Celoteh Omongan Manusia | Hikmah Kisah Luqman Hakim


Pernahkan Anda bingung ketika menghadapi suatu permasalahan, dapat ditebak, Anda sharing dan mencoba mencari solusi / pendapat dari teman-teman terdekat yang Anda percaya. Bermacam-macam opini dan masukan mereka, tak jarang membuat anda bingung, mana sekiranya pendapat yang lebih tepat dan cocok dengan diri dan situasi yang anda hadapi. Belom lagi anda harus selalu menceritakan masalah anda berkali-kali kepada setiap orang yang berbeda, demi mendapatkan petuah mereka. Dan hasilnya?? Hampir selalu dilematis. Ketika anda melakukan suatu hal dari salah satu saran mereka / atas dasar inisiatif anda sendiri (karena saking bingungnya dengan banyaknya pendapat yang ada) / menjadi diri sendiri, selalu aja ada yang komentar / berceloteh,Β  selalu saja tindakan kita dinilai kurang tepat. Ya capek sendiri kalo selalu menuruti kemauan mereka. Yah, begitulah manusia, selalu banyak omongnya …

Daripada anda masih pusing masalah di atas, ada baiknya anda serahkan semua masalah kepada yang Maha menghendaki dan mengijinkan masalah tersebut terjadi pada diri anda. Selain berdo’a tentunya, maksud saya adalah…. coba baca dulu kisah di bawah ini, semoga dapat memberi anda sekelumit petunjuk dan secercah harapan (lebay… :D) atas masalah yang sedang anda hadapi…

***

Diriwayatkan, suatu hari Luqman Hakim masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor keledai, saat itu anaknya mengikuti dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, sebagian orang di pasar berkata , β€œLihatlah orang tua yang tidak punya peraaan, anaknya dibiarkan berjalan kaki.” Setelah mendengarkan celotehan dari orang ramai maka Luqman pun turun dari keledainya itu lalu dinaikkan anaknya di atas keledai itu. Melihat yang demikian, maka orang di pasar itu berkata pula, “Lihatlah orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya naik diatas keledai, sungguh kurang beradab anak itu.” Mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang keledai itu itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang – orang berkata lagi, “Lihatlah itu dua orang menaiki seekor keledai, sungguh menyiksa binatang.” Karena tidak suka mendengar perkataan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari keldaiitu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, “Dua orang berjalan kaki, sedangkan keldai itu tidak dinaiki.”

Kemudian dalam perjalanan pulang ke rumah, Luqman Hakim menasihati anaknya tentang sikap manusia dan celoteh mereka, katanya, “Sesungguhnya tidak terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan selain hanya kepada Allah S.W.T saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap perkara.”

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, “Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan menyepelekannya”.

***

Yah,, itulah sekiranya sekelumit kisah yang sangaat berharga dan patut menjadi pertimbangan kita, “Sesungguhnya tidak terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan selain hanya kepada Allah S.W.T saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap perkara.” Pertanya’an kita terjawab sudah oleh nasehat Luqman Hakim kepada anaknya.

Lalu pertanyaan berikutnya muncul, bagaimana cara mengenal kebenaran?? Adab dan alurnya sudah ada dalam Al-Qur’an dan hadits, diantaranya yaitu :

  • Menjaga amalan dzohir dan batin (seperti menjaga sholat, menjaga ucapan, jangan berprasangka buruk, mengaji, dsb),
  • Mencoba mendekatkan diri pada-Nya (seperti berdzikir, puasa, sodaqoh, dsb),
  • Dari ilmu yang diperoleh itu cobalah belajar menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar (tapi jangan dengan sok tau / menggurui / sombong / merasa paling benar, alias tetaplah rendah diri dan musahabah).

Insyaallah, dari kacamata agam kita akan diberi cahaya kebenaran, dapat melihat masalah lebih terang, diberi ketenangan berfikir, kejernihan akal, serta bersikap lebih baik dan berhati-hati. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi penglihatan kebenaran oleh-Nya, sanggup mengikuti dan mampu mengemban tanggung jawab atas resiko kebenaran itu, amiiin…

2 Tanggapan to “Celoteh Omongan Manusia | Hikmah Kisah Luqman Hakim”

  1. sigit Says:

    bro artikelnya gw comot yach…thank b4

    Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: