Kemanakah Logika Kita Bersandar ???


Siapa yang tidak kenal Darwin? Yang dengan kesombongan logikanya, mencetuskan teori bahwa manusia adalah hasil evolusi dari kera (yang mana teori ini telah dibantah, terdapat dalam salah satu karya Harun Yahya), yang jelas menyesatkan & terang-terangan tidak mengakui kebesaran Tuhan. Saya sendiri tidak mau disamakan dengan perimata, Anda mau??? Coba kita renungkan sejenak…


β€œDan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya.” (QS Al-Hajj : 8 )

Apakah anda akan berlogis ria tanpa memikirkan batasan agama? Dimana ada kekuatan di luar sana yang Maha dahsyat, yang ilmunya jauh tak terbatas, yang Maha hebat & Maha berkuasa, yang tak terjangkau oleh akal makhluk manapun. Dan kekuatan itu senantiasa membatasi akal dan logika kita.

Jadi, apakah logika yang harus disandarkan pada agama, ataukah agama yang akan disandarkan pada logika kita?

Jika logika disandarkan pada agama, maka setiap pemikiran dan ilmu yang kita miliki akan berujung pada kemahakuasaan dan kemahaesaan Tuhan, mempertebal ilmu dan keyakinan kita pada-Nya. Semakin mendekatkan diri kita pada-Nya, dan membuat kita lebih mengenal keagungan-Nya. Lebih menyadarkan bahwa betapa tidak berartinya kita ini.


β€œTidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS Lukman : 20)

Tapi sebaliknya, jika agama yang disandarkan pada logika, niscaya tidak ada satupun agama di dunia ini yang memiliki pengikut, sebab akan dianggap tidak logis, tidak benar, mengada-ada, dan semuanya berisi dusta dan khayalan belaka. Bayangkan saja, mana ada logika yang bisa menembus surga? Apakah ada logika di dunia ini yang bisa menjelaskan tentang akhirat? Itulah yang terjadi pada ilmuwan-ilmuwan sesat sekelas Darwin. Sebab itu semua tidak nampak, dan itu semua adalah ilmu Tuhan, yang hanya bisa dipelajari lewat agama & mata batin.

Jadi, agama dulu, baru logika bermain, bukan sebaliknya. Barulah ilmu Ketuhanan bisa nampak oleh logika melalui ketajaman mata hati & batin.

Kita memang diberi cipta, rasa, karsa, dan akal, dan memang harus digunakan. Tapi jangan semena-mena. Kita diberi itu untuk bisa berfikir tentang hakekat penciptaan, tentang kehidupan sehingga kita dapat menemukan eksistensi Ketuhanan. Berfikirlah tentang batasan-batasan di luar sana yang tidak nampak.

Meskipun sering dikatakan bahwa alam dan manusia memiliki potensial kekuatan yang tak terbatas / belum terksplorasi secara total selama ini, namun di luar sana masih ada sang Maha pembatas, yang ilmunya tak berkesudahan, Dialah sang Tuhan semesta alam. Yang jika memandang kepada ilmu-Nya, maka alam semesta inipun hanyalah berupa sebutir debu, apalagi kita, manusia, sebagai makhluk dan atribut yang menghuni di dalamnya.


β€œAllah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS Al-Baqarah : 255)

Kita memang diwajibkan menuntut ilmu, tetapi juga harus dengan keimanan. Karena, agama & logika memang tak dapat berdiri sendiri-sendiri, keduanya saling mendukung. Sebab amalan (agama) tanpa ilmu (logika) adalah sia-sia & kebatilan (bid’ah) belaka. Bagaimana mungkin seseorang dapat melakukan suatu amalan kebaikan, tapi tanpa dalil & dasar yang jelas. Istilahnya, bisa jadi niatnya baik tapi caranya salah, maka manfaatnya tidak akan sampai, atau malah menjadi sesat.

Dan Allah SWT pun akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Lalu, dimanakah kita dapat menemukan rujukan yang bisa memberikan 2 hal sekaligus, yaitu ilmu agama & logika? Al-Qur’an nulqarim adalah jawabannya, dia adalah kitab β€œrahmatan lil alamin”, rahmatan seluruh alam. Di dalamnya berisi ilmu (firman) dari sisi Tuhan, tidak ada keraguan sedikitpun mengenainya.


β€œDan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-A’raf : 52)


β€œSesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS Yusuf : 111)

Semoga, sedikit tulisan yang tidak berarti ini, bisa sedikit mengingatkan kita agar tidak menjadi ujub, takabur, sombong dan terkena berbagai penyakit hati lainnya. Dan juga agar dapat bermanfaat bagi sesama, Insya Allah, amin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: