Dua Sisi Hati


“Hmm… kayaknya yang itu aja deh!”, sambil menunjuk sesuatu di sebelah kanan. Tapi, hatinya berkata “Kok kayaknya yang itu juga bagus ya?”, sambil melirik sesuatu di sebelah kirinya.

Atau, ketika bibir Anda mengatakan “ya” pada suatu hal, saat itu juga hati Anda mencapai titik puncaknya dan mengatakan yang sebaliknya, yaitu “tidak”.

Pernahkah Anda merasakan seperti ilustrasi di atas? Dua hal yang saling bertolak belakang sedang berkecamuk di benak Anda. Hal yang aneh memang untuk dirasakan, tapi begitulah kenyataannya. Ketika mulut kita mengatakan sesuatu, maka boleh jadi hati kita berkata lain. Dengan kata lain, bicaranya tidak sesuai dengan isi hatinya. Maka apakah apakah suatu kebohongan? Tergantung.

Menurut saya (Insya Allah deh… bener, kalo salah, ya maap), berbohong adalah ketika seseorang mengetahui kebenarannya tetapi dia berkata lain dari yang sebenarnya / menutupi kebenaran tersebut dengan sengaja dan secara sadar baik dengan paksaan maupun tidak.

Tetapi, untuk kasus seperti ilustrasi di atas adalah sebuah persoalan kebimbangan hati. Dimana kita harus memilih salah satu atas 2 hal / lebih yang kita kurang yakin / tidak yakin / bahkan sangat yakin. Lalu, bagaimana kita tau bahwa pilihan itu benar bila belum dicoba? Sedangkan bila sudah terlanjur memilih dan ternyata tidak sesuai dengan yang kita harapkan, tentunya penyesalan sudah siap menghadang di depan.

Belum lagi kala kita bimbang atas suatu pilihan yang menurut orang banyak adalah hal yang terbaik dan benar, namun kita sendiri menyangkalnya. Dan orang banyak disini maksudnya adalah orang-orang yang berpengaruh dalam hidup kita, semisal orang tua, saudara, guru spiritual, sahabat / teman-teman kita. Apalagi kalau pilihan itu berdasarkan atas emosi semata, gak pake’ logika sama sekali, bisa sangat amat berbahaya. Dicekoki nasehat sebaik apapun, disuguhin ayat Qur’an dan hadits, bahkan ditunjukkan fakta sekalipun, takkan mampu menggoyahkan pendirian seseorang yang otaknya sedang tak berfungsi, alias diambil alih 100% oleh emosi. Maka dari itu, turun tangan Tuhan-lah yang akan mampu menyadarkannya.

Di sinilah kuasa Tuhan bermain. Bagi kita yang muslim (termasuk saya, maap bila anda non muslim), ada beberapa solusi yang ditawarkan (setahu saya), yaitu berdo’a dan sholat istikharah (sholat meminta petunjuk). Kedua jalan ini berhakekat sama. Seperti biasa, petunjuk yang kita harapkan bisa bervariasi waktu kedatangannya dan berupa apa. Tak jarang juga, sepertinya kita menganggap petunjuk itu tak datang, karena kita merasa do’a kita tidak dikabulkan. Hmmm… Huallah hu a’lam. Kalo yang ini sih tergantung hubungan pribadi masing-masing dengan sang Tuhan.

Mungkinkah ketika petunjuk itu datang kita terlalu buta untuk melihatnya dan terlalu tuli untuk mendengarnya? Ataukah kita tidak bisa menerima petunjuk itu karena tidak sesuai dengan keinginan kita? (Dengan kata lain kita hanya mencari dukungan pembenaran atas pilihan kita). Ataukah petunjuk itu memang tidak datang, karena selama ini kita mengabaikan perintah dan larangan-Nya (ya… seperti A yang nggak pernah perduli sama B, padahal si B baik banget sama si A, tapi suatu ketika si A tiba-tiba minta tolong sama si B, kira-kira si B mau nggak ya nolongin?).

Masalah manusia dan Tuhan ini tidak akan saya bahas lebih lanjut dan mendalam, soalnya bersifat pribadi, hasilnya bervariasi dan arahnya bisa kemana-mana, sedangkan pengetahuan saya soal agama seperti sebutir debu, nggak ada apa-apanya, ntar disangka sesat lagi, trus digebukin sama FPI (maap, bukan maksud menyindir…). Bila mau tau lebih lanjut, silahkan membuka literatur website lain tentang keagamaan yang lebih bisa dipercaya (daripada website ini).

Oke… kembali ke topik awal. Orang bijak bilang, pengalaman adalah guru terbaik. Kesalahan dalam memilih juga merupakan pengalaman, lalu bagaimana jika pengalaman itu terjadi lagi? Iya kalo dihadapkan pada pilihan yang sama seperti kesalahan yang lalu, lah kalo pilihannya baru? Ya bikin kesalahan baru dong? Bisa jadi ya, bisa juga nggak. Tergantung kebijaksanaan dan wawasan yang dimiliki serta pengaruh dari luar (lingkungan, orang tua, atau nasihat orang lain) dan campur tangan Tuhan.

Ada beberapa orang yang bisa mengenali pola kebimbangan hatinya (ya semacam suatu karunia pemberian dari Tuhan atau… indra ke-6 kali ya?), yang dengan ini dia bisa memantapkan pilihannya, dan bila salah dia tidak terlalu menyesal, karena mengerti makna di balik semuanya dan dapat mengambil hikmahnya. Ada juga yang cuek / masa’ bodoh. Ada juga yang mau mencoba semuanya (selama kesempatannya masih ada). Ada yang curhat ke orang terdekat, atau berkonsultasi ke psikologi. Ada yang berdo’a meminta petunjuk Tuhan. Atau, ada yang lainnya (yang nggak termasuk kategori di atas).

Bagaimana dengan anda? Ada saran?

3 Tanggapan to “Dua Sisi Hati”

  1. kodokkrawu Says:

    bismillah,, ragu/bimbang masalah apa dulu?? masalah dunia? keraguan itu muncul karena kekurang tahuan kita tentang masalah itu, solusinya pelajari masalah itu lalu putuskan,, masalah akhirat? solusinya cuma 1, Al-quran,, “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepa…da yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS AlBaqarah ayat 2-3),, itu uda jelas,, keraguan atau kebimbangan itu muncul karena kita tidak menguasai ilmunya,, hanya orang bodoh saja yang ragu atau bimbang masalah dunia, kita hidup di dunia hanya sementara, kenapa harus bingung untuk sesuatu yang nantinya kita tinggalkan?? kita diciptakan untuk beribadah, kita mencari nafkah dan segala pernak-perniknya di dunia ini bertujuan untuk menyempurnakan ibadah kita,, insyaAllah dengan berpegang pada Al-quran dan As-sunnah, tak ada keraguan yang menghampiri kita,,

    Suka

    • akzir Says:

      Nggak salah emang komentarnya. Tapi yang namanya bimbang itu adalah manusiawi, Rasulullah SAW aja pernah bingung ketika ditanya suatu hal yang belum ada di Qur’an, hingga diturunkan suatu ayat untuk menjelaskannya.
      Lagipula, dalam firman Allah Dalam Al – Qur’an, QS : 2 : 155 :
      “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
      Nah, jadi, Insya Allah wajar kalo orang lagi bingung, bukan karena dia bodoh / kurang ilmunya, tapi karena dia memang sedang diuji. Gak tau lagi kalo kamu gak setuju sama sanggahan ini, he…..

      Suka

      • kodokkrawu Says:

        bentar, aq sangat setuju dengan ayat itu tak ada keraguan,, makanya aq tanya, bingungnya masalah apa? cobaan itu diberikan untuk orang yang level imannya sudah di atas rata2,, so, kalau kita beranggapan semua kebingungan atau kebimbangan itu sebagai cobaan dan terlalu mendramatisir, alangkah naifnya kita,, ingat, kebimbangan n keraguan itu bisa disebabkan pikiran yang gak jelas,, dalam alquran memang ada ayat berupa peringatan tapi alquran pun menyediakan penangkalnya,, nabi muhammad memang dibuat bimbang karena dia adalah suri tauladan bagi kita, supaya kita bisa mengambil pelajaran, so, g ada alasan kebimbangan,, ingat, bimbang adalah salah satu sifat setan,,

        Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: