Selamat Menempuh Hidup Baru


Seperti kita ketahui, tradisi orang jawa / kebanyakan orang yang hidup di pulau Jawa ini, bulan Juli adalah bulan-bulan yang sakral. Bukan acara untuk mandikan keris juga bukan ritual seperti malam 1 suroan, hehe…😀 Tapi lagi banyak orang hajatan alias mantenan (nikahan), atau kalau kata orang Jawa sih, “nduwe mantu”.

Yap, di bulan Juli inilah, banyak undangan (“-,-), harus banyak menyediakan amplopan alias “buwuhan” ^_^; / kebutuhan untuk beli kado. Banyak juga ketemu sama teman-teman lama (sekolah, kantor, tetangga, dsb) / kerabat lama, dan masih banyak lagi kebersamaan lainnya / sebagai ajang reuni. Tapi saya tidak membahas tentang semua itu, melainkan kisah apa yang sebenarnya terjadi dibalik sebelum prosesi akad nikah dilakukan, dan hikmah yang bisa diambil darinya.

Proses panjang sebuah perjuangan akan keyakinan hidup bersama di tangan pasangannya. Menjalin hubungan sekali seumur hidup, sehidup semati (Insya Allah). Ada yang jalannya menuju ke pelaminan itu dimudahkan, ada yang berliku dan ada yang terasa sulit sekali (tergantung amalan mungkin, huallah hu a’lam, hehe…). Sungguh suatu kisah yang menarik untuk disimak, karena terdapat pelajaran berharga di dalamnya, khususnya bagi yang belum menikah (termasuk saya sendiri, hiks… T_T”) / bagi yang memikirkan untuk memutuskan akan segera menikah.

Saya sendiri menjadi saksi hidup sebuah perjalanan berliku seorang teman, dimana terdapat aral melintang yang berat (bukan berat badan loh…), penuh intrik, kebohongan, dilematis, pertentangan batin dan air mata (yang mengalir deras T_T” bak arus sungai arung jeram, hehe… lebay deh), tentunya dalam menuju ke sebuah mahligai pernikahan.

Jodoh memang di tangan Tuhan. Pernyataan yang simple, tapi kenyataannya nggak semudah itu. Ada perjuangan dan pengorbanan yang hebat dibaliknya. Ikhtiar dan tawakkal yang menguras emosi dan menguji keimanan. Sebab ini bukanlah perkara mudah serta menyangkut hubungan kita dengan Tuhan, alias masalah keimanan juga.

Karena itulah, setiap hubungan, pasti memiliki kisahnya sendiri. Mulai dari bagaimana hubungan itu dimulai, lalu menjalaninya, intrik dan dilematis yang dialami dengan teman-temannya (entah itu rebutan pacar, CLBK, selingkuh, TTM, PMP alias pren makan pren, jadi sephia dan sebagainya, coba aja sebutin lainnya…!!!), bagaimana perjuangan dalam mempertahankan hubungan itu, hingga masalah pekerjaan / karir dan urusan keluarga kedua belah pihak juga jadi batu ujian. Ada yang sudah pacaran bertahun-tahun, namun akhirnya kandas jua. Ada yang pacaran instan, namun bisa langsung nikah. Ada yang gonta-ganti pacar / tusbung (alias putus nyambung) / bahkan masih ada yang pakai metode ta’aruf. Ada juga yang bingung memilih, karena ada lebih dari satu (wah,, ini playboy apa playgirl yah??).

Setiap dari kita pastilah menginginkan pasangan hidup terbaik. Kriterianya macem-macem, maunya yang aneh-aneh. Survey membuktikan (bukan kuis di tipi loh…) kebanyakan mengingikan pasangan yang :
1. keren tampangnya (supaya nggak malu-maluin kalo diajak jalan / dikenalin ke orang),
2. kaya alias mapan (supaya bisa beli apa aja yang diinginkan / setidaknya hidup enak dan nyantai),
3. sabar alias nggak tempramen (supaya ada yang ngalah kalo lagi cekcok dan nggak jadi masalah besar),
4. mencintai & menerima kita apa adanya (agar kita merasa nyaman dengan kekurangan diri dan senangnya bila dia masih mensupport kita),
5. jujur (saling terbuka supaya hubungan langgeng karena tidak ada lagi rahasia),
6. mandiri dan dapat diandalkan (orang manja emang nyusain…😛, ini menunjukkan kapasitas sebagai pemimpin dalam keluarga),
7. penyayang (supaya ada yang manjain & perhatiin kita),
8. humoris / easy going (biar hubungan gak tegang dan ada pencair suasana),
9. dll, dsb (silahkan tambahin sendiri kalo ada lainnya).

Namun, apakah semua kriteria di atas bisa terdapat pada 1 orang saja? Wow… fantastis, luar biasa… Ya, mungkin saja, tapi seberapa besar kemungkinannya? Belum lagi apakah orang tersebut akan menjadi pasangan hidup kita atau tidak (banyak nggaknya deh… :D). Setahu saya, satu-satunya orang yang bisa memenuhi semua kriteria di atas, hanyalah nabi Yusuf as. Hmm… bener gak ya? Dan beliau sudah almarhum, hehe…

Maka dari itu, dari sekian banyak persyaratan (khayalan), tentu saja hanya ada beberapa yang menjadi priortas utama kita dalam memilih pasangan hidup. Kata orang Jawa ada pertimbangan bobot, bibit dan bebet. Atau kalau menurut agama sih cuman ada 4 kriteria, yaitu dilihat dari agamanya, hartanya, rupanya atau dari segi keturunannya. Hayo… pilih yang mana? Terserah anda memang, tapi ingat, masing-masing pilihan ada resikonya, dan harganya yang harus dibayar dan dibawa mati sampai ke akhirat nanti. Memikirkan hal tersebut, tentu dibutuhkan waktu yang lama, namun deadline keputusan sudah dekat.

Banyak calon pengantin yang masih merasa gentar ketika akan disepakati mengenai waktu untuk mengikat janji sehidup semati, meskipun restu sudah dikantongi. Satu lagi ujian hidup yang harus dilalui. Pertentangan batin yang menyinggahi hari demi hari, ketakutan dan kekhawatiran yang menghinggapi. Diperlukan berbagai wejangan (dari orang tua) dan nasihat serta sharing dari berbagai pihak yang lebih berpengalaman, jangan lupa juga support dari teman-teman (itu juga penting loh…). Dari semua itu, disinilah peran doa begitu besar dan pentingnya (meskipun tiap hari kita juga musti berdoa, tapi khusus yang ini, beda loh…), melalui sholat istikhoroh dan dibarengi tirakat berpuasa. Demi memperjelas gambaran atas calon suami / istri, membuka jalan dan mata hati, untuk satu pertanyaan terakhir, “Benarkah dia pasangan hidupku, jodohku yang terbaik untuk hidupku ya Rabb ???”.

Ingatlah, pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan yang berbeda, juga bukan hanya masalah peleburan ego dan sekedar hidup bersama, namun lebih jauh dan luas lagi, juga peleburan mengenai dua keluarga yang berbeda beserta rentetan perbedaan lainnya. Karena itulah nilainya dipandang sangat penting dan besar di dalam Islam, sehingga dalam suatu hadits disebut “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.). Lah, kalo kita bukan golongannya Rasulullah, lalu golongannya siapa??


Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (QS : Ar-Ruum 21)

Oke kawan, setelah menjadi saksi mata gimana kerasnya usahamu dalam melakoni lika-liku hubungan kisah asmara ruwet kalian, semoga segala perngorbanan, air mata, doa keluarga dan orang tua, serta support dari teman-teman sekalian, ditambah niatan tulusmu dalam membangun biduk rumah tangga dapat terbayar dengan menjadi keluarga baru yang sakinah, mawadah, wa rohmah (alias disingkat samawa, baru tau kemaren,,, :D).

Sunggingan senyum dan tawa candamu dengannya, menyejukkan hati ini yang telah merasa lega melepas masa lajangmu selama ini (meskipun gak lama temenannya), semoga dengan orang yang benar-benar tepat, Insya Allah, amiiinnn…. seperti ayat berikut :


Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (QS : An-Nur 26).

O ya, satu lagi, kalo nanti mau berantem, jangan lupa diingat-ingat lagi masa-masa susah dan perjuangan jaman dulu, supaya nggak jadi gegeran hehe….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: