Becarefull To What You Wish For


Hmm… kira-kira sih artinya gini “hati-hati terhadap apa yang kau inginkan”. Kenapa? Berikut alasannya.

Tentunya kita semua punya keinginan, punya cita-cita, dan punya berbagai pemikiran. Semua yang kita inginkan pastilah kita menganggapnya hal itu adalah baik dan yang terbaik buat kita. Lihat, betapa seringnya kita merasa iri dengan kondisi orang lain. Lalu terbesitlah “andaikan aku menjadi …” (ini bukan judul reality show di tv loh…), dan itu nggak akan ada habisnya. Trus, kapan bersyukurnya? Kalo mendongak ke atas, kita bisa lihat, di atas langit masih ada langit. Menuruti keinginan manusia, sama dengan menuruti hawa nafsu (jangan ngeresss…!!!), dan itu nggak akan pernah ada habisnya, karena manusia nggak pernah puas dan nggak akan pernah merasa puas sampai kapanpun, sebab itu sudah jadi sifatnya.

Pernahkah Anda suatu ketika menginginkan sesuatu yang teramat sangat? Dan hal itu tidak tercapai? Meskipun sudah berusaha sekeras mungkin, berusaha mati-matian, dan telah melakukan apapun? Tapi tetap saja tidak bisa mendapatkannya. Dan Anda sangat menyesalinya, karena sangat menginginkannya dan tak pernah bisa mencapainya. Sebab hal ini bisa menyelesaikan berbagai masalah Anda, bisa membuat Anda bahagia, dan berbagai alasannya lainnya.

Kemudian Anda menyalahkan orang lain, atau diri Anda sendiri, atau bahkan Tuhan. Atau bahkan Anda menyalahkan semuanya atas semua ini. Berbagai hal buruk memenuhi pikiran Anda, hati & pikiran jadi panas, hidup tidak tenang. Anda berfikir, mungkin Tuhan sedang menghukum Anda, mungkin Dia membenci Anda, mungkin karena Anda terlalu banyak dosa, mungkin karena ini ulah si A, mungkin… mungkin… dan mungkin…

Lalu suatu ketika, Anda berhasil mendapatkannya. Sesuatu yang sangat Anda dambakan & idam-idamkan. Rasa syukur, bahagia yang meluap-luap, senang dan suka cita yang menghinggapi hati. Dunia serasa indah, dunia serasa milik sendiri & ada digenggaman, serasa Anda adalah makhluk yang paling diperhatikan oleh Tuhan. Namun tatkala Anda memilikinya, seiring berjalannya waktu, suatu hal yang aneh mulai terjadi. Yang diluar dugaan Anda, yang sangat tidak Anda inginkan, yang sangat bertolak belakang dengan apa bayangan Anda selama ini, yang sungguh mengejutkan di hidup Anda.

Semisal Anda sangat menginginkan A, tapi Anda mendapatkannya beserta B. Dan Anda tidak bisa membuang B, sebab ini adalah satu paket. Jika Anda membuang B, maka A-pun akan hilang. Akankah Anda membuang kesempatan yang Anda tunggu seumur hidup demi membuang B? Ataukah Anda akan menerima A dan mencoba bertahan dengan B juga? Ataukah lainnya? Mampukah Anda hidup dengan pilihan ini? Setiap pilihan pasti ada tanggung jawab dan resiko dibaliknya.

Satu hal yang saya bisa ambil hikmahnya dari kisah ini, kisah pengalaman hidup saya sendiri. Hati-hati terhadap setiap hal yang sangat Anda inginkan dalam hidup ini. Menurut kita hal itu sangat baik buat kita, tapi belum tentu demikian menurut Tuhan. Bahkan, hal yang buruk bagi kita, bisa jadi adalah hal yang sangat baik buat kita menurut Tuhan.

Seperti petikan 2 ayat berikut ini :

Kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (QS An-Nisa’ : 19).

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetauhi, sedangkan kamu tidak mengetauhi”. (QS Al-Baqarah : 216).

Saat kita sangat memaksa, sangat menginginkannya, sangat percaya diri dan yakin hal itu baik untuk kita, dan kemudian Tuhan seolah memberikannya dengan “tamparan”. Saat itulah kita menyadari, bahwa hal itu sebenernya tidak baik untuk kita. Namun apa daya, semuanya telah terjadi, dan mau tidak mau kita harus tetap menjalaninya. “Tamparan-Nya” memang cukup menyakitkan, membuat hidupku cukup sangat berantakan, namun pelajaran yang sangat bermanfaat bisa dipanen dari sini, membentuk kedewasaan dan mempertebal iman.

Kata-kata maaf, ampunan, pertobatan, penyesalan dan air mata, takkan mampu menebus rasa sakitnya yang luar biasa. Ingat, ini bukan tentang disakiti oleh manusia / makhluk lainnya, tapi ini mengenai “tamparan” Tuhan. Seumur hidup, takkan pernah terlupakan, suatu pengalaman yang berharga & tak ternilai.

Cukuplah kita berusaha dan berdo’a, melakukan ikhtiar dan tawakkal, serta berencana, namun semuanya Tuhan pulalah yang menentukan, yang memutuskan. Kita hanya bisa memilih dan menjalani takdir, namun Tuhan-lah yang telah menggariskan semuanya. Gunakanlah akal, pikiran & agama yang dianugrahkan Tuhan kepada Anda dalam menyelesaikan setiap permasalah, jangan bersandar pada nafsu & keinginan belaka yang tergesa-gesa.

Jadi, masihkah Anda menginginkan sesuatu yang Anda sendiri tidak tau apakah itu baik / buruk menurut Tuhan? Jadi, janganlah sekali-kali anda memaksa Tuhan. Berdoa itu meminta, bukan menyuruh. Maka, janganlah pernah jadi sok tau & menyalahkan Tuhan, sebab kita yang diberi kebebasan berkehendak ini, lebih bebas lagi Tuhan yang menentukan takdir kita.

3 Tanggapan to “Becarefull To What You Wish For”

  1. kodokkrawu Says:

    itu adalah gambaran sifat yang ada pada dirimu, dari cara pandang kamu, kamu orangnya terlalu terobsesi pada segala hal yang menjadi tujuanmu,, mudah untuk menanggulanginya, renungkan arti hadirmu di dunia,, “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat : 56). dari situ saja sudah jelas, keinginan dan harapan hanya pernak-pernik kehidupan, jangan terlalu lebay menghadapinya,, rasa kehilangan hanya akan ada kalau kita pernah memiliki, awal mula kita berada di dunia tanpa sehelai benangpun yang menempael pada kita, itu menanakan kita tak punya apa2, dan semua yang kita punya sekarang hanya titipan,, akankah kita mengejar harapan, angan, cita2 yang hanya titipan??? hmm,, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS 2:164)

    Suka

    • akzir Says:

      oke, makasih atas commentnya, masukannya bagus juga, bisa buat nambahin postinganku, hehe….
      Obsesif sih iya, tapi gak dalam segala hal mas. Salah ntuh…
      Kadang kan kita juga butuh yang namanya optimis & berusaha sampai limit tertentu, kalau gak jatuh sendiri, gak tau rasanya, gak dapat pengalaman & ilmunya, jadi tetep ada hikmahnya…

      Suka

      • kodokkrawu Says:

        kalau aq, belajar dari kesalahan sendiri itu pintar, tapi belajar dari kesalahan orang lain itu jauh lebih pintar,, kalau kamu harus jatuh untuk menjadi pintar, tapi aq hanya butuh melihat kamu jatuh untuk menjadikan aq lebih pintar darimu,, optimis itu wajib, makanya segalanya akan lebih mudah kalau tau ilmunya,,

        Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: