jati dirinya. Bisa dibilang, negeri ini suka ilusi. Ya, maklum lah, peninggalan masa penjajahan, efek ratusan tahun dijajah. Dulu kan kita sering diiming-imingi nggak karuan sama penjajah, sesuatu yang penuh tipu muslihat, tapi ternyata sangat disukai masyarakat pada masa itu. Budaya warisan terhebat masa penjajahan kolonial adalah birokrasi yang rumit dan korupsi. Maka jangan heran kalau hingga sekian puluh tahun merdeka-pun, hal ini masih mengakar kuat dalam kehidupan negeri ini.

Indonesia, negeri yang hebat, makmur (dulu), kaya raya dan beraneka macam (SARA), kini menjadi negeri yang terpuruk dengan segala krisisnya (moral, agama, politik, hankam, ekonomi, dsb). Para koruptor sukses menunjukkan kebobrokan sistem hukum di negeri ini. Para penguasa hebat dalam menindas rakyatnya. Pemerintah, dengan segala kebijakannya hanya mampu mengesahkan peraturan yang dapat dilanggar secara berjamaah dengan kontrol dan sanksi yang sangat lemah. PNS yang doyan keluyuran saat jam kerja, ditambah lagi para menteri / pejabat yang doyan melancong, dimana intinya adalah penghamburan sia-sia uang negara. Pengusaha pun merasa senang, tenang dan bangga berdiri di atas kerja keras para buruhnya (yang bahkan tidak dibayar setara UMR) dan mengatas namakan kesuksesan. Anak negeri, banyak yang lari ke negara tetangga, karena mereka merasa tidak dihargai di negeri sendiri (TKI & TKW). Sejarah yang direkayasa. Permainan politik kotor, dengan segudang janji-janji manis nan palsu. Dan masih banyak lagi keburukan lainnya, dan tidak akan habis kalo dibahas meski sampai 7 turunan (banyak banget jeleknya, masak iya semua yang jelek-jelek diborong sama negeri ini?? @_@;).

Ada pepatah yang mengatakan (kurang lebih sih), “Jangan tanya apa yang negeri ini berikan untukmu, tapi tanyalah apa yang sudah Anda berikan untuk negara ini?”. Dengan segala kesemrawutan dan kebobrokan negeri ini dari segala sisi, kita janganlah menjadi orang yang skeptis dan picik, yang sukanya saling menuduh dan menyalahkan, apalagi jadi provokator dan tukang adu domba, na’udzubillah…

Tidak semua yang kita kira di atas adalah buruk. Ada juga kok yang baik, cuman karena kaum minoritas, jadinya tidak tampak, malah sering tersisihkan. Tidak semua pejabat itu adalah koruptor, tidak semua penguasa adalah tiran, tidak semua menteri itu doyan ngeluyur, tidak semua PNS itu makan gaji buta, dan sebagainya. Intinya, selalu ada setitik kebaikan ditengah lautan keburukan. Tapi memang praktek di lapangan sering ditemukan penyimpangan-penyimpangan yang membuat kesal masyarakat, hingga akhirnya dicap buruk semua. Ya nggak salah sih, namanya juga kecewa berat, saya juga pernah kok mengalaminya…πŸ˜€

Tidak ada seorangpun yang bisa request dimana dia harus lahir, atau mau jadi keturuannya siapa (kalau saya sih, sekalian aja, mendingan dulu Indonesia jadi persemakmuran Inggris / ikut Belanda aja, Jepang juga nggak apa-apa, hehe,,, ngarep…:D). Tapi disinilah takdir Tuhan bermain, kita sudah ditetapkan jadi penghuni asli negeri ini. Mau tidak mau, kita harus hidup dengan rasa bangga, atau merasa acuh tak acuh / tidak tahu menahu, atau bahkan malu, itu sih urusan pribadi masing-masing.

Perlu kita pahami, bahwa disetiap kesulitan (dalam kasus ini, yaitu menghadapi kebobrokan sistem negeri ini), pasti ada kemudahan. Yang namanya keburukan, sudah pasti sangat mudah tersebar. Tapi kalau soal kebaikan, susahnya minta ampun untuk dipercayai, untuk dipublikasi, untuk bisa dijadikan bukti dan contoh teladan. Sebobrok-bobroknya negeri ini, masih ada segelintir orang yang berhasil mengharumkan nama bangsa. Meskipun bau wanginya masih kalah jauh dengan bau menyengat keburukannya. Tapi itu artinya, negeri ini belum mati rasa, walaupun sekarat, masih ada nafasnya, masih ada semangatnya, masih punya sisa-sisa kobaran api perjuangan, masih ada orang-orang yang mau berkorban tulus, masih ada anak bangsa yang mengharumkan namanya. Indonesia masih punya segudang prestasi, bakat dan potensi yang belum terasah dan sepenuhnya keluar.

Tengoklah secuil berita yang saya ambil dari internet, suatu artikel yang menunjukkan bahwa sesungguhnya kita harusnya bersyukur menjadi WNI, dan bisa cukup bangga terhadapnya, meskipun bukanlah kita pelakunya. Inilah setitik kehebatan Indonesia di mata dunia internasional dan diakui secara luas oleh negara-negara lain :

http://stroomz.blogspot.com/2010/01/kehebatan-indonesia.html
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090828101323AAH0SP5
http://ntunkz.wordpress.com/2010/03/20/kehebatan-indonesia-yang-bikin-singapura-australia-malaysia-cemas/
http://www.antaranews.com/berita/1258381040/dunia-akui-kehebatan-murid-murid-sd-indonesia
http://fitter.blogdetik.com/2010/08/25/kehebatan-indonesia/
http://atlantis-lemuria-indonesia.blogspot.com/2010/02/bukti-bukti-mutakhir-tentang-kehebatan.html
http://blog.deplu.go.id/post/2010/11/08/Kebanggaan-Indonesia-pada-sebuah-kapal-yang-bernama-KRI-Dewaruci.aspx
http://www.bebekrewel.com/ipho-2006/
http://suciptoardi.wordpress.com/kebanggaan-indonesia/
http://banggaindonesiaraya.blogspot.com/2010/06/para-jenius-kebanggaan-indonesia.html
http://kautsarku.wordpress.com/2009/07/17/inilah-29-rekor-indonesia-di-mata-dunia/
http://forum.detik.com/satu-lagi-kebanggaan-indonesia-di-mata-dunia-t103482.html?s=0f08a1a3e104fe793d9a466baed22604&t=103482
http://irwan.net/kekuatan-militer-indonesia/
http://www.tongberisi.net/2010/05/indonesia-di-mata-dunia-internasional.html
http://ibnoe.com/indonesia-di-mata-dunia-luar.html
http://pushtop.blogspot.com/2010/09/indonesia-di-mata-dunia.html
http://us.detiknews.com/read/2009/08/20/011859/1186017/10/5-keteladanan-indonesia-di-mata-dunia
http://batikindonesiadimatadunia.blog.com/
http://www.radarsulteng.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=61733

Untuk artikel lain, silahkan anda searching sendiri di mbah Gugel, sebab masih sangat banyak lainnya, untuk menggugah semangat patritotisme kita (aduuhh,, bahasa ketinggian,,, @_@;). Yah, tapi paling tidak untuk menunjukkan, bahwa negeri ini tidak terlalalu malu-maluin, atau setidaknya, isinya nggak jelek melulu…

Prestasi terbaik kita mungkin tak sedikitpun bisa menyamai mereka (yang saya sebutkan dalam link di atas), tapi bukan berarti kita tidak bisa memberi sumbangsih berarti buat negeri ini. Bagi saya pribadi, jadi anak yang baik, jujur, idealis (agak), tahu tata krama, tahu mana yang benar dan salah (dengan kacamata agama), berbakti pada orang tua, nggak buat onar, nggak berbuat maksiat berat (terlibat hukum pidana), sekolah yang bener, punya hubungan hablumminannas & hablumminallah yang baik, itu saja udah syukur alhamdulillah (tapi kok banyak banget ya??? Hehe…).

Sebenarnya, tidak usah terlalu muluk-muluk, untuk merombak negeri ini, dimulailah perubahan ke arah yang lebih baik pada diri sendiri. Ingat, diri sendiri… kalau kita bisa merombak diri sendiri, nggak usah pakai nyuruh orang lain menjadi baik, Insyaallah, mereka bisa mencontoh dari kita secara otomatis. Sebab negeri ini butuh bukti, bukan janji (walah,, kayak iklan kosmetik aja,, hehe… :D)….

4 Tanggapan to “Oh Negeriku, Negeri Cintaku (Indonesia…)”

  1. Ardha Gp Says:

    Hehe.. “selalu optimis” seperti biasa. ^_^

    okelah, tak ingin aku berdebat di dalam komentar ini. Yang jelas negara yang kuat juga berasal dari rakyatnya. See? “rakyat”, bukan segelintir orang dengan prestasi, bukan karena benda-benda yang dimilikinya. kalau dari link-link nya sih, aku lebih suka bilang : Indonesia negri yang terkenal, “kehebatan” rasanya kurang pas.

    Lihatlah yang di bawah.. yang kelaparan, http://2.bp.blogspot.com/_aoLevFYC5gI/TCq10y4yXMI/AAAAAAAAAc8/ovMNvwfFwfY/s1600/berita_orang-miskin.jpg
    (tak bisakah hati kita tergugah?)

    Atau bisa dibaca sekilas dari sini : http://www.ekonomirakyat.org/edisi_14/artikel_4.htm

    Suka

  2. Sang Penjelajah Malam Says:

    Biarpun banyak kekurangan di sana-sini, Indonesia tetep keren. Karena ada blogger-blogger seperti andaπŸ™‚

    Suka

  3. Pemerintahan & Korupsi Berjama’ah « akziR's Blog Says:

    […] postingan saya yang lalu mengenai beberapa hal baik dari negeri ini ditengah carut marut sistemnya (Oh Negeriku, Negeri Cintaku (Indonesia…)). Tapi kini, seperti menelan ludah sendiri, setelah apa yang saya alami, tidak dapat saya sangkal. […]

    Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: