Lembaga Pendidikan Profesional Yang Secara Profesional Membahayakan


Musim lulusan telah tiba. Para lulusan tingkat menengah (SMA, STM, SMK, SMEA / sederajat) bagaikan menghadapi jalan bercabang. Mau meneruskan kemana setelah lulus? (Bagi yang belom lulus, jangan putus asa, kan masih bisa mengikuti ujian susulan, dan semoga lulus dengan hasil yang menggembirakan, amin…).

Di bagian paling atas, buat siswa yang baru lulus SMA, perebutan paling seru ditempati oleh PTN, nomor dua ditempati oleh PTS, nomor tiga langsung kerja, nomor 4 langsung nikah, dan yang terakhir baru kuliah di lembaga pendidikan profesional. Nah, Anda termasuk pilih yang mana?
(Harap diketahui dan dimaklumi, ranking diatas diambil tanpa survey apapun dan hanya berdasarkan perkiraan penulis. Maklum lah… soalnya kelamaan kalo pake’ survey. Semoga kira-kiranya bisa mendekati benar.)

Seperti yang diketahui, di daerah Surabaya tercinta ini, banyak dijumpai lembaga pendidikan profesi D1 dan / D2. Untuk yang baru lulus SMA pastilah masih amat sangat ingat gimana ampuhnya metode “gendam” mereka, supaya kita terjaring masuk dalam “organisasi bisnis” mereka. Apalagi yang baru memasuki kelas 3, bisa diperhatikan baik-baik dari awal “mulut manis” mereka (enak dong, kalo minum teh / kopi nggak usah dikasih gula, kan mulutnya udah manisss…).

Dari kata-kata patriotis seperti membangun bangsa dan negara (biasanya berkobar-kobar seperti orang demo berorasi), pamer fasilitas lengkap dan terbaik (dari pamflet / brosur yang kadang-kadang gambarnya kuerennnnn… setengah mati, eh ternyata kenyataanya nggak mentereng sama sekali), waktu studi yang singkat, dosen dan pengajar yang berkualitas, penempatan job training, alumni yang sudah bekerja di perusahaan ternama, relasi perusahaan-perusahaan besar, hingga dijanjikan pasti mendapatkan pekerjaan setelah lulus.


Anehnya lagi, ada beberapa lembaga seperti ini yang memberikan tips dan trik tentang memilih lembaga profesi yang baik, tentunya itu mengarah ke dirinya sendiri (mana ada yang menunjuk ke lembaga saingan?).

Mereka memang punya pangsa pasar tersendiri, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa siapa saja bisa terjaring, mengingat betapa memukaunya presentasi mereka. Waspadalah… waspadalah… (kata bang Napi).

Bukannya su’udzon, tapi ada seorang teman yang punya pengalaman buruk mengenai hal ini. Dan celakanya lagi, efek traumanya nggak akan pernah bisa hilang seumur hidup. Kalo ditanya soal perasaannya mengenai hal ini, tuh orang bisa ngejawab “Ya… lumayan jengkel dan dendam sih! Kalo waktu itu di situ ada korek api sama minyak gas seliter aja, gua bakar deh…”. (Wooo… sebegitunya kaleee… rasa kecewanya). Jadi, tolong diperhatikan sebaik mungkin, supaya nggak timbul fitnah dan salah paham.

Dia bilang, dia salah satu siswa berprestasi di lembaga itu (emang anaknya rada’ encer kok ingusnya, eh, otaknya sih…). Janjinya, di lembaga itu, siswa yang berprestasi akan didahulukan segalanya (jadi prioritas), tapi kenyataanya sampek luluspun dia nggak dapet penyaluran / bantuan tempat kerja yang sesuai dengan keahliannya. Malah dia pernah disuruh ngelamar jadi marketing, padahal dia anak IT (lah… nyemplang banget ya? Trus, anak jurusan pemasaran jadi staff IT gitu? Apa kata duniaaaaaa???). Jelas aja dia “nggrundel” dan terdengar oleh “kuping” lembaga, semenjak itu dia nggak pernah lagi dapet info lowongan dari tuh lembaga. Katanya “orang atas”di lembaga yang pidato ketika acara wisuda, kurang lebih sih begini : “Kita sebagai pencari kerja yang baru lulus, nggak boleh milih-milih kerjaan di posisi apa, yang penting kesempatan yang ada langsung diambil aja”. Yeee… enak aja ngomong gitu, nggak ngerti deh apa maksudnya. Berarti kan tidak ada kompetensi di bidangnya, pantesan negara jadi semrawut, orang yang kerja ternyata tidak kompeten dibidangnya, wahhh… bahaya banget ini.

Lah, kuliah kan muahal buanget. Trus, apa gunanya kalo cuman buat jadi marketing / penjaga toko / ruko? Itu ilmu buat apa? Gimana tanggung jawabnya ke orang tua (yang ngebiaya’in kita) kalo ternyata pendapatan kita nggak sesuai dengan apa yang telah kita keluarkan selama kuliah. Capek-capek kuliah, belajar, berfikir keras, cuman buat jadi yang anak lulus SMA aja bisa dapet. Mereka bilang jadikan itu batu loncatan. Gimana mau loncat yang tinggi dan jauh, kalo batunya cuman segede kerikil? (Jangan bilang sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, kalo kerikilnya sebukit, mendingan dijual aja ke toko bangunan…)

Kalo soal ilmu, itu lain lagi ceritanya. Wajar dong kalau kita tambah pengetahuan dan pinter, lah kita kan yang bayar, rugi dong kalo nggak ada manfaatnya, kalo nggak dapet ilmunya. Tapi janjinya itu loh, makan ati (pake’ rempela nggak ya?).

Tujuan lembaga pendidikan di mana-mana kan jelas, cuman 1 intinya, yaitu menyiapkan SDM yang siap pakai di bidangnya, sehingga perusahaan memiliki praktisi dari disiplin ilmu yang jelas. Bukan untuk berwirausaha yang gak jelas. Sebab lingkup wirausaha lain lagi, karena dibutuhkan bakat alami, teori yang lebih mumpuni serta pengalaman & jam terbang yang tinggi di lapangan.

Mungkin nggak cuman dia aja yang ngalamin (temen saya), tapi juga orang lain, atau mungkin Anda? Yang juga merasa rada’ sakit hati dan kecewa. Ada beberapa tips yang cukup ekstrim bagi Anda yang memiliki pilihan untuk meneruskan ke lembaga pendidikan profesional (atau mungkin untuk teman, saudara, anak, / bahkan tetangga Anda), supaya nggak terjebak di jurang sama. Atau kalo udah terlanjur, nggak dalam-dalam terjerumusnya (dengan kata lain, siap-siap aja). Ekstrim di sini maksudnya Anda harus sidak langsung ke TKP (tempat kejadian perkara), jadi nggak hanya manggut-manggut kena gendam atau cuman terkesima lihat brosurnya aja.

Berikut tipsnya :
1. Mereka menyediakan fasilitas seperti komputer terbaru, ruangan ber-AC, mushola, kantin dan tempat parkir yang aman dan nyaman.
a. Boleh jadi komputernya memang baru, tapi apakah baru ketika brosur itu dibuat (misalnya udah 5 tahun yang lalu), atau spesifikasinya yang kecil (misal pentium 2 / 3 dengan memori minim).
b. Ruangan memang ber-AC, tapi apakah berfungsi? Saya pernah lihat di beberapa lembaga seperti ini AC-nya kok jadul (jaman dulu) banget, jadi sangsi sama kinerjanya, alias angin doang dan gak dingin.
c. Musholanya gimana? Nyaman nggak sholat di sana? Jangan-jangan cuman ukuran 2×2 m aja (mana muat?).
d. Kantin, saya kira rada’ nggak masalah, di luar juga banyak, harga juga nggak jauh-jauh amat, rasa juga agak sama.
e. Tempat parkir juga penting. Motornya (bagi yang bawa motor, kalo naik angkot sih nggak usah khawatir, kalo naik mobil, hmmm… nggak tau lagi deh) sih aman, tapi helmnya? Atau karena saking sesaknya (tempatnya kurang gede / luas), tuh motor jadi beset-beset. Bisa jadi ada efek domino, satu roboh, sederet jadi roboh semua. Bahaya tuh. Udah habis duit buah kuliah, habis juga buat betulin motor / bahkan kalo hilang. Semoga aja nggak ya, amin….
2. Waktu studi emang singkat, kan D2 / D3, tapi yang perlu diperhatikan, kita bakalan dapet apa aja? Relevan nggak sama dunia kerja 2 / 3 tahun kemudian ketika kita lulus nanti. Syukur-syukur kalau sering uptodate tentang iklan lowongan kerja baik dari koran maupun internet. Dari situ dapat dilihat spesifikasi kemampuan apa saja yang dibutuhkan saat itu, hingga dapat memprediksi kebutuhan dunia kerja 2 / 3 tahun mendatang.
3. Kalau soal dosen dan pengajar, ini agak susah. Kita kan emang nggak kenal mereka, kecuali mereka sering nongol di TV lokal / swasta atau kita emang udah kenal sebelumnya. Atau mungkin kita punya kenalan orang dalam, semisal saudara / tetangga. Sebab mereka bisa aja memajang nama beserta gelar palsu di brosur. Susah juga ngelacaknya. Tapi bisa dengan cara menanyai mahasiswa-i disana. Tentu saja kita mengharapkan jawaban jujur dari mereka. Atau Anda punya solusinya?
4. Sering di brosur mereka memampang beberapa brand perusahaan-perusahaan besar nasional, benarkah mereka punya relasi? Si perusahaan sih oke-oke aja brand-nya dipajang, kan jadi terkenal, bisa buat media publikasi gratis. Lah, gimana dengan tanggung jawab tuh lembaga? Logo gitu kan banyak di media-media (cetak maupun internet), tinggal comot aja, trus dipasang, gampang kan?
5. Ada memang beberapa alumni dari beberapa lembaga yang bekerja di posisi prestisius di perusahaan tekemuka. Tapi apakah benar-benar dari lembaga tersebut? Maksudnya setelah lulus langsung bekerja di sana? Dari riset dan pengalaman (yang ini beneran, dan hasil tanya ke beberapa kenalan), bahwa 97% dari mereka melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi di PTS / PTN terkemuka dengan nilai yang memuaskan. Jadi waktu ngelamar, mereka memakai ijazah & transkrip lulusan terbaru dari PTS / PTN tersebut. Bahkan ada yang sama sekali nggak bawa-bawa nama lembaga pendidikannya dulu. Tapi bisa-bisanya tuh lembaga mengklaim bahwa anak didiknya bisa seberhasil itu berkat mereka 100%, dengan memajang gambar-gambar mereka. Ingat, jangan tertipu iklan. Mereka membayar luar biasa untuk beriklan di TV dan berharap mendapatkan hasil yang lebih luar biasa lagi, jadi mereka melakukan apapun yang mungkin untuk dilakukan, supaya bisa mendapatkan modal kembali.
6. Mereka menjanjikan kita akan langsung mendapatkan pekerjaan / pasti siap kerja. NON SENSE !!! Bayangkan aja betapa malesnya kita belajar kalo di awal sudah dijanjikan seperti ini. Lulusan PTN dengan IPK memuaskan aja masih banyak yang nganggur, belum lagi yang dari PTS, apalagi lulusan sebuah lembaga pendidikan profesi. Bagaimana mereka akan me-maintenance siswa lama, jika mereka sibuk mengejar kuota siswa baru setiap tahunnya. Pasti kita akan terbengkalai, dan saat itulah dirasakan pedihnya janji mereka.
7. Masalah yang nggak kalah bikin pusingnya, adalah sertifikat kelulusan. S E R T I F I K A T, bukan ijazah !!! Itu berarti kuliah kita hanya diakui sebagai kursus biasa khusunya di perusahaan yang tidak / belum mengenal lembaga tersebut, apalagi buat ngelamar di instansi pemerintahan (CPNS misalnya), ya jelas ditolak mentah-mentah. Hal ini jugalah yang membuat sebagian alumninya meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih pasti. Buat apa skill yang mumpuni jika perusahaan tidak mengakui kredibilitas sertifikat lembaga tersebut? Padahal syarat utama lulus seleksi administratif adalah mengenai ijazah. Jangan heran kalau dibuat ngelamar nanti, diantara 30 berkas yang dikirim, cuman 1 atau 2 aja yang merespon, lainnya? (Anda tau jawabannya).

Hahhhh… pusing deh (sambil geleng-geleng kepala). Ngomongin tentang lembaga pendidikan profesi kayak jamur, nggak ada habisnya (nyambung nggak ya?).

Jaman sekarang, pendidikan, apapun itu, nggak ada yang murah. Minimal kita bisa mendapatkan kembali apa sudah kita keluarkan, jangan sampai kita merugi dan tertipu, lebih bagus lagi kalu hasilnya bisa lebih. Tapi semua kembali kepada diri Anda sendiri sebagai pelaku / calon pelakunya.

Kalau dilihat-lihat dari tadi (dari awalnya), kayaknya isinya jelek melulu. Nggak, bukan gitu. Bukan maksudnya menghasut / memfitnah. Tapi saya berusaha membuka mata Anda dari serangan bertubi-tubi promosi indah mereka. Jelas saja mereka nggak mungkin membuka kekurangan sendiri, yang ada malah kelebihan yang berlebihan yang ditonjolkan. Bahwa dibalik itu semua tersimpan sesuatu yang tersembunyi, sebab tujuan mereka adalah untuk berbisinis, bukan murni untuk mendidik. Dan dibalik setiap bisnis, terdapat tipu muslihat, tidak ada bisnis jika tidak ada keuntungan yang diperoleh.

Jadi, buka mata dan telinga anda lebar-lebar, lalu gunakan hati untuk merasakan dan pikiran untuk menilai, sehingga Anda bisa memutuskan dengan jernih tanpa campur tangan “gendam” mereka. Dan jangan lupa, berdo’a ya………… semoga diberi pilihan yang terbaik, dan kalaupun harus menyesal, tidak terlalu dalam.

2 Tanggapan to “Lembaga Pendidikan Profesional Yang Secara Profesional Membahayakan”

  1. kp2t Says:

    saya rasa isinya ngawur saja. Kuliah di PTN/PTS kalau tidak punya jiwa pekerja keras akan nganggur juga…. lulusan LPP kalau di pupuk dengan jiwa pekerja keras akan punya kerjaan yang bagus juga…. ;p

    Suka

  2. pttgk Says:

    2012 Kemendikbud menutup pengajuan pendirian PTS/PTN jenjang D3 dan S1, justru Kemendikbud membuka program AK ( Pendidikan setara D1 dan D2 / Program yang dikembangkan oleh LPP) hal ini membuktikan bahwa PTS/PTN jenjang D3 dan S1 lebih banyak mencetak Alumni yang menganggur karena tidak memiliki skil untuk kerja langsung (banyak Teori) sedang LPP banyak melahirkan wirausahawan baru karena di didik dengan ilmu praktek yang bisa dipraktekkan di dunia kerja langsung, jadi kami sarankan penulis untuk kuliah dulu di LPP biar dapat kerjaan. bukan kerjaaannya mengarang tulisan yang tidak berdasar ilmiah (ngelantur) , he…..

    Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: