Belajar Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar


Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, mendengar / melihat kata-kata itu janganlah keburu membayangkan sesuatu yang berat / dakwah yang terlalu wah. Ini cuman secuil pengalaman saja, yang mungkin bisa jadi penambah pengetahuan iman (gaya tok,, hehe….). Apalagi di bulan Romadhon ini, dimana pahala yang dilipat gandakan, yang tentunya ada kalanya diikuti oleh beberapa ujian hidup yang juga ikut berlipat-lipat kadarnya.

Susah juga ternyata, saat kita mengingatkan saudara sesama muslim dari perbuatannya yang melanggar agama. Macam-macam alesan dan argumen dilontarkan, mulai dari kata-kata : “Eh,, siapa elu ???”, “Sok tauu…”, “Udah deh, nggak usah ngeluarin ayat..”, “Hmm,, mesti ceramah…”, “Bukan urusanmu!!!”, dan berbagai kalimat penolakan dan ejekan lainnya. Sakit hati sih enggak, tapi yang jelas sedih. Untung saya yang digituin, coba kalo itu jamannya Rosulullah SAW, bisa ditampol tuh muka, langsung mati kali, kena tamparan Beliau SAW. Tapi Alhamdulillah, Nabi kita ini bukan orang yang emosian, melainkan seorang penyabar dan pendakwah sejati, yang mana tak pernah marah walaupun ketika berdakwah tak jarang juga mengancam keselamatan jiwa dan raganya. Dalam diri Beliau SAW, terdapat suatu tauladan yang penting bagi kita, contoh dan pengingat agar kita selalu bersabar dan berusaha dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kita meluruskan langkah seseorang. Yaitu kita haruslah terlebih dahulu berjalan di atas jalan yang benar, dan melakukannya secara istiqomah. Apa jadinya kalo kita menyeru orang untuk sholat, sedangkan kita sendiri jarang banget sholat? Logika sederhana yang menuntun pada tauladan yang baik.

Menurut sebuah hadits shoheh (meskipun saya nggak tau sanad dan perawinya,, hehe..) : “Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran hendak merubah dengan tangannya. Jika tidak mampu dengan tangan maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu dengan lisan maka dengan hati, itulah selemah-lemah iman.”. Jadi, kalau kita melihat seseorang melakukan sebuah kemungkaran, terlebih lagi itu adalah teman kita sendiri, hendaknya kita mencegahnya. Atau setidaknya kita tidak ikut-ikutan dengan perbuatan jahiliyah mereka. Dan perlu diketahui, itu bukanlah karena berarti kita ini sok suci, sok tau, sok alim, suka mencari muka atau suka mencari kesalahan orang, melainkan karena rasa sayang dan perhatian kita terhadap amalan teman kita itu. Masak iya, teman mau nyebur ke jurang kemaksiatan kok kita malah diem aja, atau malah bersorak, lah apa bedanya kita dengan syetan kalo gitu??

Memang ada kalanya ada yang beranggapan, tak usahlah kita ini mengurusi urusan orang lain. Atau sibukilah dirimu itu dengan amalan / urusanmu sendiri. Kita memang wajib menyibukkan diri dengan amalan sendiri, tapi itu untuk sibuk mengoreksi kesalahan diri sendiri, bukan kesalahan orang. Dan tujuan amar ma’ruf bukan untuk menyalahkan orang, melainkan “mengingatkan dengan penuh perhatian, kesopanan dan kasih sayang”. Seperti yang dikatakan pada ayat berikut :

“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran : 104)


“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan bagi umat manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)

Jadi, kalau ketika anda sedang mengingatkan seseorang dari perbuatan ma’rufnya dan dia membalas dengan kata-kata ketus / emosi, tenang aja, nggak usah ikut emosi / perang mulut, apalagi sampai adu jotos, Masyaallah, nggak perlu deh (lebay apa kurang kerjaan yah…). Wajarlah reaksi begitu, namanya juga orang tidak tau / lagi khilaf, seyogyanya kita yang mengingatkan. Kalo bukan kita, siapa lagi?? Kalau memang sudah diingatkan berkali-kali tapi masih saja nggak ngefek, ya sudah, biarkan saja. Kita istighfar yang banyak, supaya gak ikut terseret dan yang bersangkutan cepat mengakhiri kegiatan maksiatnya. Kita kan hanya menyeru, hidayah yang kasih juga Allah SWT, dan dianya sendiri mau berubah apa nggak. Jadi, tugas kita selesai sampai disini.

Lagian juga, nggak ada ruginya kita coba jalan Nabi SAW yang satu ini, supaya kita tau gimana rasanya menyeru kepada kebenaran dan kebaikan, gimana lelahnya dan perjuangan luar biasa para nabi dan sahabatnya, meskipun kadar perjuangan kita nggak ada 1% nya. Tapi Insyaallah bisa jadi pengalaman yang menghebohkan, tetap semangat dan berjuang, La hawla wala kuwata illa billah…

Satu Tanggapan to “Belajar Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar”

  1. Celoteh Omongan Manusia | Hikmah Kisah Luqman Hakim « akziR's Blog Says:

    […] ilmu yang diperoleh itu cobalah belajar menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar (tapi jangan dengan sok tau / menggurui / sombong / merasa paling benar, alias tetaplah rendah diri […]

    Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: